KINERJA PERINDUSTRIAN

PMI Manufaktur Indonesia Salip Rata-Rata Dunia & Asean, Ini Alasannya

Redaksi DDTCNews
Selasa, 11 Oktober 2022 | 12.30 WIB
PMI Manufaktur Indonesia Salip Rata-Rata Dunia & Asean, Ini Alasannya

Pekerja menyelesaikan pembuatan kapal di galangan kapal Telaga Punggur, Batam, Kepulauan Riau, Sabtu (10/9/2022). ANTARA FOTO/Teguh Prihatna/rwa.

JAKARTA, DDTCNews - Kinerja manufaktur domestik yang tercermin pada skor Purchasing Managers Index (PMI) menunjukkan tren peningkatan. Skor PMI manufaktur pada September 2022 tercatat 53,7, naik dari capaian bulan sebelumnya sebesar 51,7. 

Hasil survei lembaga pemeringkat S&P Global pada September 2022 menunjukkan tingkat ekspansi sektor manufaktur Indonesia pada periode ini merupakan yang tercepat dalam 8 bulan dan terpantau solid secara keseluruhan. 

"Peningkatan PMI manufaktur Indonesia kali ini disebabkan oleh kemampuan Industri. Antara lain karena adanya efisiensi pemanfataan teknologi, peningkatan kemampuan SDM industri, dan kemudahan akses terhadap bahan baku," ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasmita, dikutip Selasa (11/10/2022). 

Selain alasan di atas, perbaikan industri manufaktur saat ini juga didukung masuknya Indonesia dalam Trade, Investment, and Industry Working Group G-20. Keterlibatan Indonesia dalam grup di bawah G-20 tersebut mendongkrak persepsi pengusaha atas prospek manufaktur Indonesia.

Kinerja PMI manufaktur Indonesia pada September 2022 bahkan melampaui skor rata-rata Asean, bahkan dunia. PMI manufaktur Indonesia masih lebih tinggi ketimbang skor rata-rata dunia sebesar 50,3, PMI Asean sebesar 53,5, Malaysia sebesar 49,1, Jepang 50,8, atau Korea Selatan dengan skor PMI manufakturnya sebesar 47,6. 

"Peningkatan industri dapat dilihat pada industri elektronika, industri bahan galian nonlogam, serta industri mesin dan perlengkapan YTDL (yang tidak termasuk dalam lainnya)," kata Agus. 

Pada industri elektronika, kenaikan terutama terjadi pada produksi produk laptop untuk memenuhi permintaan realisasi belanja pemerintah yang mewajibkan pembelian produk dalam negeri. Sementara kenaikan produksi industri bahan galian nonlogam yang meliputi produk semen, keramik, dan kaca dipengaruhi meningkatnya permintaan untuk kebutuhan pembangunan infrastruktur oleh pemerintah, serta properti oleh para pengembang. 

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan kenaikan PMI manufaktur menandakan peningkatan produksi dan ekspansi permintaan domestik. Menurutnya, kenaikan PMI Manufaktur menjadi sinyal ekonomi nasional terus membaik di tengah ketidakpastian global.

"Hari ini PMI kita naik. Kalau dibandingkan banyak negara G-20 dan Asean, hanya sedikit yang masih bisa naik karena banyak yang revise ke bawah," kata menkeu awal Oktober ini. (sap)

Cek berita dan artikel yang lain di Google News.
Bagikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.