Fokus
Literasi
Rabu, 10 Agustus 2022 | 17:30 WIB
KAMUS PAJAK
Senin, 08 Agustus 2022 | 18:30 WIB
KAMUS KEPABEANAN
Jum'at, 05 Agustus 2022 | 17:27 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Jum'at, 05 Agustus 2022 | 12:00 WIB
TIPS PAJAK
Data & Alat
Rabu, 10 Agustus 2022 | 09:07 WIB
KURS PAJAK 10 AGUSTUS - 16 AGUSTUS 2022
Rabu, 03 Agustus 2022 | 09:25 WIB
KURS PAJAK 3 AGUSTUS - 9 AGUSTUS 2022
Senin, 01 Agustus 2022 | 16:00 WIB
KMK 39/2022
Rabu, 27 Juli 2022 | 09:09 WIB
KURS PAJAK 27 JULI - 2 AGUSTUS 2022
Reportase

Penting untuk Wajib Pajak, Kelola Risiko Kepatuhan Anda

A+
A-
2
A+
A-
2
Penting untuk Wajib Pajak, Kelola Risiko Kepatuhan Anda

Assistant Manager Tax Compliance & Litigation Services DDTC Riyhan Juli Asyir memaparkan materi dalam webinar bertajuk Managing Potential Tax Risks and Request of Information (SP2DK). (tangkapan layar Zoom)

JAKARTA, DDTCNews - Otoritas telah menerapkan skema Compliance Risk Management (CRM) untuk memetakan risiko kepatuhan wajib pajak. Merespons kondisi ini, wajib pajak harus dapat mengelola risiko kepatuhannya dengan baik.

Dalam webinar bertajuk Managing Potential Tax Risks and Request of Information (SP2DK), Assistant Manager Tax Compliance & Litigation Services DDTC Riyhan Juli Asyir mengatakan ada 4 pilar dasar risiko kepatuhan. Keempatnya adalah risiko pendaftaran, pelaporan, pembayaran, dan kebenaran pelaporan.

“Pengelolaan risiko kepatuhan yang tidak baik tentu menimbulkan dampak yang kurang baik bagi wajib pajak. Hal ini juga dapat memengaruhi reputasi wajib pajak,” ujar Riyhan, Kamis (29/7/20201).

Baca Juga: WP Tak Lunasi Tagihan Rp285 Juta, Kantor Pajak Adakan Penyitaan Aset

Penerapan CRM, sambung Riyhan, membuat wajib pajak diperlakukan lebih adil. Pasalnya, pemetaan kepatuhan wajib pajak akan berpengaruh pada perbedaan perlakuan (treatment) dari otoritas kepada wajib pajak. Simak pula ‘Pemetaan Kepatuhan Pajak Perlu Diikuti Pemberian Kepastian bagi WP’.

Dalam Renstra Ditjen Pajak (DJP) 2020-2024, otoritas akan memanfaatkan data level risiko kepatuhan wajib pajak dari CRM untuk mendukung pemeriksaan. Otoritas pada gilirannya akan memprioritaskan pengujian kepatuhan kepada wajib pajak dengan risiko tinggi dan risiko menengah.

Otoritas juga akan menigkatkan kualitas pelayanan pada wajib pajak berisiko rendah. Penanganan wajib pajak akan tepat guna dan efektif sesuai dengan level risiko wajib pajak. CRM juga membantu perencanaan pegawai otoritas sesuai dengan kebutuhan penanganan setiap level risiko kepatuhan wajib pajak.

Baca Juga: Tips Menerjemahkan Dokumen Lokal Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris

Dalam kesempatan tersebut, Riyhan juga menjelaskan tentang model manajemen risiko pajak. Dia juga menjelaskan 5 faktor yang memengaruhi perilaku kepatuhan wajib pajak, yaitu bisnis, industri, sosiologis, ekonomi, dan psikologis.

“Otoritas perlu memahami faktor apa yang memengaruhi wajib pajak untuk patuh atau tidak. Ini untuk mengembangkan strategi lebih tepat, efisien, dan terarah. Makin patuh wajib pajak tentu penanganannya akan disesuaikan,” imbuh Riyhan.

Sebagai informasi, webinar yang digelar DDTC Academy ini merupakan salah satu seri dari DDTC Tax Audit & Tax Dispute Webinar Series. Acara ini diselenggarakan bersamaan dengan momentum HUT ke-14 DDTC. Ada 3 seri webinar lain yang akan diselenggarakan. Simak infonya di sini. (kaw)

Baca Juga: Catat! DJP Punya Satgas Khusus untuk Bina dan Awasi Kepatuhan UMKM

Topik : DDTC Tax Audit & Tax Dispute Webinar Series, DDTC Academy, SP2DK, kepatuhan pajak

KOMENTAR

0/1000
Pastikan anda login dalam platform dan berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

Sabtu, 30 Juli 2022 | 07:30 WIB
PROVINSI DKI JAKARTA

Warga DKI Masih Bisa Manfaatkan Diskon PBB 15% Hingga Akhir Agustus

Sabtu, 30 Juli 2022 | 06:30 WIB
KEPATUHAN PAJAK

Hindari Uji Kepatuhan 'Zonk', CRM Perlu Input Data yang Berkualitas

Jum'at, 29 Juli 2022 | 16:00 WIB
KEPATUHAN PAJAK

Wah! CRM Bikinan DJP Bakal Ampuh Percepat Proses Pemeriksaan Pajak

Jum'at, 29 Juli 2022 | 13:30 WIB
KP2KP NUNUKAN

Kantor Pajak Minta Akses Data Perikanan, Gali Potensi Sektor Maritim?

berita pilihan

Rabu, 10 Agustus 2022 | 19:00 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Keterbukaan Informasi Perpajakan Punya Peran dalam Menekan Korupsi

Rabu, 10 Agustus 2022 | 17:45 WIB
KEBIJAKAN KEPABEANAN

Menyimak Lagi Siasat DJBC Lindungi Perusahaan dari Pukulan Pandemi

Rabu, 10 Agustus 2022 | 17:30 WIB
KAMUS PAJAK

Apa Itu Nomor Identitas Tempat Kegiatan Usaha?

Rabu, 10 Agustus 2022 | 17:05 WIB
PER-03/PJ/2022

Upload Faktur Pajak Muncul Eror ETAX-API-10041, Perhatikan Tanggalnya

Rabu, 10 Agustus 2022 | 16:10 WIB
ADMINISTRASI PAJAK

DJP Kembangkan CRM-BI, Data Keuangan dan Aset Wajib Pajak Berperan

Rabu, 10 Agustus 2022 | 15:30 WIB
PMK 112/2022

NIK Jadi NPWP Bisa Dorong Standardisasi Identitas, Ini Alasannya

Rabu, 10 Agustus 2022 | 15:09 WIB
PER-03/PJ/2022

Isi Keterangan Jenis Barang dalam Faktur Pajak? Begini Ketentuannya

Rabu, 10 Agustus 2022 | 15:00 WIB
KPP PRATAMA BATANG

WP Tak Lunasi Tagihan Rp285 Juta, Kantor Pajak Adakan Penyitaan Aset

Rabu, 10 Agustus 2022 | 14:30 WIB
CRYPTOCURRENCY

Makin Banyak! Bappebti Rilis 383 Aset Kripto yang Legal Diperdagangkan