Trusted Indonesian Tax News Portal
DDTC Indonesia
GET
x

Meski Tarif Cukai Rokok Tetap, Ini Alasan Penerimaan Bea Cukai Moncer

3
3

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers, Rabu (2/1/2019). (foro: Kemenkeu)

JAKARTA, DDTCNews – Kendati tidak ada kebijakan kenaikan tarif cukai hasil tembakau (CHT) untuk tahun depan, penerimaan yang menjadi tanggung jawab Ditjen Bea dan Cukai pada 2018 tetap melampaui target yang telah ditetapkan.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memaparkan realisasi penerimaan kepabeanan dan cukai pada 2018 mencapai Rp205,5 triliun atau sekitar 105,9 triliun dari target APBN senilai Rp194,1 triliun. Namun, pertumbuhan penerimaan itu melambat. Pada 2017, penerimaan bea dan cukai tumbuh 7,5%, lebih tinggi dari pada tahun lalu 6,7%.

Moncernya kinerja penerimaan Ditjen Bea dan Cukai (DJBC), menurut mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini. tidak lepas dari upaya penegakan hukum atas peredaran rokok illegal. Hal tersebut berimplikasi pada setoran cukai yang menyumbang penerimaan paling besar.

Baca Juga: Dipertahankan Jadi Menkeu, Ini Penjelasan Lengkap Sri Mulyani

“Faktor yang membuat kenaikan cukai, terutama hasil tembakau, adalah kegiatan bea cukai yang sangat intensif untuk melakukan enforcement atau penanganan rokok ilegal,” katanya dalam konferensi pers, Rabu (2/1/2019).

Langkah penegakan hukum itu, lanjut Sri Mulyani, mampu mengompensasi keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan tarif cukai rokok untuk tahun depan. Seperti diketahui, ada efek pemesanan pita cukai dalam jumlah yang cukup besar di akhir tahun ketika pemerintah memutuskan kenaikan cukai CHT untuk tahun anggaran selanjutnya.

Efek forestalling itu tidak terjadi pada tahun ini. Namun, dengan penegakan hukum, pelaku usaha terdorong untuk beralih dari usaha ilegal menjadi legal dengan membeli pita cukai sesuai aturan. Angka peredaran rokok illegal pun turun dalam dua tahun terakhir dari 12% menjadi 5,1%.

Baca Juga: Presiden Jokowi Pertahankan Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan

“Penurunan rokok ilegal mencapai Rp4,7 triliun. Rokok ilegal sekarang jadi legal sehingga cukainya bisa kita kumpulkan,” imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama, Dirjen Bea dan Cukai Heru Pambudi menjabarkan realisasi pada tiga pos penerimaan yakni cukai, bea masuk dan bea keluar. Ketiganya mencatat hasil yang menggembirakan.

Heru merinci setiap pos penerimaan mulai dari cukai yang mencapai Rp159,7 triliun. Realisasi ini melampaui target yang ditetapkan, persisnya 102,8% dari target senilai Rp155,4 triliun. Jika dibedah lebih dalam, setoran cukai banyak di sumbang oleh CHT senilai Rp153 triliun.

Baca Juga: Penerimaan Tertekan, Sri Mulyani Tetap Lanjutkan Kebijakan Insentif

Selanjutnya, masih dalam penerimaan cukai, ada kontribusi dari minuman beralkohol senilai Rp6,4 triliun dan etil alkohol senilai Rp100 miliar. Sementara, cukai lainnya mencatatkan setoran serupa etil alkohol senilai Rp100 miliar.

Dua pos penerimaan terkait kepabeanan juga mampu melebihi target penerimaan. Realisasi bea masuk tercatat senilai Rp39 triliun atau 109,3% dari target sebesar Rp35,7 triliun. Selanjutnya, realisasi penerimaan bea keluar yang sepanjang tahun 2018 senilai Rp6,8 triliun. Capaian ini jauh melampaui, persisnya 225,4% dari target Rp3 triliun. (kaw)

Baca Juga: Pemerintah Luncurkan Indonesian AID, Apa Itu?

Moncernya kinerja penerimaan Ditjen Bea dan Cukai (DJBC), menurut mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini. tidak lepas dari upaya penegakan hukum atas peredaran rokok illegal. Hal tersebut berimplikasi pada setoran cukai yang menyumbang penerimaan paling besar.

Baca Juga: Dipertahankan Jadi Menkeu, Ini Penjelasan Lengkap Sri Mulyani

“Faktor yang membuat kenaikan cukai, terutama hasil tembakau, adalah kegiatan bea cukai yang sangat intensif untuk melakukan enforcement atau penanganan rokok ilegal,” katanya dalam konferensi pers, Rabu (2/1/2019).

Langkah penegakan hukum itu, lanjut Sri Mulyani, mampu mengompensasi keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan tarif cukai rokok untuk tahun depan. Seperti diketahui, ada efek pemesanan pita cukai dalam jumlah yang cukup besar di akhir tahun ketika pemerintah memutuskan kenaikan cukai CHT untuk tahun anggaran selanjutnya.

Efek forestalling itu tidak terjadi pada tahun ini. Namun, dengan penegakan hukum, pelaku usaha terdorong untuk beralih dari usaha ilegal menjadi legal dengan membeli pita cukai sesuai aturan. Angka peredaran rokok illegal pun turun dalam dua tahun terakhir dari 12% menjadi 5,1%.

Baca Juga: Presiden Jokowi Pertahankan Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan

“Penurunan rokok ilegal mencapai Rp4,7 triliun. Rokok ilegal sekarang jadi legal sehingga cukainya bisa kita kumpulkan,” imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama, Dirjen Bea dan Cukai Heru Pambudi menjabarkan realisasi pada tiga pos penerimaan yakni cukai, bea masuk dan bea keluar. Ketiganya mencatat hasil yang menggembirakan.

Heru merinci setiap pos penerimaan mulai dari cukai yang mencapai Rp159,7 triliun. Realisasi ini melampaui target yang ditetapkan, persisnya 102,8% dari target senilai Rp155,4 triliun. Jika dibedah lebih dalam, setoran cukai banyak di sumbang oleh CHT senilai Rp153 triliun.

Baca Juga: Penerimaan Tertekan, Sri Mulyani Tetap Lanjutkan Kebijakan Insentif

Selanjutnya, masih dalam penerimaan cukai, ada kontribusi dari minuman beralkohol senilai Rp6,4 triliun dan etil alkohol senilai Rp100 miliar. Sementara, cukai lainnya mencatatkan setoran serupa etil alkohol senilai Rp100 miliar.

Dua pos penerimaan terkait kepabeanan juga mampu melebihi target penerimaan. Realisasi bea masuk tercatat senilai Rp39 triliun atau 109,3% dari target sebesar Rp35,7 triliun. Selanjutnya, realisasi penerimaan bea keluar yang sepanjang tahun 2018 senilai Rp6,8 triliun. Capaian ini jauh melampaui, persisnya 225,4% dari target Rp3 triliun. (kaw)

Baca Juga: Pemerintah Luncurkan Indonesian AID, Apa Itu?
Topik : bea cukai, kepabeanan, Heru Pambudi, APBN 2018, Sri Mulyani
Komentar
Dapatkan hadiah berupa smartphone yang diberikan kepada satu orang pemenang dengan komentar terbaik. Pemenang akan dipilih oleh redaksi setiap dua pekan sekali. Ayo, segera tuliskan komentar Anda pada artikel terbaru kanal debat DDTCNews! #MariBicara
*Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
1000 karakter tersisa
artikel terkait
Selasa, 22 Oktober 2019 | 18:36 WIB
INSENTIF FISKAL
Selasa, 22 Oktober 2019 | 17:59 WIB
RAPAT TAHUNAN KE-49 SGATAR
Selasa, 22 Oktober 2019 | 17:07 WIB
PP 45/2019
Selasa, 22 Oktober 2019 | 15:18 WIB
INSENTIF FISKAL
berita pilihan
Selasa, 22 Oktober 2019 | 18:36 WIB
INSENTIF FISKAL
Selasa, 22 Oktober 2019 | 17:59 WIB
RAPAT TAHUNAN KE-49 SGATAR
Selasa, 22 Oktober 2019 | 17:07 WIB
PP 45/2019
Selasa, 22 Oktober 2019 | 15:18 WIB
INSENTIF FISKAL
Selasa, 22 Oktober 2019 | 14:40 WIB
INSENTIF FISKAL
Selasa, 22 Oktober 2019 | 11:47 WIB
OTORITAS FISKAL
Selasa, 22 Oktober 2019 | 10:42 WIB
OTORITAS FISKAL
Selasa, 22 Oktober 2019 | 08:44 WIB
BERITA PAJAK HARI INI
Senin, 21 Oktober 2019 | 22:32 WIB
PEMILIHAN KETUA BPK
Senin, 21 Oktober 2019 | 17:26 WIB
SURAT BERHARGA NEGARA