Berita
Sabtu, 15 Agustus 2020 | 16:01 WIB
KEBIJAKAN FISKAL
Sabtu, 15 Agustus 2020 | 15:01 WIB
IMPOR BARANG
Sabtu, 15 Agustus 2020 | 13:01 WIB
RAPBN 2021
Sabtu, 15 Agustus 2020 | 12:01 WIB
BANTUAN SOSIAL
Review
Jum'at, 14 Agustus 2020 | 11:00 WIB
TAJUK PAJAK
Rabu, 12 Agustus 2020 | 14:34 WIB
KONSULTASI PAJAK
Selasa, 11 Agustus 2020 | 09:20 WIB
OPINI PAJAK
Minggu, 09 Agustus 2020 | 09:00 WIB
KEPALA KKP PRATAMA JAKARTA MAMPANG PRAPATAN IWAN SETYASMOKO:
Fokus
Literasi
Jum'at, 14 Agustus 2020 | 18:09 WIB
KEBIJAKAN PAJAK
Jum'at, 14 Agustus 2020 | 17:26 WIB
KAMUS PAJAK
Jum'at, 14 Agustus 2020 | 16:17 WIB
TIPS PAJAK
Kamis, 13 Agustus 2020 | 17:19 WIB
AKTIVITAS PEREKONOMIAN
Data & alat
Rabu, 12 Agustus 2020 | 09:14 WIB
KURS PAJAK 12 AGUSTUS-18 AGUSTUS 2020
Selasa, 11 Agustus 2020 | 14:30 WIB
STATISTIK PENGHINDARAN PAJAK
Jum'at, 07 Agustus 2020 | 15:54 WIB
STATISTIK WITHHOLDING TAX
Rabu, 05 Agustus 2020 | 08:57 WIB
KURS PAJAK 5 AGUSTUS-11 AGUSTUS 2020
Komunitas
Sabtu, 15 Agustus 2020 | 14:01 WIB
MICHAEL BUERK:
Sabtu, 15 Agustus 2020 | 09:00 WIB
KOMIK PAJAK
Kamis, 13 Agustus 2020 | 17:08 WIB
DDTC PODTAX
Rabu, 12 Agustus 2020 | 10:42 WIB
KOMIK PAJAK
Reportase

Koreksi Biaya Sandar Pelabuhan dan Kredit Pajak Jasa Konstruksi

A+
A-
0
A+
A-
0
Koreksi Biaya Sandar Pelabuhan dan Kredit Pajak Jasa Konstruksi

RESUME Putusan Peninjauan Kembali (PK) ini merangkum sengketa pajak mengenai koreksi objek pajak penghasilan (PPh) Pasal 23 berupa biaya sandar pelabuhan dan kredit pajak atas jasa konstruksi.

Otoritas pajak menyatakan bahwa hasil perhitungan biaya sandar pelabuhan yang diperolehnya lebih besar dari nilai yang telah dilaporkan oleh wajib pajak. Pembayaran biaya sandar tersebut dianggap sebagai objek PPh Pasal 23, tetapi wajib pajak belum melaporkannya dalam surat pemberitahuan (SPT).

Wajib pajak berdalil bahwa atas sejumlah biaya sandar yang dibayarkan kepada pihak layanan pelayaran, sebagian merupakan objek PPh Pasal 23 dan ada juga yang bukan objek PPh Pasal 23. Wajib pajak juga tidak setuju dengan koreksi kredit pajak yang dilakukan otoritas pajak karena tidak sesuai dengan fakta dan data yang ada.

Baca Juga: Sengketa atas Biaya Overhead Allocation Sebagai Objek PPh Pasal 26

Pada tingkat banding, Majelis Hakim Pengadilan Pajak memutuskan mengabulkan sebagian permohonan banding yang diajukan wajib pajak. Sementara itu, di tingkat PK, Mahkamah Agung menolak permohonan dari otoritas pajak selaku Pemohon PK.

Apabila tertarik membaca putusan ini lebih lengkap, kunjungi laman Direktori Putusan Mahkamah Agung atau di sini.

Kronologi
WAJIB pajak mengajukan banding ke Pengadilan Pajak atas keberatannya terhadap penetapan otoritas pajak. Majelis Hakim Pengadilan Pajak menyatakan bahwa terdapat dua pokok sengketa dalam perkara ini, yaitu koreksi negatif objek PPh Pasal 23 masa pajak Januari sampai dengan Desember 2008 dan koreksi kredit pajak PPh Pasal 23.

Baca Juga: Sengketa Biaya Perawatan Mesin dan Pabrik Pengurang Penghasilan Bruto

Pertama, terkait koreksi objek PPh Pasal 23. Majelis Hakim Pengadilan Pajak menilai bahwa pembayaran sebesar Rp2.227.889.491 kepada perusahaan pelayaran bukan merupakan biaya sandar pelabuhan yang dapat dipungut PPh Pasal 23. Dengan demikian, terbukti bahwa terdapat sebagian pembayaran biaya sandar pelabuhan yang tidak termasuk objek PPh Pasal 23.

Kedua, terkait koreksi kredit pajak PPh Pasal 23. Adanya perbedaan penghitungan kredit pajak jasa konstruksi antara wajib pajak dan otoritas pajak terjadi pada Februari. Majelis Hakim meyakini perhitungan kredit pajak berdasar fakta data dan keterangan yang ada ialah senilai Rp576.545.747.

Atas permohonan tersebut, Majelis Hakim Pengadilan Pajak mengabulkan sebagian permohonan Pemohon Banding. Dengan keluarnya Putusan Pengadilan Pajak No. Put. 58589/PP/M.VIB/12/2014 tertanggal 17 Desember 2014, otoritas pajak mengajukan upaya hukum PK secara tertulis ke kepaniteraan Pengadilan Pajak pada 20 Maret 2015.

Baca Juga: Sengketa Biaya Remburs Sewa Gedung Sebagai Objek PPh Pasal 4 ayat (2)

Adapun pokok sengketa perkara a quo adalah koreksi negatif objek PPh Pasal 23 masa pajak Januari sampai Desember 2008 dan koreksi kredit pajak PPh Pasal 23.

Pendapat Pihak yang Bersengketa
PEMOHON PK menyatakan keberatan atas pertimbangan hukum Majelis Hakim Pengadilan Pajak. Terdapat dua pokok sengketa dalam perkara a quo, yaitu koreksi negatif objek PPh Pasal 23 masa pajak Januari sampai dengan Desember 2008 dan koreksi kredit pajak PPh Pasal 23.

Berdasarkan matriks sengketa yang diserahkan oleh Termohon PK dalam persidangan, diketahui bahwa adanya sejumlah biaya sandar pelabuhan yang seharusnya terutang PPh Pasal 23 dan belum dilaporkan dalam SPT. Sebagai informasi, biaya sandar pelabuhan merupakan biaya yang dikeluarkan untuk kebutuhan pengakutan barang jadi, terminal handling charge, dan document fee.

Baca Juga: Sengketa Pajak atas Penyerahan Jasa Perdagangan di Luar Daerah Pabean

Dalam proses uji bukti, Pemohon PK telah melakukan penelitian mengenai rincian biaya sandar pelabuhan serta dokumen lainnya yang disampaikan oleh Termohon PK. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa jumlah biaya sandar pelabuhan yang dibayarkan oleh Termohon kepada pihak perusahaan pelayaran lebih besar daripada nilai yang telah dilaporkan dalam SPT. Artinya, terdapat sebagian biaya sandar yang merupakan objek PPh Pasal 23 yang belum dilaporkan dan dipenuhi kewajiban perpajakannya.

Kedua, koreksi kredit pajak PPh Pasal 23. Pemohon PK berpendapat bahwa koreksi negatif terjadi dikarenakan sebelumnya terdapat koreksi negatif atas suatu transaksi lainnya yang telah direklasifikasi menjadi objek PPh Pasal 4 ayat (2). Pemohon PK berpendapat bahwa koreksi yang dilakukannya sudah berdasarkan data dan fakta yang diajukan selama proses pemeriksaan berlangsung.

Sebaliknya, Termohon PK menyatakan bahwa dalil-dalil yang diucapkan Pemohon dalam persidangan tidak berdasarkan bukti dan fakta. Perlu diketahui bahwa dalam uji bukti, Termohon PK telah menyampaikan daftar biaya sandar pelabuhan.

Baca Juga: Sengketa atas Kewajaran Transaksi Pembayaran Royalti Kepada Afiliasi

Atas jumlah biaya sandar tersebut sebagian merupakan objek PPh Pasal 23, tetapi ada juga yang bukan merupakan objek PPh Pasal 23. Selain itu, Termohon PK juga tidak setuju dengan koreksi kredit pajak yang dilakukan Pemohon PK.

Pertimbangan Mahkamah Agung
MAHKAMAH Agung berpendapat bahwa alasan-alasan permohonan Pemohon PK tidak dapat dibenarkan. Putusan Pengadilan Pajak yang menyatakan mengabulkan sebagian banding sehingga pajak yang masih harus dibayar menjadi nihil sudah tepat dan benar. Terdapat beberapa pertimbangan Mahkamah Agung.

Pertama, koreksi negatif objek PPh Pasal 23 masa pajak Januari sampai dengan Desember 2008 dan koreksi atas PPh Pasal 23 tidak dapat dibenarkan. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat biaya sandar pelabuhan yang dapat dikenakan PPh Pasal 23 dan ada sebagian yang tidak dapat dipungut PPh Pasal 23.

Baca Juga: Sengketa Jasa Teknik, Manajemen, dan Konstruksi Belum Dipotong PPh

Setelah meneliti dan menguji kembali dalil-dalil yang diajukan dalam persidangan, dalil Pemohon PK tidak dapat menggugurkan fakta-fakta dan melemahkan bukti-bukti yang terungkap dalam persidangan serta pertimbangan hukum Majelis Hakim Pengadilan Pajak.

Kedua, penetapan jumlah kredit pajak atas jasa konstruksi oleh Majelis Hakim Pengadilan Pajak sudah benar. Oleh karena itu, koreksi yang dilakukan Pemohon PK tidak dapat dipertahankan karena tidak sesuai dengan fakta dan ketentuan yang berlaku.

Berdasarkan pertimbangan di atas, Majelis Hakim Agung permohonan PK tidak beralasan sehingga harus ditolak. Pemohon PK dinyatakan sebagai pihak yang kalah dan dihukum untuk membayar biaya perkara.*

Baca Juga: Sengketa Penetapan Tarif atas Pembayaran Dividen kepada WPLN

(Disclaimer)
Topik : resume putusan, pengadilan pajak, sengketa, PPh Pasal 23, biaya sandar pelabuhan, jasa konstruksi
Komentar
Dapatkan hadiah berupa uang tunai yang diberikan kepada satu orang pemenang dengan komentar terbaik. Pemenang akan dipilih oleh redaksi setiap dua pekan sekali. Ayo, segera tuliskan komentar Anda pada artikel terbaru kanal debat DDTCNews! #MariBicara
*Baca Syarat & Ketentuan di sini
0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.
artikel terkait
Senin, 06 Juli 2020 | 07:58 WIB
BERITA PAJAK HARI INI
Jum'at, 03 Juli 2020 | 19:03 WIB
SE-014/PP/2020
Jum'at, 03 Juli 2020 | 15:10 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Rabu, 01 Juli 2020 | 16:23 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
berita pilihan
Sabtu, 15 Agustus 2020 | 16:01 WIB
KEBIJAKAN FISKAL
Sabtu, 15 Agustus 2020 | 15:01 WIB
IMPOR BARANG
Sabtu, 15 Agustus 2020 | 14:01 WIB
MICHAEL BUERK:
Sabtu, 15 Agustus 2020 | 13:01 WIB
RAPBN 2021
Sabtu, 15 Agustus 2020 | 12:01 WIB
BANTUAN SOSIAL
Sabtu, 15 Agustus 2020 | 11:15 WIB
INFOGRAFIS PAJAK
Sabtu, 15 Agustus 2020 | 10:01 WIB
PROVINSI BENGKULU
Sabtu, 15 Agustus 2020 | 09:00 WIB
KOMIK PAJAK
Sabtu, 15 Agustus 2020 | 08:00 WIB
BERITA PAJAK SEPEKAN
Sabtu, 15 Agustus 2020 | 07:01 WIB
INSENTIF PAJAK