Review
Kamis, 29 September 2022 | 16:16 WIB
KONSULTASI PAJAK
Selasa, 27 September 2022 | 11:55 WIB
KONSULTASI UU HPP
Minggu, 25 September 2022 | 11:30 WIB
KEPALA BAPENDA RIAU SYAHRIAL ABDI
Kamis, 22 September 2022 | 13:53 WIB
KONSULTASI PAJAK
Fokus
Literasi
Jum'at, 30 September 2022 | 19:21 WIB
KESADARAN PAJAK
Jum'at, 30 September 2022 | 18:30 WIB
KAMUS PAJAK
Jum'at, 30 September 2022 | 16:00 WIB
TIPS PAJAK
Rabu, 28 September 2022 | 19:00 WIB
KAMUS KEPABEANAN
Data & Alat
Rabu, 28 September 2022 | 09:39 WIB
KURS PAJAK 28 SEPTEMBER - 04 OKTOBER 2022
Rabu, 21 September 2022 | 08:33 WIB
KURS PAJAK 21 SEPTEMBER - 27 SEPTEMBER 2022
Rabu, 14 September 2022 | 09:21 WIB
KURS PAJAK 14 SEPTEMBER - 20 SEPTEMBER 2022
Rabu, 07 September 2022 | 09:33 WIB
KURS PAJAK 07 SEPTEMBER - 13 SEPTEMBER
Komunitas
Sabtu, 01 Oktober 2022 | 07:00 WIB
ANIMASI PAJAK
Jum'at, 30 September 2022 | 16:15 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2022
Jum'at, 30 September 2022 | 11:54 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2022
Kamis, 29 September 2022 | 16:42 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2022
Reportase

Di Forum G-20, Indonesia Ingin Dunia Ikut Danai Agenda Perubahan Iklim

A+
A-
0
A+
A-
0
Di Forum G-20, Indonesia Ingin Dunia Ikut Danai Agenda Perubahan Iklim

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Febrio Kacaribu dalam Seminar on Strategic Issues in G-20: Exit Strategy & Scarring Effect

JAKARTA, DDTCNews - Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Febrio Kacaribu menilai agenda penanganan isu perubahan iklim membutuhkan partisipasi semua negara di dunia.

Febrio mengatakan Indonesia memiliki peran besar dalam penurunan emisi karbon. Menurutnya, pendanaan dari dunia internasional diperlukan karena dampak positif dari penurunan emisi juga akan dirasakan secara global.

"Biaya yang dibutuhkan untuk agenda climate change seharusnya biaya global, bukan hanya Indonesia. Logika ini sedang dibangun di G-20, working group-nya Sustainable Finance," katanya dalam Seminar on Strategic Issues in G-20: Exit Strategy & Scarring Effect, dikutip pada Jumat (18/2/2022).

Baca Juga: PMK Soal MAP Direvisi, Bakal Disesuaikan dengan Pasal 27C UU KUP

Febrio mengatakan Indonesia memiliki kepentingan besar dalam isu perubahan iklim dunia. Kondisi geografis Indonesia yang berbentuk kepulauan membuat negara ini rentan terhadap kenaikan muka air laut.

Di sisi lain, Indonesia juga bisa memberikan kontribusi besar dalam mencapai target penurunan emisi karbon dunia. Indonesia dalam Nationally Determined Contribution (NDC) menargetkan penurunan emisi karbon sebesar 29% dengan kemampuan sendiri dan 41% dengan dukungan internasional pada 2030. Selain itu, ada target net zero emission (NZE) pada 2060.

Febrio memaparkan terdapat sejumlah sektor yang berkontribusi besar dalam produksi karbon di Indonesia, terutama kehutanan dan energi. Sektor kehutanan berkontribusi lebih 50% produksi karbon karena menghasilkan sekitar 500 juta ton CO2.

Baca Juga: DJP Siapkan Aturan Teknis Pelaporan Repatriasi dan Investasi Harta PPS

Kemudian, sektor energi memproduksi karbon sebanyak sekitar 300 juta ton CO2. Jika pemerintah berfokus pada dua sektor itu, ia menilai penurunan produksi karbon setidaknya akan dapat mencapai 90%.

Febrio menilai langkah penurunan emisi karbon dari kehutanan sudah bagus. Berdasarkan hitungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), emisinya akan mencapai nol pada 2030. Untuk itu, pemerintah kini berfokus pada isu yang lebih berat, yaitu transisi energi, terutama listrik yang 65% di antaranya berasal dari batubara.

Transisi energi akan membutuhkan biaya besar karena harus membangun pembangkit listrik yang ramah lingkungan untuk menggantikan PLTU batubara. Adapun menurut penghitungan pemerintah, PLTU batubara baru akan memasuki periode tidak produktif pada 2056.

Baca Juga: Efek Tarif Cukai Naik, Produksi Rokok Turun 3,3% Sampai Agustus 2022

"Kami ingin [transisi energi] ini lebih cepat. Kami ingin membangun pembangkit listrik energi baru dan terbarukan, tapi juga supply and demand listrik harus terjaga," ujar Febrio.

Pemerintah sebelumnya mengestimasikan kebutuhan biaya mitigasi perubahan iklim untuk mencapai NDC mencapai Rp3.461 triliun hingga 2030. Sepanjang periode 2018-2020, alokasi belanja untuk penanganan perubahan iklim telah mencapai Rp307,94 triliun, dengan rata-rata belanja Rp102,65 triliun per tahun. (rig)

Baca Juga: Pakai Aset Negara, Sektor Perikanan Ini Kena Pajak Khusus

Cek berita dan artikel yang lain di Google News.

Topik : kepala bkf febrio, kemenkeu, agenda perubahan iklim, kesepakatan internasional, nasional

KOMENTAR

0/1000
Pastikan anda login dalam platform dan berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

Jamespet

Sabtu, 04 Juni 2022 | 13:10 WIB
a hrefhttps://expert.ru/2021/06/2/osobennosti-vybora-sluzhby-dezinfektsii/Интересная статья/a о дезинфекции помещений. Качественно и быстро проведут дезинфекцию от клопов, тараканов.
1

ARTIKEL TERKAIT

Jum'at, 30 September 2022 | 16:30 WIB
PROGRAM PENGUNGKAPAN SUKARELA

Dashboard DJP Juga Bakal Pantau Realisasi Investasi Peserta PPS

Jum'at, 30 September 2022 | 15:30 WIB
ADMINISTRASI PAJAK

Siap-Siap! Aplikasi e-SPT PPN 1107 PUT Versi 2022 Dirilis Awal Oktober

Jum'at, 30 September 2022 | 15:00 WIB
KEMENTERIAN KEUANGAN

Kemenkeu Beberkan Alasan Dibentuknya Direktorat PDRD pada DJPK

Jum'at, 30 September 2022 | 14:30 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Tidak Investasikan Dividen, Wajib Pajak Harus Setor PPh Final Sendiri

berita pilihan

Minggu, 02 Oktober 2022 | 15:00 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

PMK Soal MAP Direvisi, Bakal Disesuaikan dengan Pasal 27C UU KUP

Minggu, 02 Oktober 2022 | 14:30 WIB
PROGRAM PENGUNGKAPAN SUKARELA

DJP Siapkan Aturan Teknis Pelaporan Repatriasi dan Investasi Harta PPS

Minggu, 02 Oktober 2022 | 14:00 WIB
KEBIJAKAN CUKAI

Efek Tarif Cukai Naik, Produksi Rokok Turun 3,3% Sampai Agustus 2022

Minggu, 02 Oktober 2022 | 13:30 WIB
NORWEGIA

Pakai Aset Negara, Sektor Perikanan Ini Kena Pajak Khusus

Minggu, 02 Oktober 2022 | 13:00 WIB
INFOGRAFIS PAJAK

PPN atau PPnBM yang Tidak Dipungut Instansi Pemerintah

Minggu, 02 Oktober 2022 | 12:30 WIB
ADMINISTRASI PAJAK

Faktur Pajak atas Transaksi Bebas PPN Terlambat Dibuat, Kena Sanksi?

Minggu, 02 Oktober 2022 | 12:00 WIB
KABUPATEN KUPANG

Siap-Siap! Pemda Ini Adakan Program Pemutihan PBB Sampai 30 November

Minggu, 02 Oktober 2022 | 11:30 WIB
INGGRIS

IMF Minta Negara Eropa Ini Tidak Kucurkan Insentif Pajak

Minggu, 02 Oktober 2022 | 10:30 WIB
ADMINISTRASI PAJAK

Kapan Faktur Pajak Dibuat? Simak Lagi Aturannya di Sini

Minggu, 02 Oktober 2022 | 10:00 WIB
VIETNAM

Harga Masih Tinggi, Kadin Usulkan Pajak BBM Dihapus Sementara