JAKARTA, DDTCNews - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi rumah tangga sepanjang 2025 tumbuh sebesar 4,98%. Angka pertumbuhan itu cenderung stagnan dalam 4 tahun terakhir.
Meski stagnan, komponen konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama perekonomian nasional yang tumbuh sebesar 5,11% pada 2025. Komponen ini berkontribusi 53,88% terhadap total produk domestik bruto (PDB). Artinya, lebih dari separuh aktivitas ekonomi Indonesia berasal dari belanja masyarakat.
"Konsumsi rumah tangga terus tumbuh seiring meningkatnya aktivitas dan mobilitas masyarakat. Kelompok konsumsi yang tumbuh tinggi antara lain adalah restoran dan hotel," ujar Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, dikutip pada Sabtu (7/2/2026).
Amalia menjelaskan kenaikan konsumsi rumah tangga paling besar terjadi pada pengeluaran untuk restoran dan hotel, dengan pertumbuhan sebesar 6,38%. Peningkatan terjadi karena kegiatan wisata selama liburan meningkat tajam, khususnya perjalanan wisata yang dilakukan oleh wisatawan dalam negeri.
Kemudian, konsumsi untuk transportasi dan komunikasi juga tumbuh tinggi mencapai 6,32%. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan mobilitas masyarakat dan stimulus di bidang transportasi, seperti diskon tarif tol dan diskon tiket moda transportasi darat, laut dan udara.
Selain konsumsi, komponen berikutnya yang menjadi penyumbang pertumbuhan ekonomi terbesar adalah pembentukan modal tetap bruto (PMTB) alias investasi. Komponen ini mampu tumbuh sebesar 5,09% dan berkontribusi sebesar 28,77% terhadap PDB.
Amalia menjelaskan pertumbuhan PMTB mencerminkan kenaikan investasi. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan barang modal seperti impor barang modal berupa mesin, kenaikan kinerja produksi industri mesin, serta belanja pemerintah untuk peralatan mesin, dan impor kendaraan.
Selanjutnya, komponen ekspor tercatat tumbuh paling tinggi mencapai 7,03%. Pertumbuhan itu didorong oleh kenaikan nilai ekspor barang nonmigas dan ekspor jasa. Dari kontribusinya, komponen ekspor turut menyumbang sebesar 22,85% terhadap total PDB.
"Beberapa komoditas yang mengalami peningkatan nilai maupun volume ekspornya antara lain CPO, besi dan baja, mesin dan peralatan listrik, serta kendaraan dan bagiannya. Ekspor jasa juga meningkat salah satunya karena ada peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara," papar Amalia.
Berikutnya, konsumsi pemerintah tumbuh sebesar 2,50% dan berkontribusi sebesar 7,53% terhadap total PDB. Lalu, konsumsi LNPRT tercatat tumbuh 5,13%, dan berkontribusi sebesar 1,35% terhadap perekonomian.
Sementara itu, komponen impor yang tumbuh sebesar 4,77% justru mengalami kontraksi, dengan kontribusi terhadap PDB minus 20,54%.
"Dari sisi pengeluaran, seluruh komponen pembentuk PDB tumbuh positif di tahun 2025. Komponen dengan distribusi terbesar adalah konsumsi rumah tangga," tutup Amalia. (dik)
