JAKARTA, DDTCNews - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjamin posisi utang pemerintah dan defisit APBN masih terkendali serta berada di bawah ambang batas yang ditetapkan.
Purbaya menyebut rasio utang Indonesia terhadap PDB masih sebesar 40% atau di bawah batas maksimal rasio utang sebesar 60%. Begitu pula defisit anggaran yang masih di bawah batas yang ditetapkan sebesar 3%. Menurutnya, capaian tersebut masih sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh UU Keuangan Negara dan standar internasional.
"Jadi by the strictest international fiscal standard, kita masih oke. Kenapa Anda ribut? Saya itu yang enggak ngerti," katanya, Kamis (12/2/2026).
Sebagai informasi, defisit APBN 2025 tercatat senilai Rp695,1 triliun atau mencapai 2,92% dari PDB. Defisit ini lebih lebar dari yang ditargetkan dalam UU APBN 2025 sebesar 2,78% PDB atau senilai Rp662 triliun.
Sementara itu, posisi utang pemerintah pada akhir 2025 senilai Rp9.549,46 triliun. Dengan PDB nominal Indonesia pada 2025 senilai Rp23.821,1 triliun, artinya rasio utang pemerintah mencapai 40,08%.
Purbaya juga menuturkan kondisi utang Indonesia lebih baik ketimbang negara-negara lain seperti Jerman yang rasio utangnya hampir tembus 100% dari PDB.
Di samping itu, dia memastikan akan tetap menjaga defisit anggaran di bawah 3%. Caranya, menggenjot penerimaan perpajakan dan mengoptimalisasi belanja negara. Dengan menjaga defisit APBN, pemerintah tidak perlu menambah plafon utang untuk membiayai berbagai program.
"Saya enggak akan melewati batas [defisit APBN] yang 3% itu, karena kan saya bisa hitung. Misal, prediksi pajak saya sampai akhir tahun berapa dengan data yang ada ya harusnya makin clear. Saya bisa hitung berapa anggaran yang bisa saya kurangi, jadi masalah defisit tuh sesuatu yang bisa kita kontrol," ucap Purbaya.
Selain menjaga utang dan defisit APBN, Purbaya juga berjanji untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional. Untuk mewujudkan target tersebut, dia akan menggerakkan motor-motor pertumbuhan melalui sektor fiskal, moneter, dan sektor swasta.
"Sekarang kita semuanya jalan, semua engine saya harapkan hidup, private sector, government sector, didukung oleh central bank kita semua. Jadi kita semakin baik ke depan," tutup Menkeu. (dik)
