Trusted Indonesian Tax News Portal
DDTC Indonesia
GET
x

Berhenti Merokok Karena Pajak Rokok?

0
0

RIYADH, DDTCNews – Kenaikan harga rokok sebesar 50% yang berlaku sejak 11 Juni 2017 terbukti sangat efektif dalam menurunkan konsumsi rokok. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan Kerajaan Arab Saudi, jumlah perokok yang mengunjungi klinik kesehatan khusus bantuan berhenti merokok meningkat drastis.

Kepala Divisi Penghentian Merokok Kementerian Kesehatan Sharifa Al-Zahrani mengatakan kenaikan cukai rokok yang diberlakukan pemerintah sudah tepat sasaran dan sangat berguna bagi masyarakat, terutama karena dapat mencegah anak muda untuk merokok.

“Jumlah orang-orang yang mencari bantuan untuk berhenti merokok melonjak hingga 213% selama tiga bulan terakhir dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu,” pungkasnya, Senin (16/10).

Baca Juga: Pengenaan Pajak 100% atas Shisha Tuai Kritik di Media Sosial

Sebagai informasi, kerajaan juga telah menyediakan 160 klinik kesehatan khusus untuk mendukung jalannya kebijakan tersebut. Kementerian Kesehatan pun berencana untuk menambah 40 klinik dan memperkirakan tahun depan kunjungan para perokok akan lebih ramai lagi.

Seperti dilansir dari arabnews.com, asosiasi anti tembakau dan narkotika yang dikenal dengan nama Kafa menyatakan bahwa pemerintah bijak dengan menaikkan cukai rokok dan hal ini merupakan sebuah langkah besar.

Ketua Kafa Ibrahim Al-Hamdan mengatakan dengan adanya kebijakan ini, akan semakin banyak orang-orang di Arab Saudi yang akan berhenti merokok. Ia mencontohkan seperti di Amerika Serikat yang jumlah perokoknya terus turun dari 40% menjadi 18% dalam tiga dekade terakhir.

Baca Juga: Bongkar Kasus Perdagangan Ilegal Anak Anjing, HMRC Kantongi £5 Juta

Sementara itu, Direktur Unit Pajak Selektif dari Otoritas Zakat dan Pajak (General Authority of Zakat and Tax/GAZT) Khalid Khurais mengatakan penerapan pajak rokok merupakan salah satu upaya untuk menutup defisit anggaran yang disebabkan oleh anjloknya harga minyak.

“Kami memperkirakan pajak rokok ini akan dapat meraup tambahan penerimaan antara SAR8 miliar hingga SAR10 miliar per tahunnya,” ungkap Khalid. (Gfa)

Baca Juga: Penerapan PPN Disinyalir Tekan Inflasi

“Jumlah orang-orang yang mencari bantuan untuk berhenti merokok melonjak hingga 213% selama tiga bulan terakhir dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu,” pungkasnya, Senin (16/10).

Baca Juga: Pengenaan Pajak 100% atas Shisha Tuai Kritik di Media Sosial

Sebagai informasi, kerajaan juga telah menyediakan 160 klinik kesehatan khusus untuk mendukung jalannya kebijakan tersebut. Kementerian Kesehatan pun berencana untuk menambah 40 klinik dan memperkirakan tahun depan kunjungan para perokok akan lebih ramai lagi.

Seperti dilansir dari arabnews.com, asosiasi anti tembakau dan narkotika yang dikenal dengan nama Kafa menyatakan bahwa pemerintah bijak dengan menaikkan cukai rokok dan hal ini merupakan sebuah langkah besar.

Ketua Kafa Ibrahim Al-Hamdan mengatakan dengan adanya kebijakan ini, akan semakin banyak orang-orang di Arab Saudi yang akan berhenti merokok. Ia mencontohkan seperti di Amerika Serikat yang jumlah perokoknya terus turun dari 40% menjadi 18% dalam tiga dekade terakhir.

Baca Juga: Bongkar Kasus Perdagangan Ilegal Anak Anjing, HMRC Kantongi £5 Juta

Sementara itu, Direktur Unit Pajak Selektif dari Otoritas Zakat dan Pajak (General Authority of Zakat and Tax/GAZT) Khalid Khurais mengatakan penerapan pajak rokok merupakan salah satu upaya untuk menutup defisit anggaran yang disebabkan oleh anjloknya harga minyak.

“Kami memperkirakan pajak rokok ini akan dapat meraup tambahan penerimaan antara SAR8 miliar hingga SAR10 miliar per tahunnya,” ungkap Khalid. (Gfa)

Baca Juga: Penerapan PPN Disinyalir Tekan Inflasi
Topik : berita pajak internasional, arab saudi, pajak rokok
Komentar
Dapatkan hadiah berupa smartphone yang diberikan kepada satu orang pemenang dengan komentar terbaik. Pemenang akan dipilih oleh redaksi setiap dua pekan sekali. Ayo, segera tuliskan komentar Anda pada artikel terbaru kanal debat DDTCNews! #MariBicara
*Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
1000 karakter tersisa
artikel terkait
Senin, 31 Desember 2018 | 14:35 WIB
ZIMBABWE
Kamis, 28 Desember 2017 | 17:12 WIB
HONG KONG
Minggu, 30 September 2018 | 20:33 WIB
OECD INCLUSIVE FRAMEWORK ON BEPS
Jum'at, 28 September 2018 | 12:32 WIB
KASUS PENGHINDARAN PAJAK
berita pilihan
Jum'at, 11 November 2016 | 17:27 WIB
BRASIL
Kamis, 08 Juni 2017 | 14:18 WIB
ARAB SAUDI
Rabu, 05 Oktober 2016 | 12:33 WIB
AFRIKA SELATAN
Jum'at, 21 Oktober 2016 | 10:03 WIB
SUDAN SELATAN
Kamis, 08 Juni 2017 | 16:55 WIB
BANGLADESH
Jum'at, 21 Oktober 2016 | 12:01 WIB
ITALIA
Kamis, 30 Maret 2017 | 11:35 WIB
INDIA
Jum'at, 14 Juli 2017 | 09:33 WIB
PRANCIS
Kamis, 08 Juni 2017 | 18:36 WIB
UNI EMIRAT ARAB
Jum'at, 05 Mei 2017 | 11:39 WIB
ITALIA