Review
Rabu, 13 Januari 2021 | 15:23 WIB
KONSULTASI PAJAK
Selasa, 12 Januari 2021 | 12:27 WIB
OPINI PAJAK
Minggu, 10 Januari 2021 | 09:01 WIB
KEPALA KANWIL DJP JAKARTA PUSAT ESTU BUDIARTO:
Rabu, 06 Januari 2021 | 16:38 WIB
KONSULTASI PAJAK
Fokus
Literasi
Senin, 18 Januari 2021 | 17:51 WIB
KAMUS PAJAK
Senin, 18 Januari 2021 | 15:54 WIB
TAX HOLIDAY (6)
Jum'at, 15 Januari 2021 | 17:37 WIB
KAMUS KEPABEANAN
Jum'at, 15 Januari 2021 | 17:20 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Data & Alat
Senin, 18 Januari 2021 | 09:10 WIB
STATISTIK PAJAK KONSUMSI
Rabu, 13 Januari 2021 | 17:05 WIB
STATISTIK ADMINISTRASI PAJAK
Rabu, 13 Januari 2021 | 09:30 WIB
KURS PAJAK 13 JANUARI - 19 JANUARI 2021
Jum'at, 08 Januari 2021 | 18:40 WIB
STATISTIK KEBIJAKAN PAJAK
Komunitas
Minggu, 17 Januari 2021 | 08:01 WIB
BUDIJANTO ARDIANSJAH:
Sabtu, 16 Januari 2021 | 07:00 WIB
KOMIK PAJAK
Jum'at, 15 Januari 2021 | 16:30 WIB
UNIVERSITAS INDONESIA
Rabu, 13 Januari 2021 | 11:15 WIB
DDTC PODTAX
Reportase
Perpajakan.id

Ujian Terakhir

A+
A-
0
A+
A-
0
Ujian Terakhir

Ilustrasi. (baltimoresun.com)

SEORANG pengacara, seorang dokter, dan seorang akuntan, secara sukarela mendaftarkan diri untuk bergabung menjadi agen intelejen. Ketiganya dinyatakan telah lulus semua tes yang dipersyaratkan, dan tinggal menunggu satu tes terakhir atau tes final.

Ketiganya berada di ruang tunggu siap untuk menjalani ujian terakhir mereka. Pertama, pengacara diberikan pistol dan disuruh masuk ke ruangan untuk mengeksekusi mata-mata yang duduk di kursi. Pengacara masuk ke ruangan, melihat mata-mata itu duduk di kursi dengan mata tertutup kain.

Kemudian ia mengangkat kain penutup mata orang tersebut, dan melihat orang itu ternyata adalah istrinya! Dia bergegas meninggalkan ruangan dan mengatakan tidak bisa menembaknya. Pengacara lalu diberitahu ia telah gagal dalam tes dan tidak bisa menjadi agen intelejen.

Baca Juga: Soal RUU Pelaporan Keuangan, Ini Kata IAI

Selanjutnya giliran kedua, dokter diberikan pistol dan disuruh mengeksekusi mata-mata di dalam ruangan. Dokter masuk ke ruangan, melihat mata-mata itu duduk di kursi dengan mata tertutup kain. Dia juga mengangkat kain penutupnya dan melihat orang itu adalah istrinya.

Dengan sangat kaget bercampur heran, ia kemudian meninggalkan ruangan dan mengatakan sama sekali tidak bisa menembaknya. Sama seperti pengacara, dokter tersebut juga diberitahu ia telah gagal dan tidak bisa menjadi agen intelejen.

Giliran ketiga, sang akuntan diberikan pistol dan ia pun masuk ke ruangan. Tiba-tiba terdengar suara tembakan. Setelah itu ada gemerisik dan gedoran. Tidak berapa lama, akuntan pun keluar. “Seseorang mengosongkan pistolku sehingga aku harus mencekiknya,” katanya. (Bsi)

Baca Juga: Jembatani Wajib Pajak dengan DJP, Akuntan Punya Peran Penting

Topik : anekdot pajak, akuntan, intelejen
Komentar
0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.
artikel terkait
Sabtu, 11 April 2020 | 12:32 WIB
RESENSI JURNAL
Senin, 23 Maret 2020 | 15:13 WIB
ANEKDOT AKUNTAN
Kamis, 27 Februari 2020 | 19:45 WIB
AKUNTAN DAN KONSULTAN PAJAK
Jum'at, 14 Februari 2020 | 11:28 WIB
ANEKDOT AKUNTAN
berita pilihan
Senin, 18 Januari 2021 | 18:56 WIB
PENERIMAAN PAJAK
Senin, 18 Januari 2021 | 18:04 WIB
KABUPATEN KUDUS
Senin, 18 Januari 2021 | 17:51 WIB
KAMUS PAJAK
Senin, 18 Januari 2021 | 17:41 WIB
VAKSINASI
Senin, 18 Januari 2021 | 17:08 WIB
NUSA TENGGARA BARAT
Senin, 18 Januari 2021 | 17:03 WIB
PEMBATASAN KEGIATAN
Senin, 18 Januari 2021 | 16:48 WIB
PROVINSI RIAU
Senin, 18 Januari 2021 | 16:40 WIB
INSENTIF PAJAK
Senin, 18 Januari 2021 | 16:40 WIB
KEPATUHAN PAJAK