Review
Rabu, 13 Januari 2021 | 15:23 WIB
KONSULTASI PAJAK
Selasa, 12 Januari 2021 | 12:27 WIB
OPINI PAJAK
Minggu, 10 Januari 2021 | 09:01 WIB
KEPALA KANWIL DJP JAKARTA PUSAT ESTU BUDIARTO:
Rabu, 06 Januari 2021 | 16:38 WIB
KONSULTASI PAJAK
Fokus
Literasi
Jum'at, 15 Januari 2021 | 17:37 WIB
KAMUS KEPABEANAN
Jum'at, 15 Januari 2021 | 17:20 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Jum'at, 15 Januari 2021 | 15:31 WIB
TIPS PAJAK
Kamis, 14 Januari 2021 | 17:45 WIB
KEBIJAKAN PAJAK
Data & Alat
Rabu, 13 Januari 2021 | 17:05 WIB
STATISTIK ADMINISTRASI PAJAK
Rabu, 13 Januari 2021 | 09:30 WIB
KURS PAJAK 13 JANUARI - 19 JANUARI 2021
Jum'at, 08 Januari 2021 | 18:40 WIB
STATISTIK KEBIJAKAN PAJAK
Rabu, 06 Januari 2021 | 17:06 WIB
STATISTIK BELANJA PERPAJAKAN
Komunitas
Minggu, 17 Januari 2021 | 08:01 WIB
BUDIJANTO ARDIANSJAH:
Sabtu, 16 Januari 2021 | 07:00 WIB
KOMIK PAJAK
Jum'at, 15 Januari 2021 | 16:30 WIB
UNIVERSITAS INDONESIA
Rabu, 13 Januari 2021 | 11:15 WIB
DDTC PODTAX
Reportase
Perpajakan.id

Resesi, Hanya Konsumsi Pemerintah yang Tumbuh Positif pada Kuartal III

A+
A-
10
A+
A-
10
Resesi, Hanya Konsumsi Pemerintah yang Tumbuh Positif pada Kuartal III

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto memberikan penjelasan mengenai data realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal III/2020. (tangkapan layar Youtube)

JAKARTA, DDTCNews – Indonesia resmi mengalami resesi ekonomi karena pertumbuhan ekonomi pada kuartal III kembali minus 3,49% (yoy) setelah pada kuartal sebelumnya terkontraksi 5,32%.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan kontraksi terjadi pada hampir semua komponen pengeluaran pembentuk produk domestik bruto (PDB), kecuali konsumsi pemerintah. Adapun pertumbuhan konsumsi pemerintah pada kuartal III/2020 mencapai 9,76%, setelah pada kuartal sebelumnya minus.

"Konsumsi pemerintah tumbuh bagus sekali sebesar 9,76%," katanya melalui konferensi video, Kamis (5/11/2020).

Baca Juga: Resmi Diperpanjang! Masa Insentif Pajak PP 29/2020 Hingga 30 Juni 2021

Suhariyanto mengatakan pertumbuhan konsumsi pemerintah tersebut terjadi karena ada kenaikan realisasi belanja bantuan sosial serta belanja barang dan jasa APBN. Konsumsi pemerintah pada kuartal II/2020 tercatat minus 6,9%, sedangkan pada kuartal III/2019 tumbuh 0,98%.

Konsumsi rumah tangga menjadi sumber kontraksi yang terdalam karena bobotnya pada perekonomian mencapai 57%. Konsumsi rumah tangga mengalami kontraksi 4,04%, sedangkan kuartal sebelumnya minus 5,52% dan pada kuartal III/2019 tumbuh 5,01%.

Suhariyanto menyebut ada banyak indikator yang mencerminkan kontraksi pada komponen pengeluaran rumah tangga. Misalnya, penjualan eceran yang masih terkontraksi 9,64%, baik pada penjualan sandang, bahan bakar, aksesoris, maupun peralatan informasi dan komunikasi.

Baca Juga: Setelah Terima Vaksin, Jokowi Temui Sri Mulyani dan Erick Thohir

Ekspor barang dan jasa pada kuartal III/2020 mengalami kontraksi 10,82%. Ekspor barang tercatat terkontraksi 5,58%, sedangkan kontraksi ekspor jasa jauh lebih besar, yakni 51,75%. Menurut Suhariyanto, kontraksi itu terutama karena menurunnya jumlah wisatawan mancanegara akibat pandemi sehingga devisa yang masuk juga turun.

Impor barang dan jasa terkontraksi 21,86%, lebih dalam dibandingkan dengan kontraksi pada kuartal sebelumnya yang sebesar 16,98%. Impor barang terkontraksi 18,95%, sedangkan impor jasa kontraksi 40,16%.

Komponen pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi juga masih terkontraksi 6,48%. Kondisi ini sudah lebih baik dibandingkan kuartal sebelumnya yang minus 8,61%. Kontraksi pada PMTB yang cukup dalam terjadi pada mesin dan perlengkapan, tetapi untuk sumber daya hayati (cultivated biological resources/CBR) masih positif 23,08%.

Baca Juga: Vaksinasi Dimulai, Jokowi: Bantu Percepat Pemulihan Ekonomi

Sementara itu, komponen pengeluaran konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT) tercatat minus 2,12%. Pada kuartal sebelumnya, minusnya mencapai 7,75% dan pada kuartal III/2019 tumbuh 7,41%.

Suhariyanto menambahkan struktur PDB Indonesia menurut pengeluaran pada kuartal III/2020 tidak menunjukkan perubahan yang berarti. Perekonomian Indonesia masih didominasi oleh komponen konsumsi rumah tangga yang mencakup lebih dari separuh, persisnya 57,31%.

"Sehingga, sumber pertumbuhan konsumsi rumah tangga menyumbang minus 2,17%," ujarnya.

Baca Juga: Vaksin Gratis dari GAVI Diperkirakan Tiba Lebih Cepat, Ini Kata Menkes

Sementara struktur komponen PMTB terhadap PDB sebesar 31,12%, komponen ekspor barang dan jasa 17,47%, komponen belanja pemerintah 9,69%, dan komponen LNPRT 1,29%. Sementara itu, komponen impor barang dan jasa menjadi faktor pengurang dalam PDB dan memiliki peran sebesar 14,8%. (kaw)

Topik : resesi, perekonomian Indonesia, PDB, virus Corona, BPS, belanja pemerintah
Komentar
0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.
artikel terkait
Selasa, 22 Desember 2020 | 10:20 WIB
FOKUS AKHIR TAHUN
Selasa, 22 Desember 2020 | 10:10 WIB
FOKUS AKHIR TAHUN
Kamis, 17 Desember 2020 | 14:59 WIB
EFEK VIRUS CORONA
Kamis, 17 Desember 2020 | 14:24 WIB
PEMULIHAN EKONOMI NASIONAL
berita pilihan
Senin, 18 Januari 2021 | 08:42 WIB
KOTA MALANG
Senin, 18 Januari 2021 | 08:04 WIB
BERITA PAJAK HARI INI
Minggu, 17 Januari 2021 | 16:01 WIB
INSENTIF PEMBIAYAAN
Minggu, 17 Januari 2021 | 15:01 WIB
NIGERIA
Minggu, 17 Januari 2021 | 14:01 WIB
KABUPATEN LEBONG
Minggu, 17 Januari 2021 | 13:01 WIB
KEBIJAKAN EKONOMI
Minggu, 17 Januari 2021 | 12:01 WIB
KENYA
Minggu, 17 Januari 2021 | 11:30 WIB
PODTAX
Minggu, 17 Januari 2021 | 11:00 WIB
INFOGRAFIS PAJAK