Review
Kamis, 01 Desember 2022 | 16:52 WIB
KONSULTASI PAJAK
Rabu, 30 November 2022 | 11:27 WIB
OPINI PAJAK
Selasa, 29 November 2022 | 15:48 WIB
KONSULTASI UU HPP
Kamis, 24 November 2022 | 09:50 WIB
KONSULTASI PAJAK
Fokus
Data & Alat
Rabu, 30 November 2022 | 10:11 WIB
KURS PAJAK 30 NOVEMBER - 06 DESEMBER 2022
Rabu, 23 November 2022 | 10:00 WIB
KURS PAJAK 23 NOVEMBER - 29 NOVEMBER 2022
Rabu, 16 November 2022 | 09:45 WIB
KURS PAJAK 16 NOVEMBER - 22 NOVEMBER 2022
Rabu, 09 November 2022 | 09:09 WIB
KURS PAJAK 09 NOVEMBER - 15 NOVEMBER 2022
Reportase

Pentingnya Humor di Lingkungan Kerja Profesional Pajak

A+
A-
1
A+
A-
1
Pentingnya Humor di Lingkungan Kerja Profesional Pajak

MENGEMBAN amanah sebagai profesional pada bidang pajak, baik dari sisi pemerintah maupun swasta, jelas tidak mudah. Ada tuntutan tidak membuat kesalahan karena berisiko memunculkan kerugian. Mereka juga dikontrol dengan tenggat yang ketat dan dibebani target.

Tidak dapat dimungkiri ada risiko munculnya tekanan, bahkan memicu stres bagi sejumlah individu. Terlebih, berbagai tugas dan peran penting yang melekat pada profesional pada bidang pajak juga sering kali dikerjakan dengan personel yang terbatas.

Oleh karena itulah, kerja sama tim yang kuat menjadi kunci. Upaya untuk saling mengingatkan satu sama lain terkait dengan pekerjaan juga dibutuhkan. Upaya itu harus dilakukan dengan tindakan yang tepat tanpa harus memunculkan konflik personal di antara anggota tim.

Lantas, apa upaya yang dapat dijalankan? Tentu banyak pakar bakal memberikan amatannya. Namun, Institut Humor Indonesia Kini (IHIK3) mempunyai satu usulan yang tak kalah menarik, yakni mengadaptasi humor di lingkungan kerja.

Mengapa humor? Karena humor adalah alat manajemen yang sangat humanis. Humor coach dari Amerika Serikat Andrew Tarvin mengatakan banyak instansi dan pemimpin terlalu terobsesi dengan efektivitas kerja. Padahal, pegawai juga manusia yang mempunyai kebutuhan emosional dan bisa bekerja lebih maksimal jika ‘bekerja dengan hati’.

Nah, cara untuk mengikat secara emosi tersebut bisa melalui humor. Satu orang saja menyadari manfaat humor di lingkungan kerja dan mau mengimplementasikannya, situasi sekitarnya bisa jadi bakal berbeda.

Seperti dipaparkan Aaker & Bagdonas (2020) dalam Humor Seriously: Why Humor is a Secret Weapon in Business and Life, beragam penelitian dan praktik terkait humor di lingkungan kerja setidaknya bisa meningkatkan empat hal, yakni power atau status, kualitas hubungan baik, kreativitas, dan ketahanan terhadap stres.

Ya, humor mujarab mereduksi stres. Pada dasarnya, manusia hanya bisa merasakan satu emosi dominan dalam dirinya. Orang yang sedang senang akan susah merasa sedih, pun sebaliknya. Dengan rutin melihat video-video lucu di media sosial atau menonton film dan serial komedi, artinya Anda sedang mengontrol tingkat stres dalam ambang batas yang wajar.

Contoh lain, humor dapat meningkatkan bonding antarindividu. Humor bak jembatan yang bisa menghubungkan Anda lebih jauh dengan pribadi orang lain. Saat ada dua orang yang tertawa bersama karena humor, artinya mereka berada dalam satu referensi yang setara meskipun jabatan strukturalnya berbeda. Kondisi mental ini membuat pemimpin dan stafnya setara, sehingga bisa berkomunikasi lebih cair sebagai teman.

Atau contoh terakhir, humor bisa menjadi alat untuk menyalurkan agresivitas yang terpendam. Humor bisa mentransformasikan bentuk agresivitas fisik menjadi lebih jinak. Orang yang mungkin jadi terbiasa menyalurkannya dengan satire atau sarkasme.

Dalam konteks besarnya, bahkan filsuf humor Indonesia Arwah Setiawan menyebut humor adalah unsur dari ketahanan nasional. Agresivitas humor dianggap jauh lebih aman daripada agresivitas fisik.

Dengan demikian, ketika orang-orang diberikan keleluasaan untuk mengkritik dan mengoreksi dengan humor, ketentraman relatif bisa dikontrol. Semarah-marahnya seseorang, bisa jadi letupan agresi yang bakal muncul dari dirinya tidak akan sampai mengancam orang lain.

Support Group Jadi Opsi

IMPLEMENTASI lain dalam meningkatkan hubungan baik antarindividu adalah dengan membuat support group berbasis cerita dan humor. IHIK3 mempelajari konsep ini dari berbagai literatur dan jurnal ilmiah. Kemudian, IHIK3 menyesuaikan dengan konteks di Indonesia.

Bekerja sama dengan DDTCNews, IHIK3 dalam tiga pertemuan daring mengundang para stakeholder pajak, dari pegawai, akademisi, praktisi, sampai pensiunan pegawai, untuk saling berbagi cerita humor terkait pekerjaannya.

Program bertajuk Cerita & Humor Pajak itu sendiri juga menjadi proyek Senior Partner DDTC sekaligus co-founder IHIK3 Danny Septriadi dan peneliti IHIK3 Ulwan Fakhri dalam program Humor Academy yang sedang dijalani di Association for Applied and Therapeutic Humor (AATH).

Menariknya, IHIK3 pernah menerapkan inti konsep support group tersebut dengan skema saling berbagi dan mendengarkan cerita di suatu kantor pelayanan pajak (KPP), tepatnya di KPP Muara Bungo. Simak ‘Gandeng IHIK3, KPP Muara Bungo Belajar Asah Intelegensi Humor’.

Singkat cerita, momen tersebut menjadi kesempatan bagi seluruh pegawai KPP Muara Bungo untuk menyampaikan cerita-cerita, dari yang lucu hingga miris serta uneg-uneg terkait pekerjaan langsung, di hadapan Kepala KPP-nya. Tanpa tendensi dan prasangka apa pun.

Secara simbolik, Kepala KPP Muara Bungo Joko Galungan melepas dasinya sebagai tanda sesi tersebut adalah sesi santai, aman, sekaligus rahasia untuk bercerita dan mendengar antara sesama manusia, bukan antara staf dan pimpinan.

Kami sadar tidak banyak pihak yang punya perhatian untuk mengintervensi kenyamanan dalam bekerja lewat humor, terlebih di bidang pajak. Untuk itu, IHIK3 dan DDTCNews dengan senang hati menggelar sesi support group bertajuk Cerita & Humor Pajak kembali, jika Anda siap terlibat.

Jika Anda ingin berdiskusi lebih lanjut untuk penerapan konsep ini, silakan kontak kami melalui mailto:[email protected].

(Disclaimer)

Cek berita dan artikel yang lain di Google News.

Topik : opini, opini pajak, humor, pajak, IHIK3

KOMENTAR

0/1000
Pastikan anda login dalam platform dan berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

Rabu, 30 November 2022 | 18:03 WIB
PRANCIS

Tax Ratio Negara OECD Sanggup Tembus 34,1% Pascapandemi Covid-19

Rabu, 30 November 2022 | 17:30 WIB
KABUPATEN KUNINGAN

Dibantu Kades Hingga Camat, Setoran PBB dan BPHTB Akhirnya Capai 100%

Rabu, 30 November 2022 | 17:00 WIB
ADMINISTRASI PAJAK

DJP Ingatkan Tak Semua Hibah Tanah atau Bangunan Bebas Pajak

Rabu, 30 November 2022 | 16:00 WIB
PROVINSI SUMATERA UTARA

Jelang Penghapusan Data STNK, Pemutihan Pajak Kendaraan Diperpanjang

berita pilihan

Kamis, 01 Desember 2022 | 19:30 WIB
BEA METERAI

Dokumen yang Wajib Dikenakan Bea Meterai, Ini Sanksinya Jika Tak Lunas

Kamis, 01 Desember 2022 | 19:00 WIB
KP2KP PINRANG

Dapat SK Pensiun, ASN Diimbau Segera Ajukan Penonaktifan NPWP

Kamis, 01 Desember 2022 | 18:48 WIB
PAJAK PENGHASILAN

Soal Penghitungan PPh Natura, DJP Minta Wajib Pajak Tunggu Ini

Kamis, 01 Desember 2022 | 18:30 WIB
BEA METERAI

Awas! e-Meterai Tidak Boleh Menumpuk dengan Tanda Tangan

Kamis, 01 Desember 2022 | 18:15 WIB
KP2KP SIDRAP

Bayar PPh Final 0,5%, WP UMKM Diimbau Lakukan Pencatatan Lebih Dulu

Kamis, 01 Desember 2022 | 18:00 WIB
BADAN PUSAT STATISTIK

Ada Tren Kenaikan Harga Beras Hingga Telur Ayam Ras, Ini Kata BPS

Kamis, 01 Desember 2022 | 17:47 WIB
UPAH MINIMUM KABUPATEN/KOTA

Catat! Upah Minimum Kabupaten/Kota Diumumkan Paling Lambat Pekan Depan

Kamis, 01 Desember 2022 | 17:38 WIB
PMK 171/2022

Sri Mulyani Rilis Peraturan Baru Soal Pengelolaan Insentif Fiskal

Kamis, 01 Desember 2022 | 17:34 WIB
KABUPATEN PONOROGO

Kepatuhan WP Membaik, Penerimaan Pajak Daerah Lampaui Target

Kamis, 01 Desember 2022 | 17:18 WIB
KEBIJAKAN PEMERINTAH

Masuk Desember, Belanja Pemerintah Pusat dan Pemda Bakal Dikebut