Berita
Sabtu, 04 Desember 2021 | 12:00 WIB
PROVINSI JAWA TIMUR
Sabtu, 04 Desember 2021 | 11:30 WIB
CHINA
Sabtu, 04 Desember 2021 | 11:00 WIB
INFOGRAFIS PAJAK
Sabtu, 04 Desember 2021 | 10:30 WIB
KABUPATEN LOMBOK TENGAH
Review
Kamis, 02 Desember 2021 | 14:57 WIB
KONSULTASI PAJAK
Rabu, 01 Desember 2021 | 12:38 WIB
TAJUK PAJAK
Selasa, 30 November 2021 | 08:13 WIB
LAPORAN DDTC DARI VIENNA
Minggu, 28 November 2021 | 10:07 WIB
Kepala KPP Pratama Gianyar Moch. Luqman Hakim
Fokus
Data & Alat
Rabu, 01 Desember 2021 | 08:17 WIB
KURS PAJAK 1 DESEMBER - 7 DESEMBER 2021
Rabu, 24 November 2021 | 08:45 WIB
KURS PAJAK 24 NOVEMBER - 30 NOVEMBER 2021
Rabu, 17 November 2021 | 08:51 WIB
KURS PAJAK 17 NOVEMBER - 23 NOVEMBER 2021
Rabu, 10 November 2021 | 07:33 WIB
KURS PAJAK 10-16 NOVEMBER 2021
Komunitas
Selasa, 30 November 2021 | 11:40 WIB
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Minggu, 28 November 2021 | 19:45 WIB
UNIVERSITAS INDONESIA
Jum'at, 26 November 2021 | 16:17 WIB
AGENDA PAJAK - DDTC ACADEMY
Jum'at, 26 November 2021 | 16:13 WIB
UNIVERSITAS PARAHYANGAN
Reportase
Perpajakan.id

Pajak Karbon Gunakan Skema Tarif Minimal, Begini Penjelasannya

A+
A-
2
A+
A-
2
Pajak Karbon Gunakan Skema Tarif Minimal, Begini Penjelasannya

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara.

JAKARTA, DDTCNews - Tarif pajak karbon yang diatur dalam UU Harmonisasi Peraturan Perpajakan (HPP) merupakan tarif dasar. Besaran tarif tersebut masih terbuka untuk dilakukan penyesuaian.

Wakil Menkeu Suahasil Nazara mengungkapkan pemerintah menetapkan tarif dasar pajak karbon sebesar Rp30 per kg CO2 ekuivalen. Dia menyatakan beban tarif tersebut tidak bersifat statis dan dapat diubah sesuai kondisi pasar karbon yang berlaku.

"Tarif dalam UU tersebut adalah minimal, jadi paling rendah Rp30 per kg CO2e. Artinya tarif ini bisa disesuaikan dan memang harus disesuaikan," katanya dalam konferensi UU HPP dikutip pada Jumat (8/10/2021).

Baca Juga: Sri Mulyani Beberkan 3 Upaya Pemerintah Dorong Teknologi Digital

Suahasil menjelaskan skema pajak karbon tidak berdiri sendiri sebagai instrumen kebijakan fiskal untuk menurunkan tingkat emisi. Pungutan pajak karbon melengkapi penerapan cap & trade dalam perdagangan karbon.

Oleh karena itu, penerapan pajak karbon memerlukan dukungan infrastruktur untuk menciptakan pasar karbon dan menetapkan besaran beban pajak yang harus dibayar pelaku usaha. Kemenkeu bekerja sama dengan K/L terkait dalam penyiapan infrastruktur pasar dan pajak karbon.

Salah satu aspek yang harus dipersiapkan pada sisi infrastruktur adalah alat registrasi sektor ekonomi yang masuk dalam pasar karbon. Selanjutnya, alat yang juga dibutuhkan berkaitan dengan monitoring, reporting, and verification (MRV) dalam penerapan pajak karbon.

Baca Juga: Isu Terpopuler: Wajib Pajak UMKM Bakal Wajib Lapor Omzet Mulai 2022

"Ini memang memerlukan seperangkat infrastruktur sebagai kelengkapan yang harus ada terlebih dahulu. Harus ada registry dan MRV. Ini mulai dipersiapkan dengan KLHK dengan mengedepankan prinsip keadilan dan keterjangkauan," terangnya.

Pajak karbon muncul dalam UU HPP sebagai jenis pungutan baru. Tujuannya, mengurangi emisi dan mengubah perilaku kegiatan produksi agar lebih ramah lingkungan. Pajak karbon efektif berlaku pada 1 April 2022 dan dikenakan terhadap badan usaha yang bergerak di bidang pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara.

Terkait dengan penerapan pajak karbon, DDTCNews mengadakan debat berhadiah uang tunai senilai total Rp1 juta (masing-masing pemenang Rp500.000). Sampaikan pendapat Anda paling lambat Senin, 11 Oktober 2021 pukul 15.00 WIB pada artikel ‘Setuju dengan Pajak Karbon? Sampaikan Pendapat Anda, Rebut Hadiahnya!’. (sap)

Baca Juga: Ada UU HPP, Sri Mulyani Yakin Perpajakan Jadi Sumber Penerimaan Andal

Topik : UU HPP, RUU KUP, RUU HPP, PPh, PPN, PPN final, Sri Mulyani, pajak karbon

KOMENTAR

0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

Kamis, 02 Desember 2021 | 15:00 WIB
PRESIDENSI G-20 INDONESIA

Presidensi G-20, Indonesia Tonjolkan Komitmen Atasi Perubahan Iklim

Kamis, 02 Desember 2021 | 14:57 WIB
KONSULTASI PAJAK

Tahun Pajak 2022 Berbeda dengan Tahun Kalender, Kapan UU HPP Berlaku?

Kamis, 02 Desember 2021 | 14:30 WIB
KEBIJAKAN FISKAL

Sri Mulyani Lakukan 4 Kali Refocusing Anggaran di 2021, Ini Detailnya

Kamis, 02 Desember 2021 | 12:18 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Sri Mulyani: Reformasi Pajak Bikin Indonesia Lebih Siap Hadapi Krisis

berita pilihan

Sabtu, 04 Desember 2021 | 12:00 WIB
PROVINSI JAWA TIMUR

DPRD Minta Pemprov Naikkan Target PAD Tahun 2022, Ini Alasannya

Sabtu, 04 Desember 2021 | 11:30 WIB
CHINA

China Berencana Pajaki Penggunaan Data Perusahaan Digital

Sabtu, 04 Desember 2021 | 11:00 WIB
INFOGRAFIS PAJAK

Ketentuan Perubahan Data Wajib Pajak Badan

Sabtu, 04 Desember 2021 | 10:30 WIB
KABUPATEN LOMBOK TENGAH

Ada MotoGP, Setoran PAD 2022 Diprediksi Bakal Meroket

Sabtu, 04 Desember 2021 | 10:00 WIB
PENGAWASAN PAJAK

DJP Gencarkan Pengawasan WP Penerima Insentif, Begini Ketentuannya

Sabtu, 04 Desember 2021 | 09:00 WIB
KEBIJAKAN PEMERINTAH

Sri Mulyani Beberkan 3 Upaya Pemerintah Dorong Teknologi Digital

Sabtu, 04 Desember 2021 | 08:00 WIB
BERITA PAJAK SEPEKAN

Isu Terpopuler: Wajib Pajak UMKM Bakal Wajib Lapor Omzet Mulai 2022

Sabtu, 04 Desember 2021 | 07:00 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Ada UU HPP, Sri Mulyani Yakin Perpajakan Jadi Sumber Penerimaan Andal

Sabtu, 04 Desember 2021 | 06:30 WIB
SPANYOL

Skema Pajak Baru untuk Netflix Cs Disiapkan, Wajib Ada Alih Bahasa

Jum'at, 03 Desember 2021 | 19:30 WIB
ITALIA

Diskon Tarif PPN Listrik Diperpanjang Sampai Akhir 2021