Fokus
Data & Alat
Rabu, 18 Mei 2022 | 08:43 WIB
KURS PAJAK 18 MEI - 24 MEI 2022
Selasa, 17 Mei 2022 | 18:00 WIB
STATISTIK PAJAK MULTINASIONAL
Rabu, 11 Mei 2022 | 08:47 WIB
KURS PAJAK 11 MEI - 17 MEI 2022
Selasa, 10 Mei 2022 | 14:30 WIB
STATISTIK PENERIMAAN PAJAK
Reportase
Perpajakan ID

Neraca Dagang Juli 2021 Surplus US$2,59 miliar, Ini Penjelasan BPS

A+
A-
0
A+
A-
0
Neraca Dagang Juli 2021 Surplus US$2,59 miliar, Ini Penjelasan BPS

Kepala BPS Margo Yuwono dalam konferensi video, Rabu (18/8/2021).

JAKARTA, DDTCNews - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai neraca perdagangan Indonesia kembali melanjutkan tren surplus dalam 15 bulan terakhir. Per Juli 2021, neraca perdagangan tercatat surplus US$2,59 miliar.

Kepala BPS Margo Yuwono mengatakan surplus tersebut terjadi dikarenakan nilai ekspor mencapai US$17,70 miliar atau lebih besar dari impor senilai US$ 15,11 miliar. Menurutnya, surplus tersebut melanjutkan tren yang terjadi dalam 15 bulan terakhir.

“Capaian ini juga memberikan indikasi bahwa perekonomian kita semakin membaik karena neraca perdagangan selama 15 bulan beruntun mengalami surplus," katanya melalui konferensi video, Rabu (18/8/2021).

Baca Juga: Yellen Dukung Relaksasi Bea Masuk atas Barang-Barang Asal China

Margo menuturkan surplus neraca perdagangan Indonesia secara kumulatif dalam tahun berjalan ini telah mencapai US$14,42 miliar. Menurutnya, surplus tersebut lebih besar dibandingkan dengan periode sama tahun lalu senilai US$8,65 miliar.

Dia menyebut surplus perdagangan pada Juli 2021 terjadi pada mitra perdagangan seperti Amerika Serikat (AS) dengan surplus senilai US$1,27 miliar, Filipina US$533 juta, serta Malaysia surplus US$397,5 juta.

Sementara itu, Indonesia juga mencatat defisit neraca perdagangan dengan beberapa mitra dagang. Misal, China dengan defisit perdagangan senilai US$844,5 juta, Australia US$448,1 juta, serta Thailand US$271,1 juta.

Baca Juga: Sri Mulyani Sebut Inflasi April 2022 Tertinggi dalam 2 Tahun Terakhir

Margo memerinci nilai ekspor yang senilai US$17,70 miliar pada Juli 2021 turun 5% secara bulanan dari US$18,54 miliar pada Juni 2021. Namun, secara tahunan, angkanya naik 29% dibandingkan dengan Juli 2020 yang hanya U$13,69 miliar.

Penurunan ekspor pada Juli 2021 disebabkan turunnya ekspor minyak dan gas (migas) dan nonmigas. Ekspor migas tercatat sejumlah US$990 juta, turun 20% dibandingkan dengan bulan sebelumnya senilai US$1,23 miliar.

Sementara itu, ekspor nonmigas tercatat US$16,71 miliar, turun 3% dari bulan sebelumnya sejumlah US$17,31 miliar.

Baca Juga: Cryptocurrency Makin Populer, Negara Eropa Ini Ingin Kenakan Pajak

Margo menilai penurunan ekspor pada Juli 2021 tersebut terjadi karena faktor musiman. Menurutnya, kenaikan ekspor pada Juni 2021 terlihat tinggi karena ditopang momen Lebaran, selain pada Mei 2021 terjadi penurunan ekspor.

Sektor yang mengalami penurunan ekspor di antaranya industri pertanian yang turun 12%, industri pengolahan turun 4%, serta industri pertambangan dan lainnya turun 2%.

Selanjutnya, nilai impor pada Juli 2021 mencapai US$15,11 miliar, turun 12% dari impor Juni 2021. Secara tahunan, nilai impor tumbuh 44% dibandingkan dengan periode yang sama 2020 yang senilai US$10,46 miliar.

Baca Juga: Ekonomi Digital Jadi Ancaman Penerimaan Pajak, Begini Catatan Kemenkeu

Impor migas pada Juli 2021 tercatat US$1,78 miliar atau turun 22%, sedangkan impor nonmigas turun 11% menjadi US$13,33 miliar. BPS juga mencatat nilai impor bahan baku atau penolong turun 12%, barang modal turun 19%, dan barang konsumsi turun 1%.

Namun, secara tahunan, impor bahan baku/penolong naik 46%, barang modal naik 55%, serta barang konsumsi naik 5%.

"Jika bandingkan secara yoy, [kenaikan] impor bahan baku/penolong menandakan masih ada aktivitas ekonomi domestik karena sektor industri masih membutuhkan bahan baku dari impor," ujar Margo. (rig)

Baca Juga: Pangkas Tarif Cukai BBM, Setoran ke Negara Ini Hilang Rp188 Triliun

Topik : neraca dagang, BPS, ekspor impor, neraca perdagangan, nasional

KOMENTAR

0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

Jum'at, 20 Mei 2022 | 16:30 WIB
PROGRAM PENGUNGKAPAN SUKARELA

Mulai Tahun Depan, DJP Tindak Lanjuti Pelaksanaan PPS

Jum'at, 20 Mei 2022 | 14:00 WIB
PROGRAM PENGUNGKAPAN SUKARELA

Kemenkeu Bakal Kembali Tawarkan SBSN Khusus PPS, Ini Perinciannya

Jum'at, 20 Mei 2022 | 13:30 WIB
PEREKONOMIAN INDONESIA

Inflasi Indonesia 'Hanya' 3,5%, Sri Mulyani: Tekanannya Lebih Rendah

berita pilihan

Senin, 23 Mei 2022 | 18:25 WIB
PROGRAM PENGUNGKAPAN SUKARELA

Catat! DJP Makin Gencar Kirim Email Imbauan PPS Berbasis Data Rekening

Senin, 23 Mei 2022 | 18:09 WIB
ADMINISTRASI PAJAK

Perhatian! DJP Evaluasi e-Bupot, Ada Klasifikasi Jumlah Bukti Potong

Senin, 23 Mei 2022 | 18:00 WIB
KAMUS KEPABEANAN

Apa Itu PPFTZ 01, PPFTZ 02, dan PPFTZ 03?

Senin, 23 Mei 2022 | 17:39 WIB
KINERJA FISKAL

APBN Surplus Rp103,1 Triliun Per April 2022, Begini Kata Sri Mulyani

Senin, 23 Mei 2022 | 17:25 WIB
PENERIMAAN PAJAK

Batas Akhir SPT Tahunan, Penerimaan PPh Badan April 2022 Tumbuh 105,3%

Senin, 23 Mei 2022 | 17:11 WIB
PENERIMAAN PAJAK

Penerimaan Pajak Tumbuh 51,49% di April 2022, Sri Mulyani: Sangat Kuat

Senin, 23 Mei 2022 | 17:00 WIB
AMERIKA SERIKAT

Yellen Dukung Relaksasi Bea Masuk atas Barang-Barang Asal China

Senin, 23 Mei 2022 | 16:45 WIB
PEREKONOMIAN INDONESIA

Sri Mulyani Sebut Inflasi April 2022 Tertinggi dalam 2 Tahun Terakhir