Review
Rabu, 24 Februari 2021 | 16:39 WIB
KONSULTASI PAJAK
Selasa, 23 Februari 2021 | 11:05 WIB
OPINI PAJAK
Minggu, 21 Februari 2021 | 08:01 WIB
KEPALA KANWIL DJP KALIMANTAN BARAT AHMAD DJAMHARI:
Jum'at, 19 Februari 2021 | 15:52 WIB
TAJUK PAJAK
Fokus
Data & Alat
Rabu, 24 Februari 2021 | 09:05 WIB
KURS PAJAK 24 FEBRUARI - 2 MARET 2021
Minggu, 21 Februari 2021 | 09:00 WIB
STATISTIK MUTUAL AGREEMENT PROCEDURE
Rabu, 17 Februari 2021 | 09:00 WIB
KURS PAJAK 17 FEBRUARI - 23 FEBRUARI 2021
Senin, 15 Februari 2021 | 11:38 WIB
STATISTIK RASIO PAJAK
Reportase
Perpajakan.id

Membandingkan Regulasi Anti-Penghindaran Pajak di Negara Anglo-Saxon

A+
A-
1
A+
A-
1
Membandingkan Regulasi Anti-Penghindaran Pajak di Negara Anglo-Saxon

DALAM proses pemungutan pajak terutama yang berbasiskan pendapatan, tak jarang otoritas pajak menghadapi berbagai tantangan hingga kendala. Hal ini tidak hanya muncul karena faktor kepatuhan wajib pajak, tetapi juga akibat perubahan radikal di era digital ini.

Untuk memahami permasalahan tersebut, buku berjudul "Comparative Perspectives on Revenue Law: Essays in Honour of John Tiley" ini dapat menjadi pilihan yang tepat bagi pembaca. Lantas mengapa demikian?

Secara garis besar, buku yang diterbitkan pada tahun 2008 ini memuat studi komparatif serta analisa terhadap permasalahan dan kompleksitas yang bermuara pada kegagalan sistem pajak. Permasalahan yang dimaksud salah satunya adalah isu penghindaran pajak (tax avoidance) yang dilakukan dengan memanfaatkan 'celah' yang terdapat dalam undang-undang pajak yang berlaku.

Baca Juga: Bebas Pajak, Impor Vaksin Covid-19 Harus Lewat Jalur Khusus

Alhasil, tindakan penghindaran pajak yang biasanya dilakukan berbagai perusahaan multinasional itu masih dikatakan 'legal'. Meski begitu, tindakan tersebut tetap bertentangan dengan tujuan legislatif dari pembuatan undang-undang pajak yang berlaku.

Otoritas pajak dari berbagai negara pun berupaya untuk mencegah praktik penghindaran pajak makin marak melalui berbagai regulasi yang dibuat secara khusus.

Pembahasan yang ada di dalam buku ini terdiri atas sebelas bab, yang masing-masing ditulis oleh ahli yang berbeda sesuai dengan kepakarannya. Dengan demikian, pembaca dapat memahami isu yang dibahas dengan perspektif yang berbeda-beda.

Baca Juga: Pemerintah agar Aktif Cegah Pengelakan Pajak oleh Tenaga Profesional

Buku yang diterbitkan Cambridge University Press ini juga menyajikan studi komparasi bagaimana praktik yang dilakukan negara-negara Anglo-Saxon—seperti Amerika Serikat dan Inggris—dalam mengendalikan penghindaran pajak.

Salah satu yang dibahas adalah aturan anti-abuse atau ketentuan antipenghindaran pajak, baik yang bersifat khusus maupun umum (tidak dibatasi kepada subjek dan objek tertentu). Di AS, ketentuan ini bersifat khusus, artinya penggunaannya hanya efektif untuk mencegah skema penghindaran pajak tertentu.

Berbeda dengan AS, aturan anti-abuse di Inggris bersifat umum atau menyeluruh yang menyasar pada motif penghindaran pajak terlepas dari skema yang digunakan.

Baca Juga: Masuk Daftar Negara Suaka Pajak, Pemerintah Janji Lakukan Reformasi

Aturan tersebut dianggap wajar karena faktanya, undang-undang pajak yang berlaku belum dapat mengantisipasi skema praktik penghindaran pajak yang dari tahun ke tahun semakin canggih dan sulit dideteksi.

Tentu saja, karena memanfaatkan 'celah' yang ada pada regulasi maka tindakan penghindaran pajak yang dilakukan tetap dianggap 'sah' sehingga tidak dapat dituntut di pengadilan. Untuk itu, aturan ini muncul sebagai solusi bagi otoritas pajak dalam menegakan hukum.

Buku yang disunting oleh John Tiley, John Avery Jones, Peter Harris, David Oliver, dan J. David B. Oliver dari Universitas Cambridge ini juga membahas kompleksitas pemungutan pajak penghasilan pada unit keluarga.

Baca Juga: Pengusaha Properti Minta Insentif Bea Meterai Diperpanjang

Pembahasan ini mengambil pandangan konseptual dan retrospektif mengenai pajak atas unit keluarga termasuk atas perusahaan yang dikelola oleh suatu keluarga.

Dalam isu tersebut, para penulis memfokuskan pembahasan mengenai upaya untuk melakukan identifikasi yang tepat terhadap subjek pajak. Hal itu merupakan salah satu fitur struktural yang fundamental dalam bidang pajak penghasilan.

Buku ini menyajikan pembahasan yang menarik serta terstruktur terkait kompleksitas pemungutan pajak, khususnya dari perspektif hukum di negara-negara Anglo-Saxon.

Baca Juga: Wah, Negara Bagian Ini Bakal Hapus PPh OP dalam 10 Tahun

Gagasan yang dimuat para penulis tidak dapat begitu saja diterapkan di Indonesia mengingat sumber hukum utama dari negara civil law adalah undang-undang sehingga tidak ada yurisprudensi yang bisa melampaui norma-norma hukum yang diatur dalam peraturan di Indonesia.

Meski demikian, buku ini dapat menjadi rujukan oleh para pembaca di berbagai yurisdiksi guna memperluas wawasan terkait topik ini. Tertarik membaca buku ini? Silakan Anda baca langsung di DDTC Library. (rig)

Baca Juga: Meramu Tata Kelola Pajak Global, Bagaimana Tantangan dan Solusinya?
Topik : resensi, jurnal, buku, literasi, penghindaran pajak, pajak internasional
Komentar
0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.
artikel terkait
Jum'at, 19 Februari 2021 | 11:45 WIB
SELANDIA BARU
Jum'at, 19 Februari 2021 | 10:36 WIB
AMERIKA SERIKAT
Kamis, 18 Februari 2021 | 16:45 WIB
ITALIA
Kamis, 18 Februari 2021 | 16:15 WIB
SLOVAKIA
berita pilihan
Jum'at, 26 Februari 2021 | 07:30 WIB
VAKSIN COVID-19
Kamis, 25 Februari 2021 | 21:46 WIB
WEBINAR PAJAK
Kamis, 25 Februari 2021 | 20:58 WIB
AGENDA PAJAK
Kamis, 25 Februari 2021 | 19:34 WIB
PP 7/2021
Kamis, 25 Februari 2021 | 19:27 WIB
EFEK VIRUS CORONA
Kamis, 25 Februari 2021 | 18:45 WIB
FILIPINA
Kamis, 25 Februari 2021 | 18:40 WIB
PERLUASAN OBJEK CUKAI
Kamis, 25 Februari 2021 | 18:23 WIB
LAPORAN OECD
Kamis, 25 Februari 2021 | 18:13 WIB
KABUPATEN PURBALINGGA
Kamis, 25 Februari 2021 | 17:36 WIB
CUKAI (2)