Trusted Indonesian Tax News Portal
DDTC Indonesia
GET
x

Isi Kuliah Umum, Begini Pesan Menkeu untuk Mahasiswa RI di AS

0
0

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. (Foto: Kemenkeu)

JAKARTA, DDTCNews - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengisi kuliah umum untuk mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat. Sejumlah pesan disampaikan terkait dengan kondisi perekonomian terkini.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menyampaikan kuliah umum dihadapan 150 mahasiswa Indonesia dan mengambil tempat di Columbia University, New York. Kondisi ekonomi nasional menjadi pembahasan utama.

Dia menjelaskan, kondisi ekonomi dalam lima tahun terkahir memang penuh tantangan. Namun, hal tersebut dinilainya dapat dilalui dengan baik oleh pemerintah dan relatif lebih baik dari negara lain sesama emerging market.

Baca Juga: IMF Koreksi Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi, Ini Respons Menko Darmin

"Dalam beberapa tahun terakhir kondisi ekonomi kita sudah jauh lebih baik, dan lebih berdaya tahan dari tahun 2013 (saat terjadi taper tantrum). Dibandingkan empat fragile country lain, Indonesia menjadi salah satu yang paling berdaya tahan di dunia," katanya dalam keterangan resmi, Rabu (10/4/2019).

Walapun dinamika ekonomi cenderung membaik namun beberapa catatan diungkapkan Menkeu Sri Mulyani. Salah satunya adalah masih rendahnya prosentase penghasilan masyarakat yang ditabung.

Menurutnya, persentase penghasilan yang ditabung masyarakat Indonesia sebesar 30% belum ideal. Pasalnya, belum mencukupi untuk melakukan pembiayaan negara.

Baca Juga: IMF Minta Negara Ini Optimalkan Pajak dan Kurangi Utang

"Saving rate di indonesia masih sekitar 30-33%. Kondisi ini masih di bawah sejumlah negara besar seperti Cina, meskipun lebih baik dibandingkan dengan negara-negara di Amerika latin," ungkapnya.

Salah satu tantangan rendahnya saving rate di Indonesia karena tidak dialokasikan kepada aset finansial. Saat ini investasi favorit masih berkutat pada physical asset seperti tanah, sehingga lebih sulit untuk dimanfaatkan bagi pendanaan investasi seperti infrastruktur.

"Padahal creative financing dengan pendanaan bukan hanya dari APBN sangatlah penting. Dalam rangka meningkatkan GDP growth dalam jangka panjang, Indonesia perlu meningkatkan kebijakan industrialisasi dan sektor jasa," imbuhnya. (Bsi)

Baca Juga: Bos IMF Resmi Mundur

Dia menjelaskan, kondisi ekonomi dalam lima tahun terkahir memang penuh tantangan. Namun, hal tersebut dinilainya dapat dilalui dengan baik oleh pemerintah dan relatif lebih baik dari negara lain sesama emerging market.

Baca Juga: IMF Koreksi Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi, Ini Respons Menko Darmin

"Dalam beberapa tahun terakhir kondisi ekonomi kita sudah jauh lebih baik, dan lebih berdaya tahan dari tahun 2013 (saat terjadi taper tantrum). Dibandingkan empat fragile country lain, Indonesia menjadi salah satu yang paling berdaya tahan di dunia," katanya dalam keterangan resmi, Rabu (10/4/2019).

Walapun dinamika ekonomi cenderung membaik namun beberapa catatan diungkapkan Menkeu Sri Mulyani. Salah satunya adalah masih rendahnya prosentase penghasilan masyarakat yang ditabung.

Menurutnya, persentase penghasilan yang ditabung masyarakat Indonesia sebesar 30% belum ideal. Pasalnya, belum mencukupi untuk melakukan pembiayaan negara.

Baca Juga: IMF Minta Negara Ini Optimalkan Pajak dan Kurangi Utang

"Saving rate di indonesia masih sekitar 30-33%. Kondisi ini masih di bawah sejumlah negara besar seperti Cina, meskipun lebih baik dibandingkan dengan negara-negara di Amerika latin," ungkapnya.

Salah satu tantangan rendahnya saving rate di Indonesia karena tidak dialokasikan kepada aset finansial. Saat ini investasi favorit masih berkutat pada physical asset seperti tanah, sehingga lebih sulit untuk dimanfaatkan bagi pendanaan investasi seperti infrastruktur.

"Padahal creative financing dengan pendanaan bukan hanya dari APBN sangatlah penting. Dalam rangka meningkatkan GDP growth dalam jangka panjang, Indonesia perlu meningkatkan kebijakan industrialisasi dan sektor jasa," imbuhnya. (Bsi)

Baca Juga: Bos IMF Resmi Mundur
Topik : kebijakan ekonomi, IMF, sri mulyani
Komentar
1000 karakter tersisa
artikel terkait
Senin, 08 April 2019 | 11:30 WIB
KEBIJAKAN PAJAK
Jum'at, 15 Juni 2018 | 18:05 WIB
KREDIT PAJAK
Rabu, 06 Maret 2019 | 11:54 WIB
PEREKONOMIAN INDONESIA
Kamis, 31 Januari 2019 | 17:33 WIB
INSENTIF FISKAL
berita pilihan
Selasa, 19 Februari 2019 | 15:58 WIB
KEBIJAKAN PAJAK
Sabtu, 24 Juni 2017 | 10:11 WIB
PENERIMAAN PAJAK 2017
Kamis, 01 Agustus 2019 | 14:11 WIB
TRANSFORMASI PROSES BISNIS
Senin, 06 Mei 2019 | 14:30 WIB
PMK 49/2019
Jum'at, 26 Oktober 2018 | 15:43 WIB
PEKAN INKLUSI 2018
Jum'at, 25 Agustus 2017 | 12:05 WIB
WORKSHOP PAJAK INTERNASIONAL
Rabu, 24 Agustus 2016 | 10:48 WIB
RAKORNAS APIP
Senin, 06 Mei 2019 | 18:37 WIB
PEREKONOMIAN INDONESIA
Senin, 18 Maret 2019 | 16:49 WIB
KEPATUHAN PAJAK
Rabu, 24 Juli 2019 | 17:41 WIB
PERDIRJEN PAJAK NO.PER-14/PJ/2019