Review
Kamis, 02 April 2020 | 18:59 WIB
ANALISIS TRANSFER PRICING
Rabu, 01 April 2020 | 18:28 WIB
TAJUK PAJAK
Rabu, 01 April 2020 | 17:29 WIB
MEMO PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Rabu, 01 April 2020 | 16:53 WIB
RESPONS PAJAK PERANGI DAMPAK CORONA (4)
Fokus
Data & alat
Rabu, 01 April 2020 | 09:14 WIB
KURS PAJAK 1 APRIL-7 APRIL 2020
Rabu, 25 Maret 2020 | 07:34 WIB
KURS PAJAK 25 MARET-31 MARET 2020
Rabu, 18 Maret 2020 | 09:17 WIB
KURS PAJAK 18 MARET-24 MARET 2020
Rabu, 11 Maret 2020 | 09:00 WIB
KURS PAJAK 11 MARET-17 MARET 2020
Komunitas
Kamis, 02 April 2020 | 15:11 WIB
LEE JI-EUN:
Selasa, 31 Maret 2020 | 09:52 WIB
PROGRAM BEASISWA
Senin, 30 Maret 2020 | 17:29 WIB
UNIVERSITAS PANCASILA
Senin, 30 Maret 2020 | 16:19 WIB
UNIVERSITAS INDONESIA
Reportase

Hukuman Guillotine

A+
A-
1
A+
A-
1
Hukuman Guillotine

PADA abad ke-18 di Perancis, hidup tiga lelaki yang bersahabat karib. Yang pertama adalah seorang ekonom, yang kedua seorang pengumpul pajak, dan yang ketiga seorang akuntan. Kalau berkumpul, entah kenapa, ketiganya sering membuat onar. Ada saja keributan dibikinnya.

Suatu malam, ketiganya berkumpul di sebuah café. Mereka bermain lempar koin, dan tak lama meledaklah keributan itu. Seorang perempuan pelayan café yang tak tahu apa-apa harus kehilangan nyawanya karena tersedak koin yang dibuat mainan ketiga sahabat tersebut.

Polisi lalu membawa ketiga sahabat itu ke pengadilan. Tuduhannya, melakukan perbuatan yang mengakibatkan nyawa orang lain melayang. Setelah memeriksa saksi dan bukti, hakim memutuskan menghukum ketiganya dengan pancung guillotine. “Mata harus dibalas mata,” kata hakim.

Baca Juga: Kembali ke Kantor

Pada hari yang telah ditentukan, ketiga lelaki tersebut mengantre di depan guillotine, di hadapan ratusan warga. Raja Perancis Louis XVI bertindak selaku pemimpin upacara penghukuman. Lelaki pertama, ekonom tadi, perlahan melangkah menempatkan kepalanya di lubang.

Lalu algojo melepaskan guillotine, dan ajaib, guillotine berhenti beberapa senti di atas leher lelaki tersebut. Menyaksikan itu, Raja Louis XVI pun langsung berkata. “Di bawah hukum negara kita, jika guillotine gagal melakukan tugasnya, maka Anda dinyatakan bebas.”

Ekonom ini pun bangkit. Ia lega bukan kepalang. Ia selamat.

Baca Juga: IKPI dan IAPI Jalin Kerja Sama, Ini Tujuannya

Lelaki kedua, seorang pengumpul pajak, kemudian mengambil tempatnya. Setelah algojo melepas guillotine, aneh bin ajaib, guillotine itu kembali berhenti beberapa senti di atas lehernya. Raja, yang keheranan, terpaksa kembali berkata.

“Di bawah hukum negara kita, jika guillotine gagal melakukan tugasnya, maka Anda dinyatakan bebas.”

Pengumpul pajak ini pun bangun. Ia memeluk sahabatnya ekonom tadi dan menangis terharu karena lolos dari hukuman pancung guillotine.

Baca Juga: Bila Akuntan Bertemu Jin Lampu

Tiba giliran lelaki ketiga, seorang akuntan. Ia pun menempatkan kepalanya di lubang guillotine, dan mendongak. Setelah diam sejenak, sebelum algojo melepaskan guillotine-nya, ia berkata. “Tunggu sebentar. Aku pikir aku melihat apa masalahnya..” (Bsi)

Polisi lalu membawa ketiga sahabat itu ke pengadilan. Tuduhannya, melakukan perbuatan yang mengakibatkan nyawa orang lain melayang. Setelah memeriksa saksi dan bukti, hakim memutuskan menghukum ketiganya dengan pancung guillotine. “Mata harus dibalas mata,” kata hakim.

Baca Juga: Kembali ke Kantor

Pada hari yang telah ditentukan, ketiga lelaki tersebut mengantre di depan guillotine, di hadapan ratusan warga. Raja Perancis Louis XVI bertindak selaku pemimpin upacara penghukuman. Lelaki pertama, ekonom tadi, perlahan melangkah menempatkan kepalanya di lubang.

Lalu algojo melepaskan guillotine, dan ajaib, guillotine berhenti beberapa senti di atas leher lelaki tersebut. Menyaksikan itu, Raja Louis XVI pun langsung berkata. “Di bawah hukum negara kita, jika guillotine gagal melakukan tugasnya, maka Anda dinyatakan bebas.”

Ekonom ini pun bangkit. Ia lega bukan kepalang. Ia selamat.

Baca Juga: IKPI dan IAPI Jalin Kerja Sama, Ini Tujuannya

Lelaki kedua, seorang pengumpul pajak, kemudian mengambil tempatnya. Setelah algojo melepas guillotine, aneh bin ajaib, guillotine itu kembali berhenti beberapa senti di atas lehernya. Raja, yang keheranan, terpaksa kembali berkata.

“Di bawah hukum negara kita, jika guillotine gagal melakukan tugasnya, maka Anda dinyatakan bebas.”

Pengumpul pajak ini pun bangun. Ia memeluk sahabatnya ekonom tadi dan menangis terharu karena lolos dari hukuman pancung guillotine.

Baca Juga: Bila Akuntan Bertemu Jin Lampu

Tiba giliran lelaki ketiga, seorang akuntan. Ia pun menempatkan kepalanya di lubang guillotine, dan mendongak. Setelah diam sejenak, sebelum algojo melepaskan guillotine-nya, ia berkata. “Tunggu sebentar. Aku pikir aku melihat apa masalahnya..” (Bsi)

Topik : anekdot pajak, akuntan, guillotine
Komentar
Dapatkan hadiah berupa smartphone yang diberikan kepada satu orang pemenang dengan komentar terbaik. Pemenang akan dipilih oleh redaksi setiap dua pekan sekali. Ayo, segera tuliskan komentar Anda pada artikel terbaru kanal debat DDTCNews! #MariBicara
*Baca Syarat & Ketentuan di sini
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.
0/1000
artikel terkait
Selasa, 22 Januari 2019 | 16:15 WIB
ANEKDOT PAJAK
Senin, 14 Januari 2019 | 10:20 WIB
UNIVERSITAS M.H. THAMRIN
Rabu, 14 November 2018 | 18:51 WIB
SEMINAR UNIVERSITAS MARANATHA
Kamis, 01 November 2018 | 17:29 WIB
HMJ AKUNTANSI UNS
berita pilihan
Kamis, 02 April 2020 | 19:51 WIB
TRANSFER PRICING
Kamis, 02 April 2020 | 18:59 WIB
ANALISIS TRANSFER PRICING
Kamis, 02 April 2020 | 18:01 WIB
PAJAK DIGITAL
Kamis, 02 April 2020 | 17:53 WIB
KABUPATEN LANDAK
Kamis, 02 April 2020 | 16:59 WIB
DENIS HEALEY
Kamis, 02 April 2020 | 16:49 WIB
KABUPATEN TRENGGALEK
Kamis, 02 April 2020 | 16:41 WIB
PMK 23/2020
Kamis, 02 April 2020 | 16:39 WIB
PROVINSI BANTEN
Kamis, 02 April 2020 | 16:25 WIB
PAJAK TRANSAKSI ELEKTRONIK