Review
Kamis, 29 September 2022 | 16:16 WIB
KONSULTASI PAJAK
Selasa, 27 September 2022 | 11:55 WIB
KONSULTASI UU HPP
Minggu, 25 September 2022 | 11:30 WIB
KEPALA BAPENDA RIAU SYAHRIAL ABDI
Kamis, 22 September 2022 | 13:53 WIB
KONSULTASI PAJAK
Fokus
Data & Alat
Rabu, 28 September 2022 | 09:39 WIB
KURS PAJAK 28 SEPTEMBER - 04 OKTOBER 2022
Rabu, 21 September 2022 | 08:33 WIB
KURS PAJAK 21 SEPTEMBER - 27 SEPTEMBER 2022
Rabu, 14 September 2022 | 09:21 WIB
KURS PAJAK 14 SEPTEMBER - 20 SEPTEMBER 2022
Rabu, 07 September 2022 | 09:33 WIB
KURS PAJAK 07 SEPTEMBER - 13 SEPTEMBER
Komunitas
Senin, 03 Oktober 2022 | 16:52 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2022
Senin, 03 Oktober 2022 | 12:25 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2022
Sabtu, 01 Oktober 2022 | 07:00 WIB
ANIMASI PAJAK
Jum'at, 30 September 2022 | 16:15 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2022
Reportase

DJBC Jajaki Pembentukan Kawasan Industri Hasil Tembakau di Lombok

A+
A-
1
A+
A-
1
DJBC Jajaki Pembentukan Kawasan Industri Hasil Tembakau di Lombok

Ilustrasi. Pekerja mengenakan sarung tangan dan masker guna pencegahan penularan COVID-19 melinting rokok sigaret kretek tangan di pabrik rokok PT Digjaya Mulia Abadi (DMA) mitra PT HM Sampoerna, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Selasa (16/6/2020). ANTARA FOTO/Siswowidodo/hp.

JAKARTA, DDTCNews – Ditjen Bea dan Cukai (DJBC) menjajaki pembentukan kawasan industri hasil tembakau (KIHT) terpadu di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Kepala Kantor Bea Cukai Mataram I Putu Alit Sudarsono mengatakan kehadiran KIHT terpadu bertujuan untuk mendorong usaha pengolahan tembakau di Lombok. Menurutnya, hasil tembakau Lombok juga tidak kalah jika dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia

"Mimpi kami tembakau dapat menjadi ikon di Pulau Lombok, selain ikon-ikon yang sudah ada seperti mutiara dan tiga gili, agar ke depannya tembakau Lombok menjadi tuan di rumahnya sendiri," katanya dalam keterangan tertulis, Selasa (20/10/2020).

Baca Juga: Celah Pajak e-Commerce Berisiko Melebar, Vietnam Siapkan Strategi Ini

Alit menuturkan DJBC menggelar focus group discussion (FGD) dan sosialisasi pembangunan KIHT terpadu tersebut. DJBC juga melibatkan semua stakeholders dalam kegiatan itu, mulai dari pengusaha industri tembakau, pemerintah daerah, hingga pengusaha hasil tembakau.

KIHT terpadu akan menjadi pusat kegiatan industri hasil tembakau yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana penunjang produksi. KIHT juga akan menjadi sarana DJBC dalam membina industri, sekaligus mengawasi produksi dan peredaran hasil tembakau.

Pada 2019, produksi tembakau Lombok tercatat 44.493 ton, sedangkan yang diserap industri hanya sekitar 3%. Sekitar 55% dari produksi tembakau terserap oleh mitra, sedangkan selebihnya belum termanfaatkan secara optimal.

Baca Juga: Korlantas Sebut Kendaraan yang Tunggak Pajak Bisa Ditilang

Jika ada KIHT terpadu, Alit optimistis produk hasil tembakau Lombok bahkan dapat bersaing di pasar global. Dia juga meyakini KIHT akan mendorong perekonomian di daerah mengingat hasil tembakau Lombok belum terserap maksimal oleh industri.

Sementara itu, Kepala Kanwil Bea Cukai Bali, NTB dan NTT Hendra Prasmono mendukung rencana pembangunan KIHT di Lombok. Selain dapat menciptakan lapangan kerja baru, ia menilai KIHT juga akan mempermudah pengawasan dan menekan peredaran rokok ilegal.

"Dari aspek legal, KIHT diupayakan mendorong pengusaha-pengusaha yang belum memiliki legalitas agar bergabung dan dapat menjalankan usaha yang sah," ujarnya.

Baca Juga: Sudah Ada SPT Masa Unifikasi, Lampiran Formulir 1107 PUT 1 Dihapus

Menurut Hendra, pembangunan KIHT sejalan dengan program pemulihan ekonomi nasional, terutama mendukung pelaku UKM. Dia berharap pembangunan KIHT terpadu akan mendorong pemulihan ekonomi di Lombok, sekaligus membantu perekonomian nasional.

Saat ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani sudah merilis dua izin pengoperasian KIHT yaitu KIHT di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, dan Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. KIHT Soppeng telah resmi beroperasi, sedangkan KIHT Kudus sedang dalam tahap uji coba. (rig)

Baca Juga: Berkaca pada 2014, Inflasi Oktober 2022 Masih Bisa Naik Lagi Imbas BBM

Cek berita dan artikel yang lain di Google News.

Topik : kawasan industri hasil tembakau, rokok, DJBC, barang kena cukai, lombok, nasional

KOMENTAR

0/1000
Pastikan anda login dalam platform dan berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

Minggu, 02 Oktober 2022 | 09:00 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Pemerintah Bakal Siapkan Skema Pengamanan Penerimaan Pajak

Minggu, 02 Oktober 2022 | 06:00 WIB
PENERIMAAN NEGARA

Risiko Gejolak Harga Komoditas Bayangi Prospek Pendapatan Negara 2023

Sabtu, 01 Oktober 2022 | 14:30 WIB
SKOTLANDIA

Skotlandia Ogah Ikuti Langkah Inggris Pangkas Tarif PPh OP

berita pilihan

Senin, 03 Oktober 2022 | 18:30 WIB
KAMUS PAJAK

Apa Itu Perusahaan Modal Ventura?

Senin, 03 Oktober 2022 | 17:30 WIB
KEBIJAKAN PEMERINTAH

Korlantas Sebut Kendaraan yang Tunggak Pajak Bisa Ditilang

Senin, 03 Oktober 2022 | 17:11 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI

Sengketa PPh Pasal 23 atas Pinjaman Tanpa Bunga

Senin, 03 Oktober 2022 | 17:00 WIB
ADMINISTRASI PAJAK

'Email dan NIK Sudah Didaftarkan NPWP' Saat Daftar Online, Ini Artinya

Senin, 03 Oktober 2022 | 16:52 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2022

Memanfaatkan Sumber Informasi Terbuka untuk Awasi Kepatuhan Pajak HNWI

Senin, 03 Oktober 2022 | 16:30 WIB
PER-14/PJ/2022

Sudah Ada SPT Masa Unifikasi, Lampiran Formulir 1107 PUT 1 Dihapus

Senin, 03 Oktober 2022 | 16:09 WIB
ADMINISTRASI PAJAK

Wah! Ada Email Blast Lagi dari DJP, WP Diminta Perbarui Data Pribadi

Senin, 03 Oktober 2022 | 16:00 WIB
ADMINISTRASI PAJAK

Ingat! e-SPT Sudah Ditutup, Pembetulan SPT Tahunan Badan Pakai e-Form

Senin, 03 Oktober 2022 | 15:30 WIB
KEBIJAKAN PEMERINTAH

Jokowi: Jangan Sampai Pabriknya Besar-Besar, Tapi Lingkungannya Miskin