PERTUMBUHAN EKONOMI NASIONAL

Ekonomi Akhir 2025 Tetap Resilien, Jadi Modal Kuat Pertumbuhan 2026

Aurora K. M. Simanjuntak
Selasa, 06 Januari 2026 | 10.30 WIB
Ekonomi Akhir 2025 Tetap Resilien, Jadi Modal Kuat Pertumbuhan 2026
<p>Ilustrasi. Gedung Kemenkeu</p>

JAKARTA, DDTCNews - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menilai perekonomian Indonesia pada akhir 2025 menunjukkan ketahanan dalam menghadapi berbagai tekanan.

Dirjen Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu Febrio Kacaribu menilai ketahanan perekonomian didukung aktivitas manufaktur yang ekspansif, inflasi yang terkendali, serta surplus neraca perdagangan. Sederet capaian tersebut akan menjadi bekal yang kuat bagi kinerja ekonomi ke depan.

"Faktor-faktor tersebut menjadi modal penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat di tahun 2026," katanya, dikutip pada Selasa (6/1/2025).

Febrio pun memerinci sejumlah faktor yang mendukung ketahanan perekonomian nasional pada akhir 2025. Pertama, PMI Manufaktur pada Desember 2025 tercatat sebesar 51,2 atau ekspansif selama 5 bulan berturut-turut.

Ekspansi PMI manufaktur didorong peningkatan permintaan domestik, ketenagakerjaan, serta aktivitas pembelian bahan baku. Selain itu, optimisme pelaku usaha menguat yang menandakan prospek positif untuk sektor manufaktur ke depan.

Dari sisi global, aktivitas manufaktur negara mitra utama Indonesia secara umum ekspansi. Contoh, AS (51,8), China (50,1), dan India (55,7). Di kawasan ASEAN, PMI manufaktur Thailand (57,4) dan Malaysia (50,1) juga menguat, memberikan sinyal positif bagi permintaan ekspor Indonesia.

Kedua, neraca perdagangan Indonesia tercatat surplus US$2,66 miliar, melanjutkan tren sejak Mei 2020. Sementara itu, neraca perdagangan kumulatif Januari-November 2025 mencatat surplus US$38,54 miliar.

Ketiga, inflasi berada di angka 2,92% (yoy). Tingkat inflasi tersebut mencerminkan stabilitas harga yang tetap terjaga pada 2025.

Febrio mengatakan sepanjang tahun 2025, inflasi tetap berada dalam rentang sasaran nasional. Menurutnya, capaian ini didukung oleh kebijakan intervensi harga dan pasokan untuk menjaga keterjangkauan harga pangan.

Dia menilai berbagai indikator ekonomi domestik juga menunjukkan perkembangan positif pada akhir 2025. Misal, indeks keyakinan konsumen menguat ke level 124.

Selain itu, indeks penjualan riil tumbuh 5,94% karena didorong peningkatan penjualan makanan dan minuman, serta mobilitas masyarakat, serta penjualan listrik sektor bisnis tumbuh 6,2%.

Pada 2026, Febrio menyampaikan bahwa pemerintah berupaya menjaga stabilitas serta memperkuat momentum pertumbuhan ekonomi. Salah satu caranya ialah mengarahkan kebijakan fiskal untuk mendukung program pembangunan nasional.

"Kebijakan fiskal diarahkan mendukung program pembangunan nasional guna memastikan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan," ujarnya. (rig)

Cek berita dan artikel yang lain di Google News.
Ingin selalu terdepan dengan kabar perpajakan terkini?Ikuti DDTCNews WhatsApp Channel & dapatkan berita pilihan di genggaman Anda.
Ikuti sekarang
News Whatsapp Channel
Bagikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.