Review
Kamis, 01 Desember 2022 | 16:52 WIB
KONSULTASI PAJAK
Rabu, 30 November 2022 | 11:27 WIB
OPINI PAJAK
Selasa, 29 November 2022 | 15:48 WIB
KONSULTASI UU HPP
Kamis, 24 November 2022 | 09:50 WIB
KONSULTASI PAJAK
Fokus
Literasi
Senin, 05 Desember 2022 | 18:00 WIB
KAMUS PAJAK
Senin, 05 Desember 2022 | 12:00 WIB
TIPS PAJAK
Jum'at, 02 Desember 2022 | 21:10 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Jum'at, 02 Desember 2022 | 19:00 WIB
KAMUS KEPABEANAN
Data & Alat
Jum'at, 02 Desember 2022 | 12:00 WIB
KMK 63/2022
Rabu, 30 November 2022 | 10:11 WIB
KURS PAJAK 30 NOVEMBER - 06 DESEMBER 2022
Rabu, 23 November 2022 | 10:00 WIB
KURS PAJAK 23 NOVEMBER - 29 NOVEMBER 2022
Rabu, 16 November 2022 | 09:45 WIB
KURS PAJAK 16 NOVEMBER - 22 NOVEMBER 2022
Komunitas
Senin, 05 Desember 2022 | 09:00 WIB
SEKRETARIS I PERTAPSI CHRISTINE TJEN:
Minggu, 04 Desember 2022 | 07:40 WIB
WAKIL KETUA I PERTAPSI TITI MUSWATI PUTRANTI:
Sabtu, 03 Desember 2022 | 09:34 WIB
KETUA BIDANG KERJA SAMA PERTAPSI BENY SUSANTI:
Sabtu, 03 Desember 2022 | 07:30 WIB
SELEBRITAS
Reportase

Bagaimana Potensi Pajak dan Tax Effort di Negara-Negara Asia?

A+
A-
0
A+
A-
0
Bagaimana Potensi Pajak dan Tax Effort di Negara-Negara Asia?

PAJAK merupakan salah satu instrumen utama dalam kebijakan fiskal yang penting untuk diperkuat guna mendanai kebutuhan belanja yang makin besar akibat pandemi Covid-19. Tak hanya itu, setoran pajak yang kuat juga untuk menjaga keberlangsungan utang pemerintah.

Namun, hingga saat ini masih terdapat banyak negara berkembang di Asia dengan tax ratio di bawah 13%. Padahal, tax ratio di atas 13% diperlukan untuk mendanai berbagai program yang diamanatkan dalam Sustainable Development Goals (SDGs) sekaligus mengakselerasi pertumbuhan ekonomi.

Merujuk pada background paper terbitan ADB yang bertajuk Priorities for Strengthening Key Revenue Sources in Asia, tampak masih terdapat banyak negara Asia yang realisasi penerimaan pajaknya masih jauh dari kapasitasnya (tax capacity).

Baca Juga: Penerapan Exit Tax Bisa Menahan Gerusan Basis Pajak, Ini Analisisnya


Dalam laporan tersebut, tax capacity didefinisikan sebagai level maksimum teoretis penerimaan pajak yang dapat dimobilisasi oleh suatu negara sejalan dengan karakteristik struktural dari perekonomian negara yang dimaksud.

Bila dibandingkan dengan kinerja penerimaan pajaknya, terlihat masih banyak negara yang realisasi pajaknya masih jauh dari tax capacity. Rendahnya penerimaan pajak dibandingkan dengan tax capacity mencerminkan rendahnya tax effort.

Baca Juga: Ada Perubahan Ketentuan Soal Penyelenggara Sertifikasi Konsultan Pajak

Tax effort merupakan rasio penerimaan pajak terhadap tax capacity. Bila suatu negara memiliki tax effort sebesar 1 maka penerimaan pajak negara tersebut sudah mencapai tax capacity yang diestimasikan.

Besarnya potensi pajak yang belum dapat dioptimalkan dan rendahnya tax effort bisa jadi disebabkan sempitnya basis pajak akibat banyaknya fasilitas pengecualian dan pembebasan pajak serta akibat tingginya ketidakpatuhan pajak.

Secara khusus, negara-negara dengan penerimaan pajak dan tax effort yang rendah masih memiliki ruang untuk dapat meningkatkan penerimaan pajak tanpa menimbulkan distorsi dan biaya tambahan terhadap perekonomian.

Baca Juga: Sri Mulyani Terbitkan Peraturan Baru Soal Konsultan Pajak

Merujuk pada data, tampak negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, Pakistan, India, hingga Thailand memiliki tax effort yang rendah dan masih memiliki ruang yang luas untuk meningkatkan penerimaan pajak sesuai dengan tax capacity-nya. (rig)

Cek berita dan artikel yang lain di Google News.

Topik : narasi data, statistik pajak, tax effort, penerimaan pajak, tax ratio, pajak, tax capacity

KOMENTAR

0/1000
Pastikan anda login dalam platform dan berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

Senin, 05 Desember 2022 | 09:45 WIB
BERITA PAJAK HARI INI

Soal Aturan Baru Desain Pita Cukai Tahun Depan, Begini Kata DJBC

Senin, 05 Desember 2022 | 09:00 WIB
SEKRETARIS I PERTAPSI CHRISTINE TJEN:

‘Tax Center dan Akademisi Itu Posisinya Netral’

Minggu, 04 Desember 2022 | 15:00 WIB
HUNGARIA

Khawatir Ganggu Investasi, Hungaria Kukuh Tolak Pajak Minimum Global

Minggu, 04 Desember 2022 | 14:00 WIB
BEA METERAI

Kriteria Dokumen yang Dapat Dibebaskan dari Pungutan Bea Meterai

berita pilihan

Senin, 05 Desember 2022 | 21:00 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Penerapan Exit Tax Bisa Menahan Gerusan Basis Pajak, Ini Analisisnya

Senin, 05 Desember 2022 | 19:18 WIB
PMK 175/2022

Ada Perubahan Ketentuan Soal Penyelenggara Sertifikasi Konsultan Pajak

Senin, 05 Desember 2022 | 18:37 WIB
PMK 175/2022

Sri Mulyani Terbitkan Peraturan Baru Soal Konsultan Pajak

Senin, 05 Desember 2022 | 18:01 WIB
ADMINISTRASI PAJAK

Salah Isi NPWP dan Nama Wajib Pajak dalam SSP? Bisa Pbk

Senin, 05 Desember 2022 | 18:00 WIB
KAMUS PAJAK

Apa Itu Business Intelligence dalam Ranah Pajak?

Senin, 05 Desember 2022 | 17:39 WIB
KEPATUHAN PAJAK

Ingat! Kepatuhan Wajib Pajak Diawasi DJP, Begini Penjelasannya

Senin, 05 Desember 2022 | 17:30 WIB
PER-13/BC/2021

Daftar IMEI Bisa di Kantor Bea Cukai tapi Tak Dapat Pembebasan US$500

Senin, 05 Desember 2022 | 17:00 WIB
KP2KP SANANA

Dapat SP2DK, Pengusaha Pengolahan Ikan Tuna Datangi Kantor Pajak

Senin, 05 Desember 2022 | 16:51 WIB
KINERJA FISKAL DAERAH

Sisa Sebulan, Mendagri Minta Pemda Genjot Pendapatan Daerah

Senin, 05 Desember 2022 | 16:30 WIB
KPP PRATAMA SUKOHARJO

Data e-Faktur Hilang, Begini Solusi dari Ditjen Pajak