Review
Jum'at, 23 Juli 2021 | 09:15 WIB
OPINI PAJAK
Kamis, 15 Juli 2021 | 15:09 WIB
KONSULTASI PAJAK
Rabu, 14 Juli 2021 | 10:30 WIB
DIREKTUR PENYULUHAN, PELAYANAN, DAN HUMAS DJP NEILMALDRIN NOOR:
Rabu, 14 Juli 2021 | 09:20 WIB
PERSPEKTIF
Fokus
Data & Alat
Rabu, 21 Juli 2021 | 09:25 WIB
KURS PAJAK 21 JULI 2021-27 JULI 2021
Kamis, 15 Juli 2021 | 18:15 WIB
STATISTIK PENERIMAAN PAJAK
Rabu, 14 Juli 2021 | 13:30 WIB
KURS PAJAK 14 JULI 2021-20 JULI 2021
Rabu, 07 Juli 2021 | 09:15 WIB
KURS PAJAK 7 JULI 2021-13 JULI 2021
Reportase
Perpajakan.id

Wajib Pajak Merugi Bakal Dipajaki?

A+
A-
20
A+
A-
20
Wajib Pajak Merugi Bakal Dipajaki?

Pertanyaan:
PERKENALKAN nama saya Ganda. Saat ini saya bekerja sebagai manager pajak di salah satu perusahaan start-up di Jakarta. Perusahaan kami baru berdiri pada tahun 2019. Hingga saat ini, status perusahaan kami masih merugi.

Lantas, belakangan ini saya mendapat informasi dari berbagai media nasional bahwa pemerintah akan mengenakan pajak penghasilan (PPh) minimum bagi perusahaan dengan status rugi. Apakah benar demikian? Seperti apa konsepnya jika kebijakan ini benar-benar diterapkan? Mohon pencerahannya.

Ganda, Jakarta.

Jawaban:
TERIMA kasih Bapak Ganda atas pertanyaannya. Saat ini memang terdapat pemberitaan mengenai berbagai agenda reformasi perpajakan di berbagai media nasional. Salah satu wacananya adalah rencana pengenaan PPh minimum bagi perusahaan dengan kriteria tertentu.

Namun demikian, hingga saat ini pemerintah belum memberikan pernyataan resmi dan rinci apakah rencana kebijakan ini akan benar-benar diterapkan di Indonesia dan seperti apa skema pengenaannya nanti.

Walau demikian, untuk menjawab pertanyaan Bapak, ada baiknya kita pahami dulu mengenai konsep pengenaan PPh minimum ini.

Secara istilah, pengenaan PPh minimum ini sering disebut dengan alternative minimum tax (AMT). AMT sendiri dapat diartikan sebagai jenis pengenaan pajak yang didesain untuk menghindari perusahaan dari tidak membayar pajak atau membayar terlalu kecil dibandingkan dengan penghasilan mereka.

Dengan kata lain, pada dasarnya penerapan AMT ditujukan untuk mengatasi upaya penghindaran pajak (tax avoidance) yang dilakukan oleh perusahaan. Kondisi perusahaan yang merugi secara terus-menerus dapat menjadi indikasi awal adanya penghindaran pajak. Walaupun tidak selalu demikian. Oleh sebab itu, desain atau skema penerapan AMT pada umumnya lebih menyasar pada perusahaan yang melakukan kerugian ‘artifisial’.

Selain itu, penerapan AMT juga tidak bersifat opsional, tetapi berjalan paralel dengan rezim PPh yang berlaku. Dalam hal ini, nilai pajak terutang wajib pajak badan akan tetap dihitung baik dengan menggunakan rezim PPh badan normal maupun AMT.

Jika nilai pajak terutang dari rezim normal PPh badan lebih tinggi dari hasil perhitungan rezim AMT, otoritas pajak menggunakan nilai pajak terutang dari rezim normal. Hal ini pun berlaku sebaliknya.

Dalam penghitungannya, AMT menggunakan indikator alternatif di luar penghasilan kena pajak yang umumnya dipergunakan sebagai basis pajak. Indikator alternatif yang kerap digunakan adalah nilai peredaran bruto. Selain itu, terdapat pula indikator lain seperti nilai total aset, aset bersih, maupun perhitungan basis pajak berbasis penyesuaian pengurang penghasilan juga dipergunakan (reconstruction of income).

Pada praktiknya, dalam rangka memastikan agar AMT tepat sasaran, terdapat kriteria wajib pajak tertentu yang dikecualikan. Salah satunya dengan mengecualikan perusahaan yang baru berdiri, di mana perusahan baru tersebut biasanya masih mengalami kerugian di fase awal bisnis.

Contohnya adalah Filipina. Negara ini menerapkan AMT dengan tarif 2% atas peredaran bruto dan hanya dikenakan bagi perusahaan yang telah beroperasi selama 4 tahun. Artinya, bagi perusahaan start-up tidak dikenakan AMT dulu sebelum mereka beroperasi selama 4 tahun.

Sebagai ilustrasi, misalkan perusahaan A telah beroperasi selama lebih dari 4 tahun dengan omzet tahun pajak terakhir sebesar USD200.000 dan penghasilan bersih yang dikenai pajak USD10.000. Tarif PPh badan sebesar 20%.

Apabila dihitung secara normal, PPh badan terutang sebesar 20% x USD10.000 = USD2.000. Sementara apabila dihitung dengan AMT, PPh terutang menjadi sebesar 2% x USD200.000 = USD4.000. Dalam kasus ini, perusahaan A harus membayar PPh sebesar USD4.000 karena jumlah perhitungan AMT lebih besar dibandingkan dengan perhitungan PPh badan secara normal.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa AMT diterapkan agar setiap korporasi setidaknya membayar ‘suatu nilai pajak minimum’ kepada negara atau sebagai safeguard. Tentunya, skema nilai pajak minimumnya berbeda di masing-masing negara.

Satu hal yang pasti, secara international best practices, rezim AMT umumnya hanya berlaku bagi wajib pajak badan dengan kriteria tertentu. Untuk itu, mari kita menunggu bagaimana langkah pemerintah ke depan terkait rencana kebijakan AMT ini.

Demikian jawaban kami, semoga membantu.

(Disclaimer)
Topik : konsultasi pajak, konsultasi, alternative minimum tax, AMT

KOMENTAR

0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.

rizal

Minggu, 27 Juni 2021 | 09:37 WIB
detail, jelas dan mudah dipahami. tks
1

ARTIKEL TERKAIT

Rabu, 02 Juni 2021 | 15:43 WIB
KONSULTASI PAJAK

Biaya Vaksinasi Mandiri, Apakah Boleh Jadi Pengurang Pajak?

Senin, 24 Mei 2021 | 16:01 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Pemerintah Bakal Pakai Alternative Minimum Tax, Ini Kata Sri Mulyani

Rabu, 19 Mei 2021 | 14:49 WIB
KONSULTASI PAJAK

Penghitungan Biaya Pinjaman yang Diperbolehkan Secara Fiskal

berita pilihan

Selasa, 27 Juli 2021 | 09:00 WIB
RESENSI JURNAL

Analisis Data Pajak dalam Penentuan Key Performance Indicator

Selasa, 27 Juli 2021 | 08:02 WIB
BERITA PAJAK HARI INI

Realisasi Restitusi Pajak Naik 15,87%, Begini Penjelasan DJP

Senin, 26 Juli 2021 | 19:00 WIB
KAMUS PAJAK

Apa Itu Polluter Pays Principle?

Senin, 26 Juli 2021 | 18:43 WIB
PMK 82/2021

Ini Alasan DJP Beri Tambahan Waktu Pembetulan Laporan Pajak DTP

Senin, 26 Juli 2021 | 18:35 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI

Sengketa Biaya Fasilitas Ruangan Sebagai Objek PPh Pasal 4 ayat (2)

Senin, 26 Juli 2021 | 18:31 WIB
PEREKONOMIAN INDONESIA

Ada PPKM Darurat, ADB Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Jadi 4,1%

Senin, 26 Juli 2021 | 18:30 WIB
PENERIMAAN PAJAK

Kemenkeu Sebut Setoran Pajak dari 3 Sektor Usaha Ini Sudah Positif

Senin, 26 Juli 2021 | 18:13 WIB
FILIPINA

Muncul Desakan Judi Online Segera Dikenai Pajak