Berita
Rabu, 01 Februari 2023 | 15:30 WIB
KPP PRATAMA TOLITOLI
Rabu, 01 Februari 2023 | 15:07 WIB
KANWIL DJP JAKARTA TIMUR
Rabu, 01 Februari 2023 | 14:43 WIB
KEBIJAKAN PERDAGANGAN
Rabu, 01 Februari 2023 | 14:15 WIB
PEREKONOMIAN INDONESIA
Review
Rabu, 01 Februari 2023 | 08:00 WIB
MENDESAIN PAJAK NATURA DAN KENIKMATAN (4)
Selasa, 31 Januari 2023 | 11:45 WIB
KONSULTASI PAJAK
Selasa, 31 Januari 2023 | 08:00 WIB
MENDESAIN PAJAK NATURA DAN KENIKMATAN (3)
Senin, 30 Januari 2023 | 12:00 WIB
TAJUK PERPAJAKAN
Fokus
Literasi
Senin, 30 Januari 2023 | 14:24 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Senin, 30 Januari 2023 | 12:00 WIB
TIPS PAJAK
Senin, 30 Januari 2023 | 10:45 WIB
KAMUS KEPABEANAN
Jum'at, 27 Januari 2023 | 17:30 WIB
KAMUS KEPABEANAN
Data & Alat
Rabu, 01 Februari 2023 | 10:00 WIB
KMK 6/2023
Rabu, 01 Februari 2023 | 09:31 WIB
KURS PAJAK 1 FEBRUARI - 7 FEBRUARI 2023
Rabu, 25 Januari 2023 | 08:45 WIB
KURS PAJAK 25 JANUARI - 31 JANUARI 2023
Rabu, 18 Januari 2023 | 09:03 WIB
KURS PAJAK 18 JANUARI - 24 JANUARI 2023
Reportase

Pemerintah Sebut Indonesia Termasuk Negara Paling Disiplin Kelola APBN

A+
A-
0
A+
A-
0
Pemerintah Sebut Indonesia Termasuk Negara Paling Disiplin Kelola APBN

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara.

JAKARTA, DDTCNews - Pemerintah menyatakan Indonesia dikenal dunia sebagai negara paling disiplin dalam mengelola APBN-nya.

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan defisit APBN sempat melebar selama 3 tahun karena pandemi Covid-19. Namun, pemerintah berkomitmen untuk mengembalikan defisit di bawah 3% sebagaimana diamanatkan UU 2/2020.

"Indonesia itu dikenal sebagai negara yang sangat disiplin kalau harus melakukan pembiayaan atas defisit. Disiplinnya dimulai dari defisitnya enggak boleh seenaknya dan enggak boleh di atas 3% dari PDB," katanya dalam Economic Outlook by the Minister of Finance, Selasa (29/11/2022).

Baca Juga: Ada Tekanan Geopolitik, Pertumbuhan Ekonomi 2023 Diperkirakan Melambat

Suahasil mengatakan APBN sejak 2020 berperan sebagai instrumen countercyclical untuk menangani masalah kesehatan akibat pandemi sekaligus memberi perlindungan sosial kepada masyarakat dan mendukung pemulihan ekonomi. Di sisi lain, penerimaan negara mengalami kontraksi karena berbagai kegiatan ekonomi masyarakat melemah.

Dalam suasana Covid-19, defisit APBN melebar menjadi 6,14% PDB pada 2020 dan 4,65% PDB pada 2021. Sedangkan pada 2022, pemerintah menargetkan defisit APBN akan sebesar 4,85% PDB, walaupun outlook-nya hanya 3,92% PDB.

Adapun pada APBN 2023, pemerintah merencanakan defisit akan senilai Rp598,15 triliun atau 2,84% PDB.

Baca Juga: Hadapi Risiko Ekonomi Global 2023, Pemerintah Bertumpu pada Konsumsi

Suahasil menjelaskan pelebaran defisit APBN hanya dilakukan dalam situasi yang sangat kritis seperti ketika Covid-19 mewabah. Pelebaran defisit juga telah disetujui DPR dan hanya selama 3 tahun, sebagaimana diatur dalam UU 2/2020.

Dia meyakini tren pemulihan ekonomi akan terus berlanjut pada 2023 walaupun peranan belanja pemerintah akan menurun. Ketika pandemi makin terkendali, lanjutnya, APBN akan lebih berperan sebagai katalis untuk mendorong pertumbuhan dari sisi konsumsi rumah tangga, investasi, dan ekspor.

"Kita menyebutnya konsolidasi fiskal, artinya kembali defisitnya ke bawah 3% supaya dia menjadi kredibel dan mendorong menjadi katalis," ujarnya. (sap)

Baca Juga: Jelang Rilis BPS, Sri Mulyani Perkirakan Ekonomi 2022 Tumbuh 5,3%-5,4%

Cek berita dan artikel yang lain di Google News.

Topik : APBN 2023, asumsi makro, pertumbuhan ekonomi, defisit, defisit APBN

KOMENTAR

0/1000
Pastikan anda login dalam platform dan berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

Selasa, 20 Desember 2022 | 15:17 WIB
KINERJA FISKAL

APBN Defisit Rp237,7 Triliun Hingga 14 Desember, Ini Kata Sri Mulyani

Senin, 19 Desember 2022 | 12:30 WIB
PERTUMBUHAN EKONOMI

ADB Ramal Ekonomi Indonesia Hanya Tumbuh 4,8% Tahun Depan

Minggu, 18 Desember 2022 | 06:00 WIB
PENERIMAAN CUKAI

Segini Target Setoran Cukai Plastik dan Minuman Berpemanis pada 2023

Jum'at, 16 Desember 2022 | 16:09 WIB
KINERJA PERDAGANGAN

Surplus Neraca Dagang Berlanjut, Mendag: Modal Hadapi Ancaman Resesi

berita pilihan

Rabu, 01 Februari 2023 | 15:30 WIB
KPP PRATAMA TOLITOLI

Imbau WP Segera Validasi NIK, Kantor Pajak Ini Kirim WA Blast

Rabu, 01 Februari 2023 | 15:07 WIB
KANWIL DJP JAKARTA TIMUR

Wah! DJP Telusuri Jaringan Penerbit Faktur Pajak Fiktif di Jakarta

Rabu, 01 Februari 2023 | 14:43 WIB
KEBIJAKAN PERDAGANGAN

Jokowi Bakal Setop Ekspor Konsentrat Tembaga Tahun Ini

Rabu, 01 Februari 2023 | 14:15 WIB
PEREKONOMIAN INDONESIA

Selepas Natal dan Tahun Baru, Tingkat Inflasi Masih Tembus 5%

Rabu, 01 Februari 2023 | 14:07 WIB
BINCANG ACADEMY

Mengejar Penyusunan Kebijakan Keuangan Daerah sebagai Turunan UU HKPD

Rabu, 01 Februari 2023 | 13:14 WIB
UNIVERSITAS TRILOGI

Penerapan CRM dan Teknologi Berpeluang Wujudkan Kepatuhan Kooperatif

Rabu, 01 Februari 2023 | 12:45 WIB
SELEKSI HAKIM AGUNG

Seleksi CHA: Triyono Martanto Ingin Pangkas Backlog Sengketa Pajak

Rabu, 01 Februari 2023 | 12:30 WIB
PER-03/PJ/2022

Awas Kena Sanksi, Begini Contoh Faktur Pajak yang Terlambat Dibuat

Rabu, 01 Februari 2023 | 12:00 WIB
KPP PRATAMA DENPASAR BARAT

Tagih Tunggakan Pajak, Saldo Rekening WP Dipindahbukukan ke Kas Negara