HUT KE-15 DDTC

Membangun SDM Pajak Unggul, DDTC Tawarkan Akses Pendidikan yang Setara

Sapto Andika Candra
Rabu, 17 Agustus 2022 | 13.00 WIB
Membangun SDM Pajak Unggul, DDTC Tawarkan Akses Pendidikan yang Setara

MIMPI buruk tak lagi punya batasan dengan kenyataan bagi puluhan ribu penghuni Armero pada malam itu, 37 tahun lalu. Belum juga pulas mata terpejam, gelombang lelehan bongkah gletser bercampur lumpur melesat-melesak, masuk menghantam kota tanpa ampun.

Berkecepatan lebih dari 20 kilometer per jam, lahar dingin seolah terjun bebas dari puncak Nevado del Ruiz, sebuah gunung api aktif di Colombia, negara di Amerika Latin, yang sempat dorman nyaris 70 tahun. 

Kerusakannya luar biasa. Lebih 25.000 manusia kehilangan nyawa, menyisakan hanya sekira 4.000 penduduk kota yang diberi kesempatan kedua. Rumah, tempat ibadah, sekolah, jangan ditanya. Atapnya saja yang menyembul di sela endapan lumpur berwarna cokelat menyala. 

Bencana yang berujung  duka di Armero semestinya bisa dihindari. Dikutip dari arsip pemberitaan Los Angeles Times, saintis sudah memperingatkan sejak dua bulan sebelum letusan dahsyat pada 13 November 1985 petang. 

Warning rampung dikirim kepada pemerintah pada 11 September 1985. Peta dampak bencana, termasuk perkiraan arah lelehan lahar dingin, sudah diserahkan kepada pemerintah lokal pada 7 Oktober. 

Namun, data seismik yang akurat serta abu yang terus menghujan tak mempan menyadarkan pengampu kebijakan. Warga pun, tak punya bekal pengetahuan yang mumpuni soal mitigasi bencana. 

Akar masalahnya bisa dibagi dua: pemerintah yang abai dan masyarakat yang tak berilmu. Meski kalau dirunut lagi, pemerintahnya juga tak punya pengetahuan cukup soal bencana. 

Puluhan ribu jiwa yang melayang di Armero memberi kita pelajaran. Pengetahuan adalah kunci. Andai saja pemahaman tentang kebencanaan tidak timpang kala itu, penduduk pasti punya kepekaan lebih tinggi dalam membaca gejala alam. Pemerintah lokal pun, bisa jadi lebih bijak dalam memerintahkan evakuasi. 

Laku yang Sama untuk Perpajakan

Kisah dari Colombia di atas hanya jembatan bagi kita untuk memahani satu hal: pengetahuan bisa melanggengkan peradaban. Pengetahuan, dalam cabang ilmu apapun, adalah penjaga tonggak zaman. Tanpanya, bisa saja separuh populasi ludes dalam semalam. 

Lebih dari itu, akses terhadap ilmu pengetahuan juga tidak boleh berat sebelah. Letusan Nevado del Ruiz mengajarkan bahwa masyarakat dan pembuat kebijakan harus punya akses setara terhadap pengetahuan. Jika tidak, ujungnya bisa bencana. Baik dalam arti harfiah atau kiasan.

Prinsip yang sama juga berlaku bagi ilmu perpajakan. Terbatasnya akses masyarakat terhadap disiplin ilmu ini membuat 'pajak' menjadi kosakata yang terdengar jauh dari kesan akrab. Aliran informasi soal pajak belum merata ke semua hilir. 

Padahal sama halnya dengan kejadian di Armero tadi, masyarakat yang tak paham pajak bisa berakhir petaka. Bayangkan saja, negara bisa-bisa lumpuh ketika tidak punya penerimaan pajak yang mumpuni. Gara-garanya, warganya tidak punya pemahaman yang cukup soal pajak. 

Ingat, menurut Shiekh Sajjad Hassan dalam tulisannya di buku Tax Audit Techniques in Cash Based Economies, kurangnya edukasi menjadi salah satu faktor utama di balik enggannya masyarakat membayar pajak. 

Di sisi pemerintah, nihilnya sensitivitas dalam menyusun kebijakan perpajakan juga bisa menuai fatal. Dalam buku yang sama, Sajjad Hassan juga menyebutkan bahwa prosedur pajak yang membosankan dan tarif pajak yang tinggi ikut menyumbang alasan terbesar bagi warga untuk tidak memenuhi kewajibannya. 

Artinya, pemahaman tentang pajak perlu seimbang diserap oleh seluruh pihak. Tak cuma sudut fiskus dan masyarakat yang membayar pajak saja, tetapi juga mencakup multidisiplin ilmu. Tidak ada batasan latar belakang bagi siapapun untuk memahami pajak. 

Celah kosong yang menjadi jeda bagi masyarakat dalam mengakses ilmu pengetahuan perpajakan perlu diisi. Di situlah, DDTC memosisikan diri. 

DDTC Ikut Mewarnai Geliat Pendidikan Pajak

BERBEKAL kesadaran penuh terhadap pentingnya akses pendidikan perpajakan nonformal yang inklusif, DDTC lantas menawarkan alternatif. Sebagai institusi pajak yang tidak terbatas pada aspek inti sebagai konsultan, DDTC mulai merintis jasa edukasi pajak melalui 'DDTC Academy'. Embrionya sudah tumbuh sejak awal perusahaan berdiri pada 2007 silam. 

"Bertahun yang lalu DDTC sudah membentuk DDTC Academy untuk melembagakan sekaligus mengelola berbagai kegiatan edukasi pajak," ujar Managing Partner DDTC Darussalam dalam sebuah kesempatan di Universitas Indonesia

Kecintaan kedua pendiri DDTC, Darussalam bersama Danny Septriadi sebagai Senior Partner, terhadap dunia pendidikan menjadi modal kuat bagi perusahaan untuk menyemai bibit budaya pelatihan dan sharing knowledge di lingkup internal. Maklum, Darussalam dan Danny memang sama-sama ditempa lama di lingkungan akademik. 

Perlahan, DDTC Academy mulai menggelar kegiatan rutinnya. Dimulai dengan intensive course pajak internasional dan transfer pricing pada 2012, deret program lain ikut menyusul hingga kini. 

Darussalam dan Danny kompak membumikan prinsip 'pendidikan untuk semua'. Ilmu pajak, dengan segala teorema yang bereskalasi di dalamnya, sudah sepatutnya dimengerti oleh semua pihak, termasuk masyarakat umum yang selama ini menjadi subjek langsungnya. DDTC mengembuskan angin segar dalam ekosistem pendidikan perpajakan Tanah Air. 

Keberadaan DDTC Academy juga menjadi satu manifestasi dari misi perusahaan, yakni berinvestasi dalam sumber daya manusia dengan menyediakan pendidikan berkelanjutan, menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, dan mewujudkan keseimbangan antara hidup dan pekerjaan.

Tepat satu dekade melayani, DDTC Academy telah menyodorkan akses pendidikan pajak yang terbuka bagi siapapun, baik penentu kebijakan, pelaku usaha, hingga masyarakat umum yang memiliki ketertarikan untuk mendalami bidang ini. 

DDTC Academy berfokus pada peningkatan pemahaman dan perluasan pengalaman masyarakat terkait dengan topik-topik spesifik sektor perpajakan. Kegiatannya mencakup pengadaan seminar, kursus, kursus praktik, pelatihan in-house, kursus persiapan ujian Advanced Diploma in International Taxation (ADIT), hingga tentu saja seminar gratis

Seluruh pelatihan dan program DDTC Academy terbuka bagi semua kalangan termasuk staf perusahaan, pimpinan perusahaan, konsultan pajak, masyarakat sipil (termasuk LSM), hingga mahasiswa sekalipun.

Sasarannya juga mencakup profesional di lingkungan perusahaan. DDTC Academy ikut menempa kualitas SDM melalui pelatihan yang bersifat internal. Mekanisme sharing knowledge, dengan menggandeng tim Human Capital, menjadi kawah candradimuka yang menggodok dan melahirkan profesional pajak berstandar tinggi. 

Dalam jangka panjang, DDTC Academy ingin ikut terus terlibat dalam pendewasaan masyarakat pajak (tax society).

Demi menjaga kualitas pengajaran, seluruh materi yang diberikan melalui DDTC Academy disampaikan oleh trainer profesional di bidangnya serta berpengalaman. Di baliknya, kurikulum pendidikan disusun dengan menyesuaikan perkembangan lanskap pajak global. 

DDTC Academy ikut menyesuaikan kebutuhan sektor pajak domestik dengan tren internasional, termasuk transparansi sektor pajak, perlawanan terhadap penghindaran pajak, indirect tax untuk memobilisasi penerimaan, paradigma kepatuhan kooperatif, hingga ekonomi digital. Dengan membaca kebutuhan masyarakat pajak, DDTC Academy juga menggelar jenis kursus baru, yakni English for Transfer Pricing.

Kegiatan DDTC Academy juga didukung dengan fasilitas pelatihan yang sepadan. Perusahaan punya concern tinggi terhadap hal ini. 

Awalnya, kegiatan DDTC Academy banyak digelar di luar kantor. Tingginya animo publik dalam mengikuti pelatihan membuat perusahaan menyediakan ruang training khusus di gedung operasional. Sebelum berpindah ke lokasinya saat ini, Kantor DDTC sudah memiliki 1 ruangan training plus 1 ruang peradilan semu (moot court) sebagai penunjang dari skill upgrade peserta pelatihan. 

Kini, dengan transformasi perusahaan yang cukup pesat, DDTC Academy memiliki 2 ruangan training yang mumpuni. Ada pula 1 studio yang sengaja dibangun sebagai dapur pengolah informasi perpajakan berbasis teknologi. Distribusi informasi disampaikan secara daring dengan beragam platform yang bisa diakses masyarakat.

Dengan studio yang dimiliki, DDTC Academy secara konsisten menyajikan konten-konten perpajakan melalui video edukasi yang disiarkan di platform digital, dengan judul Bincang Academy. Langkah ini sekaligus menangkap pergeseran habit masyarakat yang mulai melek teknologi. 

Lewat program baru yang menggandeng beragam narasumber dari internal dan eksternal perusahaan ini, DDTC Academy ikut berperan dalam meningkatkan literasi perpajakan. 

Ada pesan tegas yang disampaikan bahwa ilmu juga perlu dibagikan secara cuma-cuma kepada masyarakat. Perbaikan pemahaman perpajakan, harapannya, bisa mendongkrak kepatuhan wajib pajak. Tak cuma negara yang mendulang kebaikan. Masyarakat pun akan ikut merasakan manfaat pembangunan dari penerimaan pajak yang meningkat. 

Pengakuan Dunia dan Sumbangsih untuk Perpajakan

KONSISTENSI dan komitmen DDTC Academy untuk beradaptasi terhadap kebutuhan sumber daya manusia (SDM) yang berwawasan global membuahkan hasil. Sejak 2019, DDTC Academy masuk ke dalam jajaran penyedia perlatihan (course provider) internasional terpercaya yang menyelenggarakan persiapan sertifikasi ADIT. 

ADIT merupakan sertifikasi profesional yang ditawarkan secara global kepada para profesional pajak internasional oleh Chartered Institute of Taxation (CIOT) Inggris. Adapun semua program yang ditawarkan penyedia pelatihan bersifat independen dari CIOT.

Di Indonesia, DDTC mencatatkan diri sebagai satu-satunya institusi penyedia pelatihan yang direkomendasikan oleh CIOT. Artinya, DDTC Academy sejajar penyedia pelatihan spefisik untuk ADIT lainnya seperti International Bureau of Fiscal Documentation di Belanda, Bloomberg BNA di Amerika Serikat (AS), dan Taxmann di India. 

Pengakuan dunia ini tak hinggap begitu saja. Perhatian terhadap diseminasi ilmu perpajakan kepada publik terbawa sejak awal DDTC berdiri 15 tahun lalu. Pengembangan SDM, baik bagi internal perusahaan atau publik secara umum, terjalin rapat dalam satu tarikan napas.  

DDTC membuka peluang yang sama bagi semua pihak untuk mempelajari isu-isu spesifik perpajakan. Dari beragam program dan pelatihan yang digelar, DDTC juga tetap aktif menggelar seminar perpajakan gratis bagi publik. 

Ada aspek pengabdian yang tetap menjadi perhatian utama perusahaan. Pada 2020 misalnya, DDTC mengadakan webinar series selama 14 hari berturut-turut. Tak tanggung-tanggung, serial seminar daring yang digelar gratis tersebut melibatkan 23 narasumber sekaligus. 

Kegiatan tersebut menggandeng praktisi dan akademisi dari kampus-kampus yang menjalin nota kesepemahaman (MoU) dengan DDTC. 

Kemudian pada 2021, DDTC Academy menggelar 4 webinar gratis sekaligus dengan isu-isu spesifik yang 'tidak murah'. Sebagai bagian dari peringatan HUT DDTC, saat itu DDTC Academy menggelar rangkaian seminar daring dengan tema utama DDTC Tax Audit & Tax Dispute Webinar Series.

Selain rentetan acara yang bersifat publik, DDTC juga menyepakati kerja sama dengan puluhan perguruan tinggi di Indonesia. Tercatat sedikitnya ada 32 kampus yang menjalin MoU dengan DDTC. Dalam jalinan kerja sama, DDTC Academy ikut memfasilitasi kegiatan training for trainers bagi para akademisi. 

Managing Partner DDTC Darussalam pernah satu kali berkata soal mimpinya. Pendidikan pajak di Indonesia, ujarnya, tak boleh kalah dengan asing. DDTC melalui beragam kegiatan yang diberikan, telah membuktikan bahwa anak bangsa bisa berkiprah di kancah internasional. Kuncinya tentu saja, pendidikan yang mumpuni. 

Sedekade perjalanan DDTC Academy baru sejengkal dari jalur panjang yang harus ditempuh untuk mewujudkan masyarakat pajak ideal. Melalui DDTC Academy, ketimpangan pemahaman soal perpajakan ditekan. Jurang pemisah antara pembuat kebijakan dan rakyat dijembatani. Jika fiskus dan wajib pajak sama-sama punya pemahaman soal pajak yang baik, niscaya kepatuhan pajak juga ikut meningkat. (sap)

Cek berita dan artikel yang lain di Google News.
Bagikan:
user-comment-photo-profile
Belum ada komentar.