Trusted Indonesian Tax News Portal
DDTC Indonesia
GET
x

Ini Syarat Ekonomi Bisa Tumbuh di Atas 5% Versi Sri Mulyani

0
0

Menteri Keuangan Sri Mulyani. (foto: Kemenkeu)

JAKARTA, DDTCNews – Ekonomi nasional dalam beberapa tahun terakhir tumbuh moderat di kisaran 5%. Peningkatan investasi merupakan kunci bagi Indonesia untuk mengakselerasi perekonomian sehingga laju produk domestik bruto (PDB) lebih tinggi dari 5%.

Pernyataan tersebut keluar dari Menteri Keuangan Sri Mulyani di sela-sela Spring Meeting International Monetary Fund (IMF) – World Bank Group (WBG). Dia mengatakan Indonesia masih perlu menciptakan iklim investasi yang kondusif bagi kegiatan investasi.

“Jika Indonesia menginginkan pertumbuhan di atas 5%, Indonesia perlu menciptakan iklim investasi yang baik,” katanya di Washington D.C., sepertu dikutip dari laman resmi Kemenkeu, Jumat (12/4/2019).

Baca Juga: Sri Mulyani Janji Tindak Lanjuti Temuan BPK

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu mengungkapkan ada lima faktor utama untuk menciptakan iklim yang bersahabat untuk investor. Pertama, penguraian hambatan infrastruktur seperti pembangunan jalan, transportasi, pembangkit tenaga listrik, serta koneksi internet untuk ekonomi digital dan revolusi industri 4.0.

Kedua, regulasi yang mendukung investasi. Aspek peraturan kerap menjadi penghambat kegiatan investasi sehingga perbaikan terus dilakukan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah simplifikasi perizinan melalui Online Single Submission (OSS).

Ketiga, kapasitas dan kompetensi sumber daya manusia (SDM). Tidak dapat dipungkiri, faktor SDM menjadi salah satu titik lemah Indonesia dalam menarik invetasi masuk. Dengan populasi yang padat, Indonesia memiliki banyak tenaga kerja.

Baca Juga: Menkeu: Penurunan Suku Bunga Antisipasi Perlemahan Ekonomi

“Indonesia memiliki banyak tenaga kerja. Namun, untuk mendapatkan yang terlatih dan terdidik sangat terbatas di Indonesia. Kapasitas mereka belum optimal,” papar Sri Mulyani.

Keempat, reformasi birokrasi. Reformasi birokrasi, sambungnya, sangat penting untuk dijalankan. Hal ini berlaku tidak hanya bagi eksekutif, tetapi juga lembaga yudisial. Dengan demikian, kepastian hukum bagi pelaku usaha akan tercipta.

Kelima, kebijakan fiskal. Kebijakan fiskal ini mencakup pemberian insentif yang diharapkan mampu mendongkrak kinerja investasi dalam jangka panjang. Menurutnya, kebijakan fiskal menjadi faktor yang cukup krusial.

Baca Juga: Soal Pajak Progresif Tanah, Ini Respons Sri Mulyani

“Dalam bidang fiskal, pemerintah memberikan insentif pajak dan insentif belanja. Insentif pajak contohnya tax holiday, tax allowance,exemption import, dan tax free import duty,” imbuh Sri Mulyani. (kaw)

“Jika Indonesia menginginkan pertumbuhan di atas 5%, Indonesia perlu menciptakan iklim investasi yang baik,” katanya di Washington D.C., sepertu dikutip dari laman resmi Kemenkeu, Jumat (12/4/2019).

Baca Juga: Sri Mulyani Janji Tindak Lanjuti Temuan BPK

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu mengungkapkan ada lima faktor utama untuk menciptakan iklim yang bersahabat untuk investor. Pertama, penguraian hambatan infrastruktur seperti pembangunan jalan, transportasi, pembangkit tenaga listrik, serta koneksi internet untuk ekonomi digital dan revolusi industri 4.0.

Kedua, regulasi yang mendukung investasi. Aspek peraturan kerap menjadi penghambat kegiatan investasi sehingga perbaikan terus dilakukan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah simplifikasi perizinan melalui Online Single Submission (OSS).

Ketiga, kapasitas dan kompetensi sumber daya manusia (SDM). Tidak dapat dipungkiri, faktor SDM menjadi salah satu titik lemah Indonesia dalam menarik invetasi masuk. Dengan populasi yang padat, Indonesia memiliki banyak tenaga kerja.

Baca Juga: Menkeu: Penurunan Suku Bunga Antisipasi Perlemahan Ekonomi

“Indonesia memiliki banyak tenaga kerja. Namun, untuk mendapatkan yang terlatih dan terdidik sangat terbatas di Indonesia. Kapasitas mereka belum optimal,” papar Sri Mulyani.

Keempat, reformasi birokrasi. Reformasi birokrasi, sambungnya, sangat penting untuk dijalankan. Hal ini berlaku tidak hanya bagi eksekutif, tetapi juga lembaga yudisial. Dengan demikian, kepastian hukum bagi pelaku usaha akan tercipta.

Kelima, kebijakan fiskal. Kebijakan fiskal ini mencakup pemberian insentif yang diharapkan mampu mendongkrak kinerja investasi dalam jangka panjang. Menurutnya, kebijakan fiskal menjadi faktor yang cukup krusial.

Baca Juga: Soal Pajak Progresif Tanah, Ini Respons Sri Mulyani

“Dalam bidang fiskal, pemerintah memberikan insentif pajak dan insentif belanja. Insentif pajak contohnya tax holiday, tax allowance,exemption import, dan tax free import duty,” imbuh Sri Mulyani. (kaw)

Topik : pertumbuhan ekonomi, Sri Mulyani, investasi, insentif pajak
Komentar
Dapatkan hadiah berupa merchandise DDTCNews masing-masing senilai Rp250.000 yang diberikan kepada dua orang pemenang. Redaksi akan memilih pemenang setiap dua minggu sekali, dengan berkomentar di artikel ini! #MariBicara
*Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
1000 karakter tersisa
artikel terkait
Senin, 08 April 2019 | 11:30 WIB
KEBIJAKAN PAJAK
Jum'at, 15 Juni 2018 | 18:05 WIB
KREDIT PAJAK
Rabu, 06 Maret 2019 | 11:54 WIB
PEREKONOMIAN INDONESIA
Kamis, 31 Januari 2019 | 17:33 WIB
INSENTIF FISKAL
berita pilihan
Senin, 08 April 2019 | 11:30 WIB
KEBIJAKAN PAJAK
Senin, 08 Juli 2019 | 18:02 WIB
TRANSFER PRICING
Rabu, 13 Maret 2019 | 15:39 WIB
TATA PEMERINTAHAN
Sabtu, 24 September 2016 | 12:03 WIB
PENGAMPUNAN PAJAK
Jum'at, 23 Desember 2016 | 10:15 WIB
PENAGIHAN PAJAK
Senin, 29 Oktober 2018 | 09:54 WIB
BERITA PAJAK HARI INI
Senin, 09 Januari 2017 | 17:06 WIB
PENGAMPUNAN PAJAK
Kamis, 11 Agustus 2016 | 16:52 WIB
KANWIL DJP YOGYAKARTA
Kamis, 22 September 2016 | 12:01 WIB
PENGAMPUNAN PAJAK
Kamis, 16 Februari 2017 | 09:55 WIB
BERITA PAJAK HARI INI