Trusted Indonesian Tax News Portal
|
DDTC Indonesia
GET
x

Aturan Restitusi Pajak Pembelian Rumah Berubah

1
1

Salah satu perumahan di India. (Foto: businessworld.in)

NEW DELHI, DDTCNews – Otoritas pajak India meminta pengembang real estat mengembalikan pajak barang dan jasa (GST) kepada pembeli yang membatalkan pembelian rumah susun. Pembeli akan diizinkan memanfaatkan penyesuaian kredit untuk pengembalian uang tersebut.

Aturan baru yang dirilis Central Board of Indirect Tax and Customs (CBIC) India menyebutkan para pengembang real estat bisa bergeser ke tingkat GST 5% untuk unit perumahan dan 1% untuk perumahan terjangkau tanpa manfaat kredit pajak input mulai 1 April 2019.

“Pengembang dapat menerbitkan nota kredit kepada pembeli jika terjadi perubahan harga atau pembatalan pemesanan. Pengembang harus mengambil penyesuaian pajak yang dibayarkan sehubungan dengan jumlah nota kredit itu,” demikian aturan GST CBIC, Kamis (9/5).

Baca Juga: Ditjen Pajak Pastikan Pencairan Restitusi Berjalan Normal

Untuk proyek yang sedang berjalan, pengembang diberi pilihan untuk melanjutkan pengenaan GST 12% dengan kredit pajak input 8% untuk perumahan terjangkau, atau memilih GST 5% bahkan 1% untuk perumahan terjangkau, namun tanpa kredit pajak input.

Berdasarkan aturan itu, pengembang yang membayar GST 12% senilai INR24,66 juta sehubungan dengan jumlah pemesanan bruto INR10 sebelum 1 April 2019, berhak mengambil penyesuaian pajak sebesar INR24,66 juta pascapembatalan pemesanan setelah 1 April 2019.

Perubahan rezim GST ini tidak berlaku bagi proyek pembangunan yang sudah berjalan, maupun pada perjanjian yang dibuat mulai 1 April 2019 atas pembelian tanah dari pemilik oleh pengembang (transfer of development rights/TDR).

Baca Juga: Pemerintah Paksa 12 Pejabat Pajak Mengundurkan Diri, Ada Apa?

Pengembang juga tidak dapat mengklaim kredit untuk GST yang telah dibayarkan jika perjanjian TDR dibuat sebelum 1 April 2019. Jika kondisi ini terjadi, seperti dilansir www.livemint.com, maka TDR dikenakan pajak sebesar 18% dalam rezim GST.

Dalam hal pengembang real estat telah mengumpulkan 12% GST dari pembeli rumah mulai 1 April 2019, tetapi kemudian memilih tingkat 5%, maka pengembang harus mengembalikan selisih pajak 7% yang dikumpulkan kepada pembeli. (Bsi)

Baca Juga: Negara Ini Lirik Pengenaan Pajak Tarik Tunai Rp205 Juta Setahun

“Pengembang dapat menerbitkan nota kredit kepada pembeli jika terjadi perubahan harga atau pembatalan pemesanan. Pengembang harus mengambil penyesuaian pajak yang dibayarkan sehubungan dengan jumlah nota kredit itu,” demikian aturan GST CBIC, Kamis (9/5).

Baca Juga: Ditjen Pajak Pastikan Pencairan Restitusi Berjalan Normal

Untuk proyek yang sedang berjalan, pengembang diberi pilihan untuk melanjutkan pengenaan GST 12% dengan kredit pajak input 8% untuk perumahan terjangkau, atau memilih GST 5% bahkan 1% untuk perumahan terjangkau, namun tanpa kredit pajak input.

Berdasarkan aturan itu, pengembang yang membayar GST 12% senilai INR24,66 juta sehubungan dengan jumlah pemesanan bruto INR10 sebelum 1 April 2019, berhak mengambil penyesuaian pajak sebesar INR24,66 juta pascapembatalan pemesanan setelah 1 April 2019.

Perubahan rezim GST ini tidak berlaku bagi proyek pembangunan yang sudah berjalan, maupun pada perjanjian yang dibuat mulai 1 April 2019 atas pembelian tanah dari pemilik oleh pengembang (transfer of development rights/TDR).

Baca Juga: Pemerintah Paksa 12 Pejabat Pajak Mengundurkan Diri, Ada Apa?

Pengembang juga tidak dapat mengklaim kredit untuk GST yang telah dibayarkan jika perjanjian TDR dibuat sebelum 1 April 2019. Jika kondisi ini terjadi, seperti dilansir www.livemint.com, maka TDR dikenakan pajak sebesar 18% dalam rezim GST.

Dalam hal pengembang real estat telah mengumpulkan 12% GST dari pembeli rumah mulai 1 April 2019, tetapi kemudian memilih tingkat 5%, maka pengembang harus mengembalikan selisih pajak 7% yang dikumpulkan kepada pembeli. (Bsi)

Baca Juga: Negara Ini Lirik Pengenaan Pajak Tarik Tunai Rp205 Juta Setahun
Topik : restitusi, India, perumahan
artikel terkait
Kamis, 20 Juni 2019 | 09:56 WIB
IRLANDIA
Rabu, 19 Juni 2019 | 16:34 WIB
ARGENTINA
Selasa, 18 Juni 2019 | 13:56 WIB
BANGLADESH
berita pilihan
Senin, 13 Mei 2019 | 13:33 WIB
FILIPINA
Jum'at, 12 April 2019 | 17:02 WIB
JERMAN
Jum'at, 12 April 2019 | 18:16 WIB
BREXIT
Jum'at, 12 April 2019 | 18:45 WIB
AMERIKA SERIKAT
Jum'at, 12 April 2019 | 19:02 WIB
FINLANDIA
Senin, 15 April 2019 | 10:30 WIB
AMERIKA SERIKAT
Senin, 15 April 2019 | 15:22 WIB
AMERIKA SERIKAT
Senin, 15 April 2019 | 18:24 WIB
NIGERIA
Senin, 15 April 2019 | 18:43 WIB
JEPANG