Fokus
Literasi
Rabu, 19 Januari 2022 | 10:45 WIB
KAMUS PAJAK
Senin, 17 Januari 2022 | 18:00 WIB
KAMUS BEA METERAI
Jum'at, 14 Januari 2022 | 21:24 WIB
PROFIL PAJAK KOTA PADANG
Jum'at, 14 Januari 2022 | 20:45 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Data & Alat
Rabu, 19 Januari 2022 | 09:17 WIB
KURS PAJAK 19 JANUARI - 25 JANUARI 2022
Rabu, 12 Januari 2022 | 09:01 WIB
KURS PAJAK 12 JANUARI - 18 JANUARI 2022
Rabu, 05 Januari 2022 | 08:15 WIB
KURS PAJAK 5 JANUARI - 11 JANUARI 2022
Senin, 03 Januari 2022 | 10:45 WIB
KMK 70/2021
Reportase
Perpajakan.id

Apa Itu Bukti Penerimaan Negara?

A+
A-
3
A+
A-
3
Apa Itu Bukti Penerimaan Negara?

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat mempermudah berbagai kegiatan manusia, termasuk dalam pembayaran/penyetoran pajak. Pemerintah melalui Ditjen Pajak (DJP) melakukan beragam transformasi digital dalam sistem pembayaran pajak, salah satunya dengan meluncurkan e-Billing.

Melalui layanan e-billing, wajib pajak dapat memperoleh kode billing dengan lebih mudah dan cepat. Kode billing tersebut selanjutnya akan digunakan untuk membayar/menyetor pajak baik melalui teller bank/pos persepsi, Internet banking, ATM, ataupun sarana lainnya.

Atas pembayaran/penyetoran pajak tersebut, wajib pajak selanjutnya akan menerima Bukti Penerimaan Negara (BPN). Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan BPN?

Baca Juga: Apa Itu Tax Effort?

Definisi
KETENTUAN mengenai BPN tercantum dalam berbagai aturan. Merujuk Pasal 1 angka 25 Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 242/PMK.03/2014 tentang Tata Cara Pembayaran dan Penyetoran Pajak, BPN didefinisikan sebagai:

“Dokumen yang diterbitkan oleh Bank Persepsi/Bank Devisa Persepsi/Pos Persepsi atas transaksi penerimaan negara yang mencantumkan NTPN dan NTB/NTP serta elemen lainnya yang ditentukan oleh Direktorat Jenderal Perbendaharaan atau dokumen yang diterbitkan oleh Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) atas transaksi penerimaan negara yang berasal dari potongan SPM yang mencantumkan NTPN dan NPP.”

Sementara itu, mengacu pada Pasal 1 angka 45 Perdirjen Pajak No.225/PMK.05/2020 tentang Sistem Penerimaan Negara Secara Elektronik, BPN adalah dokumen yang diterbitkan oleh collecting agent atas transaksi penerimaan negara yang mencantumkan NTPN dan NTB/NTP/NTL sebagai sarana administrasi lain yang kedudukannya disamakan dengan surat setoran.

Baca Juga: Apa Itu Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT)?

Collecting agent merupakan agen penerimaan yang meliputi bank persepsi, pos persepsi, bank persepsi valas, lembaga persepsi lainnya, atau lembaga persepsi lainnya valas yang ditunjuk oleh Kuasa Bendahara Umum Negara (BUN) Pusat untuk menerima setoran penerimaan negara.

Terkait dengan perpajakan, Pasal 1 angka 11 Perdirjen Pajak No. PER-05/PJ/2017 tentang Pembayaran Pajak Secara Elektronik, mengartikan BPN sebagai dokumen yang diterbitkan oleh bank/pos persepsi atas transaksi penerimaan negara dengan teraan NTPN dan NTB atau NTP sebagai sarana administrasi lain yang kedudukannya disamakan dengan surat setoran pajak (SSP).

Adapun NTPN merupakan akronim dari Nomor Transaksi Penerimaan Negara. Nomor ini merupakan tanda bukti pembayaran atau penyetoran ke kas negara yang tertera pada BPN dan diterbitkan oleh sistem settlement yang dikelola DItjen Perbendaharaan-Kementerian Keuangan.

Baca Juga: Apa Itu Harta Bersih dalam Program Pengungkapan Sukarela?

Sementara itu, Nomor Transaksi Bank (NTB) dan Nomor Transaksi Pos (NTP) adalah nomor bukti transaksi penyetoran penerimaan negara yang diterbitkan oleh bank persepsi atau pos persepsi. Simak Kamus “Apa Itu Bank Persepsi

Pasal 3 ayat (3) Perdirjen Pajak No. PER-05/PJ/2017 menyatakan BPN dapat diterbitkan dalam 4 bentuk. Pertama, dokumen bukti pembayaran yang diterbitkan bank/pos persepsi, untuk pembayaran atau penyetoran melalui teller dengan kode billing.

Kedua, struk bukti transaksi, untuk pembayaran melalui ATM atau EDC. Ketiga, dokumen elektronik, untuk pembayaran melalui Internet banking atau mobile banking. Keempat, teraan elemen data BPN pada SSP untuk pembayaran melalui teller bank/pos persepsi dengan menggunakan SSP.

Baca Juga: Apa Itu Surat Keterangan Pengungkapan Harta Bersih?

Lebih lanjut, Pasal 3 ayat (4) Perdirjen Pajak No. PER-05/PJ/2017 menguraikan BPN minimal mencantumkan elemen berikut: NTPN; NTB atau NTP; kode billing; Nomor Pokok Wajib Pajak; nama wajib pajak; dan alamat wajib pajak, kecuali untuk BPN yang diterbitkan melalui ATM dan EDC.

Selain itu, ada pula elemen nomor objek pajak (NOP), bila ada; kode akun pajak; kode jenis setoran; masa pajak; tahun pajak; nomor ketetapan pajak, bila ada; uraian pembayaran, bila ada; npwp penyetor, bila ada; nama penyetor, bila ada; tanggal bayar; dan jumlah nominal pembayaran.

Sebagai bukti setoran, Pasal 3 ayat (5) Perdirjen Pajak No. PER-05/PJ/2017 menyatakan kedudukan BPN termasuk cetakan, salinan, dan fotokopinya disamakan dengan SSP dalam rangka pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

Baca Juga: Apa Itu Surat Pemberitahuan Pengungkapan Harta (SPPH)?

Dalam hal terdapat perbedaan antara data pembayaran yang tertera dalam BPN dengan data pembayaran menurut sistem penerimaan negara secara elektronik, maka yang dianggap sah adalah data sistem penerimaan negara secara elektronik.

Simpulan
INTINYA Bukti Penerimaan Negara (BPN) merupakan bukti setoran yang diterbitkan oleh collecting agent atas penerimaan negara. Terkait dengan pajak, BPN menjadi bukti pembayaran/penyetoran pajak yang kedudukannya disamakan dengan SSP.

Adapun BPN ini dapat diperoleh dengan melakukan pembayaran/penyetoran pajak melalui teller bank/pos persepsi, ATM, Internet banking, mobile banking, EDC, atau sarana lainnya dengan menggunakan kode billing. (Bsi)

Baca Juga: Apa Itu Master File Wajib Pajak?

Topik : bukti penerimaan negara, definisi, kamus pajak

KOMENTAR

0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

Jum'at, 29 Oktober 2021 | 18:30 WIB
KAMUS PAJAK

Apa Itu Pengawasan Kepatuhan Material (PKM) Wajib Pajak?

Senin, 25 Oktober 2021 | 18:30 WIB
KAMUS PAJAK

Apa Itu Kegiatan Pengumpulan Data Lapangan (KPDL) Wajib Pajak?

Jum'at, 22 Oktober 2021 | 17:30 WIB
KAMUS CUKAI

Apa Itu Hasil Pengolahan Tembakau Lainnya (HPTL)?

Rabu, 20 Oktober 2021 | 12:00 WIB
KAMUS KEBIJAKAN PAJAK

Apa Itu Edukasi Perpajakan?

berita pilihan

Rabu, 19 Januari 2022 | 13:00 WIB
KINERJA FISKAL

Penerimaan Pajak Tembus 103%, Sri Mulyani Bantah Targetnya Diturunkan

Rabu, 19 Januari 2022 | 12:40 WIB
EDUKASI PAJAK

Tax Center Universitas Gunadarma Luncurkan Aplikasi M-edu Tax

Rabu, 19 Januari 2022 | 12:23 WIB
AGENDA ATPETSI

Negara Butuh Pajak untuk Capai Target SDGs, Simak Analisisnya

Rabu, 19 Januari 2022 | 12:11 WIB
SELEBRITAS

Ngobrol Bareng Ghozali, Deddy Corbuzier: Lu Ditagih Pajak Katanya?

Rabu, 19 Januari 2022 | 12:00 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Barang Kena Pajak Belum Tentu Dikenakan PPN, Ini Penjelasannya

Rabu, 19 Januari 2022 | 11:30 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Skema Insentif PPnBM Mobil DTP Berubah, Begini Catatan Gaikindo

Rabu, 19 Januari 2022 | 11:15 WIB
TAJUK PAJAK

Tidak Harus Dipancing dengan Pemutihan Pajak

Rabu, 19 Januari 2022 | 11:15 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Banyak WP Belum Tergapai, Setoran Pajak Orang Pribadi Masih Minim