Trusted Indonesian Tax News Portal
DDTC Indonesia
GET
x

WCO Serukan SMART Borders, Apa Itu?

2
2

Ilustrasi. 

JAKARTA, DDTCNews – Bersamaan dengan momentum Hari Pabean Internasional (International Customs Day) 2019, Sekretariat World Customs Organization (WCO) menyerukan SMART borders untuk pergerakan barang, orang, dan alat transportasi lintas batas.

Kunio Mikuriya, Sekretaris Jenderal WCO mengatakan konsep SMART borders menyoroti peran Bea Cukai dalam mendukung agenda Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) 2030 untuk pembangunan yang berkelanjutan. Level playing field diciptakan untuk semua pemangku kepentingan.

“Melalui prosedur yang disederhanakan, terstandarisasi, dan diharmonisasikan,” ujarnya, seperti dikutip dari keterangan resmi WCO, Senin (28/1/2019).

Baca Juga: Sri Mulyani dan Sekjen WCO Kunio Mikuriya Bahas Pajak E-commerce

Langkah yang berkaitan dengan prosedur itu untuk memastikan pengiriman bahan baku yang tepat waktu ke industri, mengurangi persaingan yang tidak adil dalam komunitas lokal, dan membuka peluang bagi komunitas yang terpinggirkan untuk mengakses pasar baru.

Dengan demikian, ada kondisi yang transparan dan dapat diprediksi. Bisnis yang legal pun pada akhirnya terfasilitasi sehingga diharapkan mampu berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional maupun penciptaan lapangan kerja.

Melalui konsep SMART borders, Bea Cukai diharapkan mampu memformulasikan kembali proses bisnis dengan menerapkan teknologi baru serta bekerja dengan cerdas. Hal ini dibutuhkan untuk mencapai global supply chain yang saling berhubungan dan mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif.

Baca Juga: RI Minta WCO Bentuk Kelompok Riset E-Commerce Lintas Batas

SMART borders diperkenalkan untuk mendorong anggota WCO masuk ke ranah teknologi dalam mencari solusi untuk memfasilitasi aliran barang, orang, dan alat angkut di perbatasan. Pada saat yang bersamaan, tetap mengikuti pedoman SMART (Secure, Measurable, Automated, Risk Management-based, dan Technology-driven.

Adapun rincian prinsip SMART borders itu antara lain, pertama, secure (aman). WCO meminta agar Bea Cukai terus bekerja sama dnegan lembaga perbatasan (border agencies) lainnya. Kerja sama ini untuk memperkuat kepercayaan dan transparansi untuk mengamankan dan memfasilitasi perdagangan legal.

Pergerakan yang cepat dan aman dari orang dan barang lintas batas mendorong perdagangan, perjalanan, dan transportasi. Bea Cukai memiliki tugas untuk memfasilitasi aliran tersebut sambil mengamankannya dari terorisme dan ancaman keamanan lain di perbatasan.

Baca Juga: Impor & Ekspor Sementara Kendaraan Bermotor? Cukup Butuh Dokumen Ini

Kedua, measurable (terukur). Pengukuran kinerja sangat penting dalam proses implementasi dan evaluasi. Bea Cukai membutuhkan alat khusus yang berdasarkan tolak ukur secara global. WCO akan memulai diskusi mengenai dampak tersebut dalam pandangan pengembangan alat pengukuran kinerja.

Ketiga, automated (otomatis). Dalam mengejar lingkungan perbatasan yang kurang rumit, Bea Cukai harus bergantung pada proses otomatis tanpa mengabaikan pentingnya melakukan penelitian lanjutan mengenai analisis dampak ancaman keamanan siber. Fokusnya pun harus diperluas ke area seperti forensik digital dan privasi internet.

Keempat, risk management-based (berbasis manajemen risiko). Bea Cukai harus lebih dinamis dalam mengidentifikasi risiko potensial. Selain itu, Bea Cukai harus mengurangi ketergantungan pada pemeriksaan fisik kiriman dengan melakukan studi lebih lanjut tentang analisis prediktif, teknik pembuatan profil, dan bidang terkait lainnya.

Baca Juga: Pentingnya Penggunaan Teknologi oleh Otoritas & Wajib Pajak

Kelimatechnology-driven (berbasis teknologi). Teknologi harus menjadi pendorong utama agenda pabean sehingga anggota WCO lebih siap untuk menanggapi tantangan dan peluang baru di era digital. Teknologi yang sebelumnya muncul seperti blockchain, pencetakan 3D, atau komputasi awan sekarang sedang digunakan dengan baik. Hal yang baru pun sudah muncul, seperti penggunaan data geo-spasial, kecerdasan buatan, robotik, dan drone.

WCO juga akan mengintensifkan kegiatan peningkatan kapasitas untuk memastikan Bea Cukai dipersiapkan, diperlengkapi, dan dilatih secara memadai untuk menghadapi berbagai tantangan. Menurutnya, aspek yang sangat penting adalah pengalokasian sumber daya untuk bidang nonfiskal seperti keamanan dan perlindungan masyarakat.

“Yang pada gilirannya akan menarik lebih banyak perdagangan dan investasi dan dengan demikian menghasilkan kemakmuran ekonomi. Selama 2019, saya mengundang semua anggota WCO untuk mempromosikan dan berbagi informasi tentang upaya mencapai SMAR borders,” papar Kunio Mikuriya. (kaw)

Baca Juga: Hadapi Revolusi Industri 4.0, Ini Andalan Ditjen Bea Cukai

“Melalui prosedur yang disederhanakan, terstandarisasi, dan diharmonisasikan,” ujarnya, seperti dikutip dari keterangan resmi WCO, Senin (28/1/2019).

Baca Juga: Sri Mulyani dan Sekjen WCO Kunio Mikuriya Bahas Pajak E-commerce

Langkah yang berkaitan dengan prosedur itu untuk memastikan pengiriman bahan baku yang tepat waktu ke industri, mengurangi persaingan yang tidak adil dalam komunitas lokal, dan membuka peluang bagi komunitas yang terpinggirkan untuk mengakses pasar baru.

Dengan demikian, ada kondisi yang transparan dan dapat diprediksi. Bisnis yang legal pun pada akhirnya terfasilitasi sehingga diharapkan mampu berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional maupun penciptaan lapangan kerja.

Melalui konsep SMART borders, Bea Cukai diharapkan mampu memformulasikan kembali proses bisnis dengan menerapkan teknologi baru serta bekerja dengan cerdas. Hal ini dibutuhkan untuk mencapai global supply chain yang saling berhubungan dan mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif.

Baca Juga: RI Minta WCO Bentuk Kelompok Riset E-Commerce Lintas Batas

SMART borders diperkenalkan untuk mendorong anggota WCO masuk ke ranah teknologi dalam mencari solusi untuk memfasilitasi aliran barang, orang, dan alat angkut di perbatasan. Pada saat yang bersamaan, tetap mengikuti pedoman SMART (Secure, Measurable, Automated, Risk Management-based, dan Technology-driven.

Adapun rincian prinsip SMART borders itu antara lain, pertama, secure (aman). WCO meminta agar Bea Cukai terus bekerja sama dnegan lembaga perbatasan (border agencies) lainnya. Kerja sama ini untuk memperkuat kepercayaan dan transparansi untuk mengamankan dan memfasilitasi perdagangan legal.

Pergerakan yang cepat dan aman dari orang dan barang lintas batas mendorong perdagangan, perjalanan, dan transportasi. Bea Cukai memiliki tugas untuk memfasilitasi aliran tersebut sambil mengamankannya dari terorisme dan ancaman keamanan lain di perbatasan.

Baca Juga: Impor & Ekspor Sementara Kendaraan Bermotor? Cukup Butuh Dokumen Ini

Kedua, measurable (terukur). Pengukuran kinerja sangat penting dalam proses implementasi dan evaluasi. Bea Cukai membutuhkan alat khusus yang berdasarkan tolak ukur secara global. WCO akan memulai diskusi mengenai dampak tersebut dalam pandangan pengembangan alat pengukuran kinerja.

Ketiga, automated (otomatis). Dalam mengejar lingkungan perbatasan yang kurang rumit, Bea Cukai harus bergantung pada proses otomatis tanpa mengabaikan pentingnya melakukan penelitian lanjutan mengenai analisis dampak ancaman keamanan siber. Fokusnya pun harus diperluas ke area seperti forensik digital dan privasi internet.

Keempat, risk management-based (berbasis manajemen risiko). Bea Cukai harus lebih dinamis dalam mengidentifikasi risiko potensial. Selain itu, Bea Cukai harus mengurangi ketergantungan pada pemeriksaan fisik kiriman dengan melakukan studi lebih lanjut tentang analisis prediktif, teknik pembuatan profil, dan bidang terkait lainnya.

Baca Juga: Pentingnya Penggunaan Teknologi oleh Otoritas & Wajib Pajak

Kelimatechnology-driven (berbasis teknologi). Teknologi harus menjadi pendorong utama agenda pabean sehingga anggota WCO lebih siap untuk menanggapi tantangan dan peluang baru di era digital. Teknologi yang sebelumnya muncul seperti blockchain, pencetakan 3D, atau komputasi awan sekarang sedang digunakan dengan baik. Hal yang baru pun sudah muncul, seperti penggunaan data geo-spasial, kecerdasan buatan, robotik, dan drone.

WCO juga akan mengintensifkan kegiatan peningkatan kapasitas untuk memastikan Bea Cukai dipersiapkan, diperlengkapi, dan dilatih secara memadai untuk menghadapi berbagai tantangan. Menurutnya, aspek yang sangat penting adalah pengalokasian sumber daya untuk bidang nonfiskal seperti keamanan dan perlindungan masyarakat.

“Yang pada gilirannya akan menarik lebih banyak perdagangan dan investasi dan dengan demikian menghasilkan kemakmuran ekonomi. Selama 2019, saya mengundang semua anggota WCO untuk mempromosikan dan berbagi informasi tentang upaya mencapai SMAR borders,” papar Kunio Mikuriya. (kaw)

Baca Juga: Hadapi Revolusi Industri 4.0, Ini Andalan Ditjen Bea Cukai
Topik : WCO, bea cukai, SMART borders, teknologi
artikel terkait
Selasa, 12 Desember 2017 | 09:17 WIB
BERITA PAJAK HARI INI
Rabu, 13 Desember 2017 | 09:21 WIB
BERITA PAJAK HARI INI
Jum'at, 03 November 2017 | 09:15 WIB
BERITA PAJAK HARI INI
Senin, 06 November 2017 | 09:19 WIB
BERITA PAJAK HARI INI
berita pilihan
Selasa, 12 Desember 2017 | 09:17 WIB
BERITA PAJAK HARI INI
Rabu, 13 Desember 2017 | 09:21 WIB
BERITA PAJAK HARI INI
Jum'at, 03 November 2017 | 09:15 WIB
BERITA PAJAK HARI INI
Senin, 06 November 2017 | 09:19 WIB
BERITA PAJAK HARI INI
Selasa, 07 November 2017 | 09:36 WIB
BERITA PAJAK HARI INI
Rabu, 08 November 2017 | 09:18 WIB
BERITA PAJAK HARI INI
Senin, 18 Desember 2017 | 09:53 WIB
BERITA PAJAK HARI INI
Selasa, 19 Desember 2017 | 09:44 WIB
BERITA PAJAK HARI INI
Jum'at, 10 November 2017 | 09:12 WIB
BERITA PAJAK HARI INI
Rabu, 20 Desember 2017 | 10:04 WIB
BERITA PAJAK HARI INI