Trusted Indonesian Tax News Portal
DDTC Indonesia
GET
x

Sambangi Menara DDTC, Mahasiswa Untar Belajar Hukum Pajak

A+
A-
1
A+
A-
1
Senior Partner DDTC Danny Septriadi, Partner Tax Research and Training Services DDTC B. Bawono Kristiaji, dan dosen Universitas Tarumanagara (Untar) Henny Wirianata berfoto bersama para mahasiswa saat berkunjung ke Menara DDTC. 

JAKARTA, DDTCNews – Kurikulum pajak yang saat ini diajarkan umumnya hanya membahas tentang undang-undang domestik dan bagaimana cara mengisi surat pemberitahuan (SPT). Padahal, mahasiswa tidak cukup belajar aturan, tetapi juga harus mempelajari sistem pajak di negara lain.

Hal tersebut disampaikan Senior Partner DDTC Danny Septriadi dalam acara kunjungan kerja dan workshop Universitas Tarumanagara (Untar). Menurutnya, komparasi dengan sistem pajak negara lain sangat penting untuk memahami hukum pajak dengan baik.

“Kita harus mempelajari sistem pajak di negara lain agar kita bisa memahami prinsip, hukum, dan administrasi pajak yang lebih modern dan benar dibandingkan dengan negara kita,” ujar Danny, Jumat (15/11/2019).

Baca Juga: Menyoal Desain dan Implementasi Kebijakan Pajak

Oleh karena itu, dia meminta agar mahasiswa Untar aktif melakukan riset yang bisa membandingkan sistem pajak antarnegara. Hal ini sejalan dengan visi DDTC yaitu sebagai institusi pajak berbasis riset dan ilmu pengetahuan yang terus menetapkan standar tinggi dan berkelanjutan.

Dalam kesempatan itu, Danny juga memaparkan topik mengenai tax avoidance dan tax evasion. Tax avoidance, paparnya, merupakan suatu penghindaran dengan memanfaatkan celah pajak. Sementara, tax evasion sebagai suatu tindakan yang benar-benar sengaja untuk tidak membayar pajak.

Danny juga memberikan pemaparan mengenai berbagai kasus yang awalnya berada di ranah pemeriksaan pajak menjadi ranah penegakan hukum pidana. Kasus-kasus tersebut menyangkut pajak penghasilan (PPh) maupun pajak pertambahan nilai (PPN).

Baca Juga: Menimbang Prospect Theory untuk Menggenjot Kepatuhan

“Perusahaan yang sudah settle tidak akan melakukan ini karena akan berpengaruh pada reputasi,” imbuhnya.

Acara yang diikuti sekitar 50 orang mahasiswa dan dosen pendamping Untar ini dibuka langsung oleh Partner Tax Research and Training Services DDTC B. Bawono Kristiaji. Dalam kesempatan itu, dia berpesan kepada mahasiswa bahwa berkarya di sektor pajak tidak cukup hanya belajar, tapi juga harus memiliki integritas dan kemampuan yang baik dalam bekerja dalam tim.

Baca Juga: Iklim Kepatuhan Pajak yang Sinergis atau Antagonis?

Dalam acara ini, HRD DDTC Rika Aryani turut memberikan pemaparan terkait dengan company profile serta informasi program magang. Selain itu, Assistant Manager of Transfer Pricing Services Flouresya Lousha yang merupakan alumnus Untar memberikan pesan kesannya selama menjadi karyawan DDTC. (kaw)

“Kita harus mempelajari sistem pajak di negara lain agar kita bisa memahami prinsip, hukum, dan administrasi pajak yang lebih modern dan benar dibandingkan dengan negara kita,” ujar Danny, Jumat (15/11/2019).

Baca Juga: Menyoal Desain dan Implementasi Kebijakan Pajak

Oleh karena itu, dia meminta agar mahasiswa Untar aktif melakukan riset yang bisa membandingkan sistem pajak antarnegara. Hal ini sejalan dengan visi DDTC yaitu sebagai institusi pajak berbasis riset dan ilmu pengetahuan yang terus menetapkan standar tinggi dan berkelanjutan.

Dalam kesempatan itu, Danny juga memaparkan topik mengenai tax avoidance dan tax evasion. Tax avoidance, paparnya, merupakan suatu penghindaran dengan memanfaatkan celah pajak. Sementara, tax evasion sebagai suatu tindakan yang benar-benar sengaja untuk tidak membayar pajak.

Danny juga memberikan pemaparan mengenai berbagai kasus yang awalnya berada di ranah pemeriksaan pajak menjadi ranah penegakan hukum pidana. Kasus-kasus tersebut menyangkut pajak penghasilan (PPh) maupun pajak pertambahan nilai (PPN).

Baca Juga: Menimbang Prospect Theory untuk Menggenjot Kepatuhan

“Perusahaan yang sudah settle tidak akan melakukan ini karena akan berpengaruh pada reputasi,” imbuhnya.

Acara yang diikuti sekitar 50 orang mahasiswa dan dosen pendamping Untar ini dibuka langsung oleh Partner Tax Research and Training Services DDTC B. Bawono Kristiaji. Dalam kesempatan itu, dia berpesan kepada mahasiswa bahwa berkarya di sektor pajak tidak cukup hanya belajar, tapi juga harus memiliki integritas dan kemampuan yang baik dalam bekerja dalam tim.

Baca Juga: Iklim Kepatuhan Pajak yang Sinergis atau Antagonis?

Dalam acara ini, HRD DDTC Rika Aryani turut memberikan pemaparan terkait dengan company profile serta informasi program magang. Selain itu, Assistant Manager of Transfer Pricing Services Flouresya Lousha yang merupakan alumnus Untar memberikan pesan kesannya selama menjadi karyawan DDTC. (kaw)

Topik : edukasi pajak, hukum pajak, sistem pajak, sengketa, DDTC
Komentar
Dapatkan hadiah berupa smartphone yang diberikan kepada satu orang pemenang dengan komentar terbaik. Pemenang akan dipilih oleh redaksi setiap dua pekan sekali. Ayo, segera tuliskan komentar Anda pada artikel terbaru kanal debat DDTCNews! #MariBicara
*Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
1000 karakter tersisa
artikel terkait
Jum'at, 10 Juni 2016 | 11:55 WIB
HUKUM PAJAK
Jum'at, 03 Februari 2017 | 15:56 WIB
PELATIHAN PAJAK
Senin, 27 Mei 2019 | 11:45 WIB
UNIVERSITAS TERBUKA BATAM
Rabu, 04 September 2019 | 11:55 WIB
DDTCNEWS TAX COMPETITION 2019
berita pilihan
Kamis, 23 Januari 2020 | 07:33 WIB
BERITA PAJAK HARI INI
Rabu, 22 Januari 2020 | 19:01 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2019
Rabu, 22 Januari 2020 | 19:00 WIB
HUBUNGAN BILATERAL
Rabu, 22 Januari 2020 | 18:50 WIB
DAVOS
Rabu, 22 Januari 2020 | 18:32 WIB
PROFIL PERPAJAKAN SLOVAKIA
Rabu, 22 Januari 2020 | 17:57 WIB
LOMBOK BARAT
Rabu, 22 Januari 2020 | 17:13 WIB
UNI EMIRAT ARAB
Rabu, 22 Januari 2020 | 17:01 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2019
Rabu, 22 Januari 2020 | 16:27 WIB
OMNIBUS LAW
Rabu, 22 Januari 2020 | 15:58 WIB
PENGAMPUNAN PAJAK