Trusted Indonesian Tax News Portal
DDTC Indonesia
GET
x

Peritel Desak Digitalisasi Sistem Belanja Bebas Pajak

4
4

Ilustrasi.

JAKARTA, DDTCNews – Ratusan pengusaha ritel terkemuka mendesak Menteri Keuangan Inggris Philip Hammond untuk memodernisasi sistem belanja babas pajak dan pengembalian pajak pertambahan nilai.

Ratusan peritel itu menulis surat tuntutan realisasi janji Menteri Keuangan Inggris Philip Hammond untuk mendigitalisasikan belanja bebas pajak. Pasalnya, masih ada turis dari luar Uni Eropa yang harus mengajukan permohonan VAT refund dengan formulir kertas.

“Hari ini, 600 pengecer terkemuka bersatu untuk memperingatkan Menteri Keuangan bahwa Inggris kehilangan ribuan pembeli wisata internasional setiap tahun ke saingan Eropa,” demikian informasi yang dilansir dari The Sun,Rabu (24/10/2018).

Baca Juga: Duh, 75% Penyedia Strategis ke Pemerintah Berbasis di Negara Tax Haven

Sebagian besar negara Uni Eropa lainnya mengizinkan pembeli mengajukan permohonan pengembalian uang secara online. Namun, Inggris belum menerapkan proses digital meskipun sudah menguraikan rencana modernisasi sistem belanja bebas pajak.

Peritel ingin ada percepatan implementasi rencana modernisasi tersebut. Menurut mereka, jika pemerintah gagal bertindak, akan ada ancaman hilangnya potensi 2,5 miliar pound sterling (sekitar Rp49,2 triliun) dari penjualan ritel bebas pajak setiap tahun.

Surat itu ditandatangani oleh department store besar seperti Harrods, outlet belanja seperti Bicester Village dan kelompok-kelompok seperti British Retail Consortium. Penelitian menunjukkan akan ada peningkatan pajak jika klaim VAT refund bisa dilakukan secara online.

Baca Juga: Kalah Voting, Boris Ajukan Surat Penundaan Brexit

Pusat Penelitian Ekonomi dan Bisnis menunjukkan ada manfaat bersih untuk fiskal hingga 1,90 pound sterling untuk setiap 1 pound sterling yang dikembalikan. Pajak tambahan berasal dari jumlah pengunjung yang lebih banyak serta pengeluaran yang tidak dapat pengembalian pajak, seperti hotel, restoran, dan transportasi. (kaw)

“Hari ini, 600 pengecer terkemuka bersatu untuk memperingatkan Menteri Keuangan bahwa Inggris kehilangan ribuan pembeli wisata internasional setiap tahun ke saingan Eropa,” demikian informasi yang dilansir dari The Sun,Rabu (24/10/2018).

Baca Juga: Duh, 75% Penyedia Strategis ke Pemerintah Berbasis di Negara Tax Haven

Sebagian besar negara Uni Eropa lainnya mengizinkan pembeli mengajukan permohonan pengembalian uang secara online. Namun, Inggris belum menerapkan proses digital meskipun sudah menguraikan rencana modernisasi sistem belanja bebas pajak.

Peritel ingin ada percepatan implementasi rencana modernisasi tersebut. Menurut mereka, jika pemerintah gagal bertindak, akan ada ancaman hilangnya potensi 2,5 miliar pound sterling (sekitar Rp49,2 triliun) dari penjualan ritel bebas pajak setiap tahun.

Surat itu ditandatangani oleh department store besar seperti Harrods, outlet belanja seperti Bicester Village dan kelompok-kelompok seperti British Retail Consortium. Penelitian menunjukkan akan ada peningkatan pajak jika klaim VAT refund bisa dilakukan secara online.

Baca Juga: Kalah Voting, Boris Ajukan Surat Penundaan Brexit

Pusat Penelitian Ekonomi dan Bisnis menunjukkan ada manfaat bersih untuk fiskal hingga 1,90 pound sterling untuk setiap 1 pound sterling yang dikembalikan. Pajak tambahan berasal dari jumlah pengunjung yang lebih banyak serta pengeluaran yang tidak dapat pengembalian pajak, seperti hotel, restoran, dan transportasi. (kaw)

Topik : Inggris, VAT refund, belanja bebas pajak, Philip Hammond
Komentar
Dapatkan hadiah berupa smartphone yang diberikan kepada satu orang pemenang dengan komentar terbaik. Pemenang akan dipilih oleh redaksi setiap dua pekan sekali. Ayo, segera tuliskan komentar Anda pada artikel terbaru kanal debat DDTCNews! #MariBicara
*Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
1000 karakter tersisa
artikel terkait
Sabtu, 10 September 2016 | 14:01 WIB
IRLANDIA
Selasa, 11 Juni 2019 | 16:24 WIB
AUSTRALIA
Rabu, 27 Desember 2017 | 11:18 WIB
INGGRIS
Kamis, 08 September 2016 | 17:20 WIB
AMERIKA SERIKAT
berita pilihan
Jum'at, 11 November 2016 | 17:27 WIB
BRASIL
Kamis, 08 Juni 2017 | 14:18 WIB
ARAB SAUDI
Rabu, 05 Oktober 2016 | 12:33 WIB
AFRIKA SELATAN
Jum'at, 21 Oktober 2016 | 10:03 WIB
SUDAN SELATAN
Kamis, 08 Juni 2017 | 16:55 WIB
BANGLADESH
Jum'at, 21 Oktober 2016 | 12:01 WIB
ITALIA
Kamis, 30 Maret 2017 | 11:35 WIB
INDIA
Jum'at, 14 Juli 2017 | 09:33 WIB
PRANCIS
Kamis, 08 Juni 2017 | 18:36 WIB
UNI EMIRAT ARAB
Jum'at, 05 Mei 2017 | 11:39 WIB
ITALIA