Review
Rabu, 27 Januari 2021 | 16:05 WIB
KONSULTASI PAJAK
Selasa, 26 Januari 2021 | 09:08 WIB
OPINI PAJAK
Minggu, 24 Januari 2021 | 08:01 WIB
KEPALA BAPENDA DKI JAKARTA M. TSANI ANNAFARI:
Rabu, 20 Januari 2021 | 14:18 WIB
KONSULTASI PAJAK
Fokus
Data & Alat
Rabu, 27 Januari 2021 | 09:09 WIB
KURS PAJAK 27 JANUARI - 2 FEBRUARI 2021
Senin, 25 Januari 2021 | 17:51 WIB
STATISTIK IKLIM PAJAK
Rabu, 20 Januari 2021 | 16:43 WIB
STATISTIK PENGHINDARAN PAJAK
Rabu, 20 Januari 2021 | 09:45 WIB
KURS PAJAK 20 JANUARI - 26 JANUARI 2021
Reportase
Perpajakan.id

Mengkaji 'Insentif Hijau' untuk Perbankan

A+
A-
445
A+
A-
445
Mengkaji 'Insentif Hijau' untuk Perbankan

PENERIMAAN pajak tahun ini belum menemui titik terang, seiring dengan dampak pandemi Covid-19 yang menggerus perekonomian. Terjadinya resesi pada kuartal III/2020 semakin mengkhawatirkan karena penerimaan pajak nasional terancam tidak bisa mencapai target akhir tahun.

Realisasi penerimaan pajak semester I-2020 minus 12% dibandingkan dengan capaian periode sama tahun sebelumnya. Penerimaan pajak secara keseluruhan diprediksi menurun, meskipun pemerintah sudah dua kali merevisi target penerimaan pajak 2020.

Tahun ini pemerintah menargetkan pendapatan pajak Rp 1.198 triliun. Pada saat yang sama, banyak sekali belanja untuk mengakomodasi biaya penanganan Covid-19. Pemerintah juga harus menggelontorkan pengeluaran lain untuk stimulus dan program pemulihan ekonomi.

Cara memanfaatkan pandemi ini untuk mendongkrak penerimaan pajak adalah memaksimalkan fungsi regulerend pajak. Sekilas fungsi ini memang terlihat mengurangi pajak, tetapi negara akan mendapatkan efek berganda perekonomian, yang akhirnya juga menambah setoran pajak.

Salah satu efek berganda dari insentif pajak seperti diatur PMK 28/2020, PMK 44/2020, dan yang terbaru PP 29/2020. adalah menjadi stimulus bagi wajib pajak untuk meningkatkan kepatuhannya. Dengan demikian, penerimaan pajak dipastikan akan tetap optimal.

Di tengah kondisi pandemi misalnya, insentif pajak kepada pelaku usaha akan mengoptimalkan pendapatan usaha, sehingga usaha tersebut dapat bertahan di tengah daya beli yang menurun. Akhirnya, pelaku usaha akan tetap mampu membayarkan pajaknya.

Insentif Perbankan
SALAH isu paling krusial dalam penerapan insentif ini adalah sektor usaha yang menerima insentif tersebut. Jika dicermati, sektor keuangan khususnya perbankan dan lembaga keuangan lainnya, adalah sektor yang punya andil besar dalam perekonomian.

Sebagai institusi pemberi kredit, sektor ini juga sebenarnya juga turut bertanggung jawab atas meningkatnya degradasi lingkungan akibat pemberian pinjaman. Untuk itu, sektor perbankan bisa menyusun regulasi dampak lingkungan atau perubahan iklim yang masuk dalam analisis kredit.

Sejalan dengan itu, pemerintah melalui bank dapat memberikan ‘insentif hijau’ kepada debitur yang berkomitmen menurunkankan emisi karbon dalam menjalankan usaha. Insentif ini dapat menurunkan suku bunga kredit, pelonggaran waktu pinjaman, hingga penambahan fasilitas kredit bagi debitur.

Insentif ini juga akan mendorong tumbuhnya pelaku usaha, sehingga otomatis meningkatkan kepatuhan debitur untuk membayar pajak. Pemerintah dapat memberi insentif kepada bank yang berkomitmen menerapkan ‘insentif hijau’ ini.

Insentif pajak ke sektor keuangan ini akan memicu efek berganda. Semakin banyak bank menerapkan ‘insentif hijau’, semakin banyak calon debitur mengajukan kredit ke bank tersebut. Debitur akan turut berkomitmen mengembangkan usaha dengan menurunkan emisi karbon yang dihasilkan.

Meningkatnya jumlah debitur yang mengajukkan kredit ke bank, otomatis meningkatkan pendapatan bank, seiring dengan peningkatan pembayaran pajaknya. Jumlah debitur bank di Indonesia terbilang cukup besar dengan kontribusi sebesar Rp4057,46 triliun (Otoritas Jasa Keuangan, 2019).

Sektor industri dan pengolahan, sektor yang selama ini menjadi penyetor pajak terbesar, adalah debitur bank nomor dua terbesar. Pemberian ‘insentif hijau’ akan efektif menjawab ancaman shortfall dengan optimalisasi penerimaan pajak dari efek berganda yang tercipta dari usaha tersebut.

Penerimaan ini bisa dimulai dari tambahan penerimaan dari bank dan dari penerima kredit. Insentif ini juga akan meningkatkan kepatuha pajak keduanya. Bank akan mendapatkan peningkatan pendapatan dari penurunan pajak dan peningkatan jumlah debitur.

Dari perspektif pemerintah, selain meningkatkan penerimaan, ‘insentif hijau’ juga bisa membantu pemerintah mewujudkan perbaikan lingkungan, menunjang ekosistem pembiayaan berkelanjutan, dan berbagai upaya lain untuk menjaga kelestarian alam.

(Disclaimer)
Topik : lomba menulis DDTC 2020, lomba menulis pajak, insentif perbankan
Komentar
0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.

Adinda

Senin, 30 November 2020 | 22:53 WIB
Saya setuju dengan penerapan insentif hijau. Saya kira akan efektif, apalagi Indonesia melalui paris agreement telah berkomitmen menurunkan emisi sebesar 29% pada tahun 2030, tentu ini bukan suatu hal mudah, perlu kerjasama dari banyak sektor, khususnya perbankan yang memberi kredit kepada pelaku us ... Baca lebih lanjut
1
artikel terkait
Jum'at, 13 November 2020 | 14:30 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2020
Jum'at, 13 November 2020 | 09:42 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2020
Kamis, 12 November 2020 | 14:32 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2020
Kamis, 12 November 2020 | 09:38 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2020
berita pilihan
Rabu, 27 Januari 2021 | 18:50 WIB
KEBIJAKAN FISKAL
Rabu, 27 Januari 2021 | 18:36 WIB
RPP UU CIPTA KERJA
Rabu, 27 Januari 2021 | 18:00 WIB
NIGERIA
Rabu, 27 Januari 2021 | 18:00 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Rabu, 27 Januari 2021 | 17:37 WIB
PENGADILAN PAJAK
Rabu, 27 Januari 2021 | 17:35 WIB
KAMUS HUKUM PAJAK
Rabu, 27 Januari 2021 | 17:34 WIB
KEBIJAKAN PAJAK
Rabu, 27 Januari 2021 | 17:18 WIB
AMERIKA SERIKAT
Rabu, 27 Januari 2021 | 17:00 WIB
KEBIJAKAN PAJAK
Rabu, 27 Januari 2021 | 16:54 WIB
LEMBAGA PENGELOLA INVESTASI