Trusted Indonesian Tax News Portal
|
DDTC Indonesia
GET
x

Kinerja Pajak Awal Tahun Lesu, Ini Pandangan DDTC Fiscal Research

2
2

Fiscal Economist DDTC Fiscal Research Denny Vissaro saat memberikan paparan.

JAKARTA, DDTCNews – Kinerja penerimaan kuartal I/2019 terimbas dari lesunya permintaan dan cenderung menunggunya (wait and see) investor menunggu kepastian Pemilu.

Hal ini dipaparkan DDTC Fiscal Research dalam Indonesia Taxation Quarterly Report (Q1-2019) bertajuk ‘Tax and Digital Economy: Threats and Opportunities’. Seperti diketahui, realisasi pertumbuhan penerimaan nonmigas pada kuartal I/2019 hanya 0,6%.

“Hingga triwulan pertama tahun ini, perekonomian terindikasi melesu akibat melemahnya permintaan dan sikap investor yang cenderung menunggu hingga kepastian Pemilu. Pertumbuhan yang hanya mencapai 0,6% ini masih jauh dari target pertumbuhan tahun ini 19%,” jelas Fiscal Economist DDTC Fiscal Research Denny Vissaro dalam peluncuran laporan kuartalan tersebut, Kamis (2/5/2019).

Baca Juga: Sinergi 3 Ditjen Topang Extra Effort Penerimaan Pajak

Kinerja tersebut, sambungnya, terutama dipengaruhi oleh performa pajak pertambahan nilai (PPN) yang negatif. Namun, kinerja PPN diperkirakan akan meningkat dan memperbaiki pertumbuhan penerimaan pajak secara umum.

Denny mengungkapkan pergerakan impor bahan baku penolong dan barang modal, serta barang konsumsi konsumsi dalam negeri akan membaik sejalan dengan kepastian pasca-pemilu dan menyambut lebaran.

Pada sisi lain, sektor kepabeanan dan cukai menunjukkan kinerja penerimaan yang jauh membaik dari segi penerimaan dan pertumbuhan. Walau demikian, meningkatnya kinerja penerimaan cukai diperkirakan akan semakin jenuh selama tidak ada penambahan objek cukai baru.

Baca Juga: Dorong Kepatuhan, Sinergi 3 Ditjen Ini Bidik Penerimaan Rp50 Triliun

Pada sisi fiskal daerah, terdapat beberapa upaya pembenahan yang dilakukan, baik dari segi administrasi maupun kebijakan. Hal ini dilakukan dalam rangka meningkatkan local taxing power dan menurunkan tingkat ketergantungan daerah kepada pusat.

“Untuk penerimaan negara bukan pajak (PNBP) menunjukkan hasil yang kurang memuaskan pada triwulan I ini khususnya karena pengaruh harga komoditas,” imbuhnya.

Topik mengenai perkembangan terkini penerimaan pajak dan pos pendapatan negara lainnya ini juga menjadi bahasan dalam Indonesia Taxation Quarterly Report (Q1-2019) bertajuk ‘Tax and Digital Economy: Threats and Opportunities’ yang bisa diunduh di sini. (kaw)

Baca Juga: DJP Bidik Target Setoran Pajak 2020 Tumbuh 12%

“Hingga triwulan pertama tahun ini, perekonomian terindikasi melesu akibat melemahnya permintaan dan sikap investor yang cenderung menunggu hingga kepastian Pemilu. Pertumbuhan yang hanya mencapai 0,6% ini masih jauh dari target pertumbuhan tahun ini 19%,” jelas Fiscal Economist DDTC Fiscal Research Denny Vissaro dalam peluncuran laporan kuartalan tersebut, Kamis (2/5/2019).

Baca Juga: Sinergi 3 Ditjen Topang Extra Effort Penerimaan Pajak

Kinerja tersebut, sambungnya, terutama dipengaruhi oleh performa pajak pertambahan nilai (PPN) yang negatif. Namun, kinerja PPN diperkirakan akan meningkat dan memperbaiki pertumbuhan penerimaan pajak secara umum.

Denny mengungkapkan pergerakan impor bahan baku penolong dan barang modal, serta barang konsumsi konsumsi dalam negeri akan membaik sejalan dengan kepastian pasca-pemilu dan menyambut lebaran.

Pada sisi lain, sektor kepabeanan dan cukai menunjukkan kinerja penerimaan yang jauh membaik dari segi penerimaan dan pertumbuhan. Walau demikian, meningkatnya kinerja penerimaan cukai diperkirakan akan semakin jenuh selama tidak ada penambahan objek cukai baru.

Baca Juga: Dorong Kepatuhan, Sinergi 3 Ditjen Ini Bidik Penerimaan Rp50 Triliun

Pada sisi fiskal daerah, terdapat beberapa upaya pembenahan yang dilakukan, baik dari segi administrasi maupun kebijakan. Hal ini dilakukan dalam rangka meningkatkan local taxing power dan menurunkan tingkat ketergantungan daerah kepada pusat.

“Untuk penerimaan negara bukan pajak (PNBP) menunjukkan hasil yang kurang memuaskan pada triwulan I ini khususnya karena pengaruh harga komoditas,” imbuhnya.

Topik mengenai perkembangan terkini penerimaan pajak dan pos pendapatan negara lainnya ini juga menjadi bahasan dalam Indonesia Taxation Quarterly Report (Q1-2019) bertajuk ‘Tax and Digital Economy: Threats and Opportunities’ yang bisa diunduh di sini. (kaw)

Baca Juga: DJP Bidik Target Setoran Pajak 2020 Tumbuh 12%
Topik : penerimaan pajak, DDTC Fiscal Research
artikel terkait
Selasa, 25 Juni 2019 | 19:06 WIB
PENERIMAAN NEGARA
Selasa, 25 Juni 2019 | 18:26 WIB
TATA KELOLA KEUANGAN NEGARA
Selasa, 25 Juni 2019 | 17:38 WIB
PENERIMAAN NEGARA
Selasa, 25 Juni 2019 | 16:39 WIB
PENERIMAAN NEGARA
berita pilihan
Senin, 08 April 2019 | 11:30 WIB
KEBIJAKAN PAJAK
Jum'at, 15 Juni 2018 | 18:05 WIB
KREDIT PAJAK
Rabu, 06 Maret 2019 | 11:54 WIB
PEREKONOMIAN INDONESIA
Kamis, 31 Januari 2019 | 17:33 WIB
INSENTIF FISKAL
Rabu, 13 Maret 2019 | 12:39 WIB
KEPATUHAN PAJAK
Rabu, 13 Maret 2019 | 11:29 WIB
KEPATUHAN PAJAK
Selasa, 09 Oktober 2018 | 19:27 WIB
PERTEMUAN TAHUNAN IMF-BANK DUNIA
Jum'at, 12 April 2019 | 11:51 WIB
PEREKONOMIAN GLOBAL
Jum'at, 23 September 2016 | 17:01 WIB
PEMERIKSAAN BPK
Selasa, 29 Januari 2019 | 11:54 WIB
KEBIJAKAN CUKAI