Review
Jum'at, 05 Maret 2021 | 08:55 WIB
TAJUK PAJAK
Rabu, 03 Maret 2021 | 15:50 WIB
KONSULTASI PAJAK
Selasa, 02 Maret 2021 | 09:40 WIB
OPINI PAJAK
Jum'at, 26 Februari 2021 | 10:30 WIB
TAJUK PAJAK
Fokus
Data & Alat
Jum'at, 05 Maret 2021 | 17:54 WIB
STATISTIK ADMINISTRASI PAJAK
Rabu, 03 Maret 2021 | 09:15 WIB
KURS PAJAK 3 MARET - 9 MARET 2021
Senin, 01 Maret 2021 | 10:15 WIB
KMK 13/2021
Rabu, 24 Februari 2021 | 09:05 WIB
KURS PAJAK 24 FEBRUARI - 2 MARET 2021
Reportase
Perpajakan.id

KIHT Terpadu Pertama Siap Dibangun di Kalimantan

A+
A-
2
A+
A-
2
KIHT Terpadu Pertama Siap Dibangun di Kalimantan

Presiden Joko Widodo beserta rombongan meninjau Kawasan Industri Hasil Tembakau (KIHT) di Batang, beberapa waktu lalu. (Foto: Antara)

SINGKAWANG, DDTCNews - Ditjen Bea dan Cukai (DJBC) bersiap membangun kawasan industri hasil tembakau (KIHT) terpadu di Pulau Kalimantan, yakni di Kota Singkawang, Kalimantan Barat.

Kepala Kantor Bea Cukai Sintete Denny Prasetyanto mengatakan pembangunan KIHT terpadu tersebut menjadi salah satu strategi DJBC menekan peredaran rokok ilegal.

Menurutnya Singkawang akan menyusul Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, yang telah mengoperasikan KIHT terpadu perdana di Indonesia. "KIHT merupakan pendekatan kepada pengusaha rokok ilegal untuk menjadi legal," katanya dalam keterangan tertulis, Selasa (1/9/2020).

Baca Juga: Kerugian Rp8,8 Triliun, Otoritas Diminta Serius Berantas Rokok Ilegal

Denny mengatakan rencana pembangunan KIHT terpadu tersebut telah dibicarakan bersama Pemerintah Kota Singkawang, sejak Juli 2020. Menurutnya Pemkot Singkawang juga mendukung rencana DJBC karena dapat mendorong pertumbuhan perekonomian daerah.

Ia menjelaskan KIHT terpadu adalah kawasan pemusatan kegiatan industri hasil tembakau yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung. Dengan fasilitas tersebut, dia berharap para produsen rokok lebih mudah mengembangkan produksinya secara legal.

Menurutnya Menteri Keuangan Sri Mulyani juga telah menerbitkan payung hukum berupa Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 21/PMK.04/2020 tentang Kawasan Industri Hasil Tembakau.

Baca Juga: Pengusaha Minta Kenaikan Tarif Cukai Minol Disetop Sementara

Pada KIHT terpadu itulah, sambungnya, DJBC akan hadir memberikan pelayanan, pembinaan industri, serta mengawasi produksi dan peredaran hasil tembakaunya.

Denny juga menyiapkan fasilitas untuk produsen rokok yang beroperasi di KIHT terpadu tersebut, salah satunya penundaan pembayaran cukai sampai 90 hari sejak pemesanan pita cukai. "Keuntungan lain yang ditawarkan adalah kemudahan kegiatan berusaha dan perizinan," ujarnya. (Bsi)

Baca Juga: Berkawan dengan Dirjen WTO, Sri Mulyani Siap Bantu Mendag
Topik : KIHT, cukai, sri mulyani, kalimantan, kawasan industri hasil tembakau
Komentar
0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.
artikel terkait
Sabtu, 27 Februari 2021 | 12:01 WIB
INSENTIF KEPABEANAN
Jum'at, 26 Februari 2021 | 14:30 WIB
KEUANGAN NEGARA
Jum'at, 26 Februari 2021 | 10:30 WIB
TAJUK PAJAK
Kamis, 25 Februari 2021 | 18:40 WIB
PERLUASAN OBJEK CUKAI
berita pilihan
Sabtu, 06 Maret 2021 | 15:01 WIB
UNI EROPA
Sabtu, 06 Maret 2021 | 14:01 WIB
KABUPATEN BADUNG
Sabtu, 06 Maret 2021 | 13:01 WIB
SELEKSI CPNS
Sabtu, 06 Maret 2021 | 12:01 WIB
KEPATUHAN PAJAK
Sabtu, 06 Maret 2021 | 11:00 WIB
INFOGRAFIS PAJAK
Sabtu, 06 Maret 2021 | 09:01 WIB
PROVINSI DKI JAKARTA
Sabtu, 06 Maret 2021 | 08:01 WIB
BERITA PAJAK SEPEKAN
Sabtu, 06 Maret 2021 | 07:30 WIB
INSENTIF PPnBM
Sabtu, 06 Maret 2021 | 07:00 WIB
KOMIK PAJAK