Trusted Indonesian Tax News Portal
DDTC Indonesia
GET
x

DJP: Pengawasan Kepatuhan Terhadap WP Tidak Seragam Lagi

8
8

Ilustrasi gedung DJP.

JAKARTA, DDTCNews – Diterapkannya pengawasan kepatuhan berbasis risiko atau compliance risk management (CRM) akan membuat perlakuan terhadap wajib pajak (WP) tidak seragam lagi. Topik tersebut menjadi bahasan beberapa media nasional pada hari ini, Senin (16/9/2019).

Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Ditjen Pajak (DJP) Hestu Yoga Saksama mengatakan dalam model pengawasan yang lama, semua WP diperlakukan secara seragam sehingga menimbulkan ketidakadilan antara WP patuh dan WP tidak patuh.

“CRM memungkinkan otoritas membangun profil risiko WP secara lebih canggih dan akurat. Dengan profil risiko yang semakin canggih tersebut DJP dapat melayani WP secara lebih spesifik disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan WP yang bersangkutan,” ujarnya.

Baca Juga: Ketentuan Tax Holiday di Kawasan Ekonomi Khusus Bakal Direvisi

Kepada WP yang ingin patuh, DJP akan membantu agar mudah dalam melaksanakan kewajiban perpajakan mereka. Sebaliknya, kepada WP yang dengan sengaja menolak untuk melaksanakan kewajiban perpajakannya, DJP akan tegas menindak sesuai ketentuan.

Selain itu, beberapa media nasional juga menyoroti tentang kebijakan cukai di Indonesia. Otoritas membantah jika ekstensifikasi cukai di Tanah Air dikatakan tertinggal. Menurut otoritas, penentuan objek cukai baru butuh pertimbangan matang dan disesuaikan dengan karakteristik negara.

Berikut ulasan berita selengkapnya.

Baca Juga: Apakah Dana Repatriasi Bakal Lari ke Luar Negeri? Ini Kata Pengusaha
  • Pengelolaan Sumber Daya

Paradigma baru yang ada dalam CRM pada gilirannya menggantikan cara pandang lama bahwa antara WP dan DJP terdapat sikap saling tidak percaya dan curiga. Hal tersebut dapat menghambat terciptanya kepatuhan sukarela yang berkelanjutan.

Selain itu, penerapan pengawasan berbasis risiko diyajini akan membantu otoritas dalam melayani WP dengan lebih adil dan transparan. Otoritas juga bisa mengelola sumber daya secara lebih efektif dan efisien sehingga dapat membantu mewujudkan kepatuhan yang lebih optimal dan berkelanjutan.

  • Tidak Harus Sama

Kepala Subdirektorat Komunikasi dan Publikasi Ditjen Bea dan Cukai (DJBC) Deni Surjantoro mengungkapkan dalam konteks ekstensifikasi barang kena cukai, pemerintah mempertimbangkan banyak aspek. Beberapa aspek itu tidak terkecuali terkait dengan industri, budaya, sosial ekonomi, dan lingkungan.

Baca Juga: Risiko Shortfall Membengkak, Ini Langkah Lanjutan Ditjen Pajak

“Jadi, tidak bisa setiap negara harus sama. Tapi kita juga mencermati best practice secara internasional,” katanya.

  • Alasan Kenaikan Tarif

Direktur Teknis dan Fasilitas Cukai DJBC Nirwala Dwi Heryanto mengatakan ada beberapa aspek yang menjadi pertimbangan otoritas untuk menaikan tarif cukai hasil tembakau (CHT) dengan rata-rata sebesar 23% pada 2020.

Pertama, kenaikan produksi rokok yang mencapai 3%. Kedua, naiknya produksi rokok memberikan efek yang tidak bagus untuk kesehatan. Apalagi, angka prevalensinya naik 1% dari dari 32,8% ke 33,8%. Ketiga, harga transaksi pasar berada di posisi 10,2% di atas harga jual eceran.

Baca Juga: Uji Kepatuhan, DJP Gunakan Daftar Sasaran Prioritas WP yang Diperiksa
  • Larangan Transaksi

Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) bakal kembali mengupayakan pelarangan transaksi uang tunai di atas Rp 100 juta menjadi undang-undang. Ketentuan akan termuat dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) Pembatasan Transaksi Uang Kartal.

Ketua PPATK Kiagus Ahmad Badaruddin mengatakan rencana pembahasan RUU sudah dilakukan pada awal tahun lalu. Namun, PPATK belum membahas secara intensif dengan DPR karena situasi politik yang dinilai kurang stabil.

“RUU ini seharusnya bisa menjadi UU sebagai metode preventif dan mengurangi tindak pidana pencucian uang dan penyuapan yang akhirnya berujung pada operasi tangkap tangan [OTT] KPK,” imbuhnya. (kaw)

Baca Juga: Akhir 2019, Ratusan Triliun Dana Repatriasi Tax Amnesty Bebas Bergerak

“CRM memungkinkan otoritas membangun profil risiko WP secara lebih canggih dan akurat. Dengan profil risiko yang semakin canggih tersebut DJP dapat melayani WP secara lebih spesifik disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan WP yang bersangkutan,” ujarnya.

Baca Juga: Ketentuan Tax Holiday di Kawasan Ekonomi Khusus Bakal Direvisi

Kepada WP yang ingin patuh, DJP akan membantu agar mudah dalam melaksanakan kewajiban perpajakan mereka. Sebaliknya, kepada WP yang dengan sengaja menolak untuk melaksanakan kewajiban perpajakannya, DJP akan tegas menindak sesuai ketentuan.

Selain itu, beberapa media nasional juga menyoroti tentang kebijakan cukai di Indonesia. Otoritas membantah jika ekstensifikasi cukai di Tanah Air dikatakan tertinggal. Menurut otoritas, penentuan objek cukai baru butuh pertimbangan matang dan disesuaikan dengan karakteristik negara.

Berikut ulasan berita selengkapnya.

Baca Juga: Apakah Dana Repatriasi Bakal Lari ke Luar Negeri? Ini Kata Pengusaha
  • Pengelolaan Sumber Daya

Paradigma baru yang ada dalam CRM pada gilirannya menggantikan cara pandang lama bahwa antara WP dan DJP terdapat sikap saling tidak percaya dan curiga. Hal tersebut dapat menghambat terciptanya kepatuhan sukarela yang berkelanjutan.

Selain itu, penerapan pengawasan berbasis risiko diyajini akan membantu otoritas dalam melayani WP dengan lebih adil dan transparan. Otoritas juga bisa mengelola sumber daya secara lebih efektif dan efisien sehingga dapat membantu mewujudkan kepatuhan yang lebih optimal dan berkelanjutan.

  • Tidak Harus Sama

Kepala Subdirektorat Komunikasi dan Publikasi Ditjen Bea dan Cukai (DJBC) Deni Surjantoro mengungkapkan dalam konteks ekstensifikasi barang kena cukai, pemerintah mempertimbangkan banyak aspek. Beberapa aspek itu tidak terkecuali terkait dengan industri, budaya, sosial ekonomi, dan lingkungan.

Baca Juga: Risiko Shortfall Membengkak, Ini Langkah Lanjutan Ditjen Pajak

“Jadi, tidak bisa setiap negara harus sama. Tapi kita juga mencermati best practice secara internasional,” katanya.

  • Alasan Kenaikan Tarif

Direktur Teknis dan Fasilitas Cukai DJBC Nirwala Dwi Heryanto mengatakan ada beberapa aspek yang menjadi pertimbangan otoritas untuk menaikan tarif cukai hasil tembakau (CHT) dengan rata-rata sebesar 23% pada 2020.

Pertama, kenaikan produksi rokok yang mencapai 3%. Kedua, naiknya produksi rokok memberikan efek yang tidak bagus untuk kesehatan. Apalagi, angka prevalensinya naik 1% dari dari 32,8% ke 33,8%. Ketiga, harga transaksi pasar berada di posisi 10,2% di atas harga jual eceran.

Baca Juga: Uji Kepatuhan, DJP Gunakan Daftar Sasaran Prioritas WP yang Diperiksa
  • Larangan Transaksi

Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) bakal kembali mengupayakan pelarangan transaksi uang tunai di atas Rp 100 juta menjadi undang-undang. Ketentuan akan termuat dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) Pembatasan Transaksi Uang Kartal.

Ketua PPATK Kiagus Ahmad Badaruddin mengatakan rencana pembahasan RUU sudah dilakukan pada awal tahun lalu. Namun, PPATK belum membahas secara intensif dengan DPR karena situasi politik yang dinilai kurang stabil.

“RUU ini seharusnya bisa menjadi UU sebagai metode preventif dan mengurangi tindak pidana pencucian uang dan penyuapan yang akhirnya berujung pada operasi tangkap tangan [OTT] KPK,” imbuhnya. (kaw)

Baca Juga: Akhir 2019, Ratusan Triliun Dana Repatriasi Tax Amnesty Bebas Bergerak
Topik : berita pajak hari ini, berita pajak, pengawasan pajak, CRM, compliance risk management
Komentar
Dapatkan hadiah berupa merchandise DDTCNews masing-masing senilai Rp250.000 yang diberikan kepada dua orang pemenang. Redaksi akan memilih pemenang setiap dua pekan sekali, dengan berkomentar pada artikel terbaru kanal debat DDTCNews!! #MariBicara
*Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
1000 karakter tersisa
artikel terkait
Sabtu, 03 November 2018 | 13:40 WIB
WORLDWIDE TAX SYSTEM
Jum'at, 27 September 2019 | 09:54 WIB
WORLD TRANSFER PRICING
Kamis, 22 November 2018 | 16:19 WIB
WORLD TRANSFER PRICING
Jum'at, 25 Agustus 2017 | 12:05 WIB
WORKSHOP PAJAK INTERNASIONAL
berita pilihan
Senin, 08 April 2019 | 11:30 WIB
KEBIJAKAN PAJAK
Senin, 08 Juli 2019 | 18:02 WIB
TRANSFER PRICING
Rabu, 02 Oktober 2019 | 19:10 WIB
REFORMASI PAJAK
Rabu, 13 Maret 2019 | 15:39 WIB
TATA PEMERINTAHAN
Sabtu, 24 September 2016 | 12:03 WIB
PENGAMPUNAN PAJAK
Jum'at, 23 Desember 2016 | 10:15 WIB
PENAGIHAN PAJAK
Senin, 29 Oktober 2018 | 09:54 WIB
BERITA PAJAK HARI INI
Senin, 09 Januari 2017 | 17:06 WIB
PENGAMPUNAN PAJAK
Kamis, 11 Agustus 2016 | 16:52 WIB
KANWIL DJP YOGYAKARTA
Kamis, 22 September 2016 | 12:01 WIB
PENGAMPUNAN PAJAK