Review
Selasa, 04 Oktober 2022 | 10:44 WIB
KONSULTASI UU HPP
Kamis, 29 September 2022 | 16:16 WIB
KONSULTASI PAJAK
Selasa, 27 September 2022 | 11:55 WIB
KONSULTASI UU HPP
Minggu, 25 September 2022 | 11:30 WIB
KEPALA BAPENDA RIAU SYAHRIAL ABDI
Fokus
Literasi
Rabu, 05 Oktober 2022 | 18:30 WIB
KAMUS PAJAK
Senin, 03 Oktober 2022 | 18:30 WIB
KAMUS PAJAK
Senin, 03 Oktober 2022 | 17:11 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Senin, 03 Oktober 2022 | 15:00 WIB
TIPS PAJAK
Data & Alat
Rabu, 05 Oktober 2022 | 09:01 WIB
KURS PAJAK 5 OKTOBER - 11 OKTOBER 2022
Selasa, 04 Oktober 2022 | 16:15 WIB
KMK 50/2022
Rabu, 28 September 2022 | 09:39 WIB
KURS PAJAK 28 SEPTEMBER - 04 OKTOBER 2022
Rabu, 21 September 2022 | 08:33 WIB
KURS PAJAK 21 SEPTEMBER - 27 SEPTEMBER 2022
Reportase

Bunga dari P2P Lending Kena Pajak, Bagaimana Perlakuan Pajaknya?

A+
A-
20
A+
A-
20
Bunga dari P2P Lending Kena Pajak, Bagaimana Perlakuan Pajaknya?

Pertanyaan:
PERKENALKAN nama saya Rifka. Saya adalah seorang pegawai swasta yang tinggal di Surabaya. Selain mendapatkan gaji sebagai karyawan, saya juga memperoleh penghasilan berupa bunga dari peer-to-peer (P2P) lending sebagai seorang lender atau pemberi pinjaman.

Baru-baru ini, saya menyadari bahwa bunga yang saya terima telah dipotong dengan pajak penghasilan (PPh) Pasal 23. Pertanyaan saya, apakah saya memiliki kewajiban perpajakan sebagai seorang lender? Jika ya, bagaimana ketentuannya?

Jawaban:
TERIMA kasih Ibu Rifka atas pertanyaannya. Mengacu pada Pasal 3 ayat (2) Peraturan Menteri Keuangan No. 69 Tahun 2022 tentang Pajak Penghasilan dan Pajak Pertambahan Nilai atas Penyelenggaraan Teknologi Finansial (PMK 69/2022), bunga yang diterima atau diperoleh lender melalui P2P lending menjadi objek PPh.

Dalam konteks ini, lender dapat dikenakan satu dari jenis pemotongan PPh berikut. Jika lender merupakan wajib pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap (BUT), bunga yang diterima atau diperoleh lender akan dipotong PPh Pasal 23 sebesar 15%.

Sementara itu, jika lender merupakan wajib pajak luar negeri selain BUT, penghasilan berupa bunga yang diterima atau diperoleh lender akan dipotong dengan PPh Pasal 26. Adapun besaran tarif PPh Pasal 26 yang berlaku ialah sebesar 20% atau sesuai dengan ketentuan dalam persetujuan penghindaran pajak berganda (P3B).

Selanjutnya, penyelenggara P2P lending akan memberikan bukti pemotongan PPh Pasal 23/26 kepada setiap lender, menyetorkan PPh kepada negara, dan melaporkan surat pemberitahuan (SPT) masa PPh. Meski demikian, lender memiliki kewajiban perpajakannya sendiri terkait bunga yang diterima atau diperoleh melalui P2P lending yang perlu dituntaskan.

Berdasarkan pada Pasal 3 ayat (1) PMK 69/2022, lender wajib melaporkan penghasilan bunga dalam SPT tahunan menggunakan form 1770SS, 1770S, atau 1770. Penghasilan bunga dilaporkan dalam SPT Tahunan pada kategori ‘Penghasilan Neto Dalam Negeri Lainnya’.

Jumlah yang dilaporkan adalah total penghasilan yang diterima atau diperoleh dalam satu tahun pajak. Dalam penghitungan perpajakannya, penghasilan bunga akan diakumulasikan dengan jenis penghasilan umum lainnya.

Berikutnya, akumulasi penghasilan tersebut akan disesuaikan dengan biaya pengurang (personal exemption) dan dikenakan tarif PPh progresif. Tidak ketinggalan, lender juga perlu memasukkan kredit PPh Pasal 23 yang telah dibayarkan sesuai dengan bukti potong yang telah diterima dari penyelenggara P2P lending.

Apabila setelah hasil penghitungan diketahui lender mengalami kurang bayar, lender wajib menyetorkan pajak yang masih terutang. Sebaliknya, jika mengalami lebih bayar maka lender dapat mengajukan pengembalian kelebihan pembayaran pajak.

Tidak hanya itu, lender juga diimbau untuk melaporkan harta berupa investasi P2P lending dalam SPT tahunan. Lender dapat melaporkan aset tersebut dalam SPT tahunan bagian ‘Daftar Harta Pada Akhir Tahun’. Demikian jawaban yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat.

Sebagai informasi, artikel Konsultasi UU HPP akan hadir setiap Selasa guna menjawab pertanyaan terkait UU HPP beserta peraturan turunannya yang diajukan ke email [email protected]. Bagi Anda yang ingin mengajukan pertanyaan, silakan langsung mengirimkannya ke alamat email tersebut.

(Disclaimer)

Cek berita dan artikel yang lain di Google News.

Topik : Konsultasi UU HPP, DDTC Fiscal Research & Advisory, konsultasi pajak, pajak, P2P Lending, PMK 69/2022, UU HPP

KOMENTAR

0/1000
Pastikan anda login dalam platform dan berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

Rabu, 05 Oktober 2022 | 08:33 WIB
SELEKSI HAKIM AGUNG

8 Calon Hakim Agung TUN Khusus Pajak Ini Lulus Seleksi Administrasi

Selasa, 04 Oktober 2022 | 18:04 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Penyelenggara e-Commerce Jadi Pemungut Pajak? Ini Kata Pemerintah

Selasa, 04 Oktober 2022 | 17:36 WIB
KERJA SAMA PERPAJAKAN

Wah, Ditjen Pajak dan Korlantas Polri Teken Kerja Sama Pertukaran Data

Selasa, 04 Oktober 2022 | 17:00 WIB
PROGRAM PENGUNGKAPAN SUKARELA

Ditjen Pajak Sebut Ada 2.422 Peserta PPS yang Harus Repatriasi Harta

berita pilihan

Rabu, 05 Oktober 2022 | 18:40 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Perseroan Perorangan Pakai PPh Final, DJP: Ada Kewajiban Pelaporan

Rabu, 05 Oktober 2022 | 18:30 WIB
KAMUS PAJAK

Apa Itu Anjak Piutang dalam Perpajakan?

Rabu, 05 Oktober 2022 | 18:00 WIB
KEBIJAKAN PEMERINTAH

Inflasi Capai 5,95 Persen, BKF: Lebih Rendah dari Proyeksi Pemerintah

Rabu, 05 Oktober 2022 | 17:30 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Masih Proses, Integrasi CRM Bikin Peta Kepatuhan WP Lebih Komprehensif

Rabu, 05 Oktober 2022 | 17:15 WIB
DDTC ACADEMY

Ketahui Aspek Transfer Pricing Pertambangan Batu Bara pada Kelas Ini

Rabu, 05 Oktober 2022 | 16:30 WIB
KPP PRATAMA BINTAN

Adakan KPDL, Petugas Pajak Temukan Perusahaan Belum Punya NPWP

Rabu, 05 Oktober 2022 | 16:00 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Banyak Temuan BPK Soal Insentif Pajak, Begini Update Tindak Lanjut DJP

Rabu, 05 Oktober 2022 | 15:30 WIB
OPERASI JARING SRIWIJAYA 2022

DJBC Gagalkan Penyelundupan Barang Rp244 M di Perairan Indonesia Barat

Rabu, 05 Oktober 2022 | 15:10 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2022

Mengantisipasi Risiko Hilangnya Potensi Pajak dari Sharing Economy