JAKARTA, DDTCNews - Indonesia masih belum menerapkan kebijakan khusus guna merespons bea masuk resiprokal yang diterapkan oleh Amerika Serikat (AS).
Menurut Kementerian Koordinator (Kemenko) Perekonomian, Indonesia masih menghitung dampak pengenaan bea masuk terhadap ekonomi Indonesia dan akan mengambil langkah guna memitigasi dampak negatif dari bea masuk resiprokal.
"Selama ini produk ekspor utama Indonesia di pasar AS antara lain adalah elektronik, tekstil dan produk tekstil, alas kaki, palm oil, karet, furnitur, udang dan produk-produk perikanan laut. Pemerintah Indonesia akan segera menghitung dampak pengenaan tarif AS terhadap sektor-sektor tersebut," tulis Kemenko Perekonomian dalam keterangan resminya, dikutip Jumat (4/4/2025).
Sebelum berlakunya bea masuk resiprokal, pemerintah mengaku telah mempersiapkan beragam strategi guna merespons kebijakan tersebut.
Tim lintas kementerian, perwakilan Indonesia di AS, dan para pelaku usaha telah berkoordinasi secara intensif untuk bersiap menghadapi bea masuk resiprokal AS. Indonesia juga sudah mengirimkan delegasi guna bernegosiasi dengan pemerintah AS.
Tak hanya itu, Indonesia juga telah menjawab masalah yang diangkat oleh US Trade Representative (USTR) dalam laporan National Trade Estimate (NTE) 2025.
Selain berkomunikasi dengan AS, Indonesia juga telah berkomunikasi dengan Malaysia selaku pemegang keketuaan Asean. Menurut Indonesia, Asean perlu mengambil langkah bersama mengingat semua anggota negara Asean terdampak oleh bea masuk resiprokal AS.
Adapun Presiden Prabowo Subianto telah meminta kementerian untuk menyederhanakan regulasi yang berlaku dan menghapuskan hambatan-hambatan nontarif.
"Hal ini juga sejalan dalam upaya meningkatkan daya saing, menjaga kepercayaan pelaku pasar dan menarik investasi untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi," tulis Kemenko Perekonomian. (sap)