Fokus
Literasi
Kamis, 30 Juni 2022 | 13:45 WIB
SIR THOMAS STAMFORD RAFFLES
Kamis, 30 Juni 2022 | 10:30 WIB
KAMUS KEPABEANAN
Rabu, 29 Juni 2022 | 15:00 WIB
TIPS PAJAK
Senin, 27 Juni 2022 | 18:30 WIB
KAMUS KEPABEANAN
Data & Alat
Rabu, 29 Juni 2022 | 08:45 WIB
KURS PAJAK 26 JUNI - 5 JULI 2022
Selasa, 28 Juni 2022 | 19:00 WIB
STATISTIK CUKAI DUNIA
Rabu, 22 Juni 2022 | 13:15 WIB
STATISTIK KEBIJAKAN PAJAK
Rabu, 22 Juni 2022 | 08:53 WIB
KURS PAJAK 22 JUNI - 28 JUNI 2022
Komunitas
Kamis, 30 Juni 2022 | 11:30 WIB
PROGRAM PENGUNGKAPAN SUKARELA
Rabu, 29 Juni 2022 | 16:01 WIB
DDTC ACADEMY - EXCLUSIVE SEMINAR
Rabu, 29 Juni 2022 | 11:00 WIB
PROGRAM PENGUNGKAPAN SUKARELA
Selasa, 28 Juni 2022 | 20:01 WIB
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Reportase
Perpajakan ID

Begini Simulasi Penerapan Batas Waktu PPh Final UMKM untuk WP Badan

A+
A-
9
A+
A-
9
Begini Simulasi Penerapan Batas Waktu PPh Final UMKM untuk WP Badan

Ilustrasi. Pekerja menjemur tepung aci di Sukaraja, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (17/6/2021). Pemerintah menyatakan hasil pelaksanaan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) klaster dukungan UMKM membantu mayoritas penerima manfaat dapat bertahan selama pandemi Covid-19. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/rwa.

JAKARTA, DDTCNews – Ditjen Pajak (DJP) kembali mengingatkan pengenaan pajak penghasilan (PPh) final UMKM PP 23/2018 bagi wajib pajak badan ada batas waktunya.

Sesuai dengan PP 23/20218, batas waktu 3 tahun pajak untuk wajib pajak badan perseroan terbatas (PT). Kemudian, batas waktu 4 tahun pajak bagi wajib pajak badan berbentuk koperasi, persekutuan komanditer, atau firma.

“Setelah berakhirnya jangka waktu, wajib pajak badan tersebut melaksanakan kewajiban perpajakan sesuai ketentuan umum UU PPh untuk tahun pajak-tahun pajak berikutnya,” kata DJP dalam unggahan di Instagram, dikutip pada Selasa (13/7/2021).

Baca Juga: One on One dengan Usahawan, Tim KP2KP Ungkap Cara Hitung Pajak UMKM

Dengan demikian, pengenaan tarif umum PPh berlaku meskipun peredaran bruto wajib pajak badan masih kurang dari Rp4,8 miliar setahun. Dalam bagian Penjelasan PP 23/2018, pemerintah memberikan contoh penerapan ketentuan tersebut.

Contoh Wajib Pajak Badan Berbentuk CV

CV JK memiliki usaha penjualan gerabah dan terdaftar sebagai wajib pajak pada tanggal 4 Agustus 2016.

Peredaran bruto yang diperoleh CV JK:

Baca Juga: DJP Sebut PPS Beri Kesempatan Bagi WP Masuk Sistem Secara Sukarela
  • Tahun 2018: Rp1 miliar
  • Tahun 2019: Rp2 miliar
  • Tahun 2020: Rp2,5 miliar
  • Tahun 2021: Rp3 miliar

CV JK dikenai PPh final dalam jangka waktu 4 tahun pajak, yaitu sejak berlakunya PP 23/2018 sampai dengan tahun pajak 2021.

Untuk tahun pajak 2022 dan tahun pajak - tahun pajak berikutnya dikenai PPh berdasarkan pada tarif Pasal 17 ayat (2a) atau Pasal 17 ayat (2a) dan Pasal 31E UU PPh.

Contoh Wajib Pajak Badan Berbentuk PT

PT ABC memiliki usaha bengkel mobil dan terdaftar sebagai wajib pajak pada tanggal 24 Januari 2019.

Baca Juga: Tawarkan SUN Khusus PPS, Pemerintah Raup Rp659 Miliar dan US$5,8 Juta

Peredaran bruto yang diperoleh PT ABC:

  • Tahun 2019: Rp100 juta
  • Tahun 2020: Rp200 juta
  • Tahun 2021: Rp300 juta
  • Tahun 2022: Rp400 juta

PT ABC dikenai PPh final dalam jangka waktu 3 tahun pajak, yaitu sejak tahun pajak 2019 sampai dengan tahun pajak 2021.

Untuk tahun pajak 2022 dan tahun pajak - tahun pajak berikutnya dikenai PPh berdasarkan pada tarif Pasal 17 ayat (2a) atau Pasal 17 ayat (2a) dan Pasal 31E UU PPh.

Baca Juga: Ajak Wajib Pajak Ikut PPS, Hamish Daud: Jangan Tunda Lagi

Dalam PP tersebut masih dijelaskan adanya penggunaan Pasal 31E UU PPh. Sesuai dengan pasal tersebut, wajib pajak dalam negeri beromzet sampai dengan Rp50 miliar mendapat fasilitas pengurangan tarif sebesar 50% dari tarif umum (Pasal 17) yang dikenakan atas penghasilan kena pajak dari bagian peredaran bruto sampai dengan Rp4,8 miliar.

Namun, melalui revisi UU Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP), pemerintah berencana menghapus Pasal 31E UU PPh tersebut. Simak ‘Rencananya, Fasilitas Pengurangan Tarif 50% Pasal 31E UU PPh Dihapus’ dan ‘Ini Alasan Pemerintah Hapus Fasilitas Diskon Tarif Pasal 31E UU PPh’. (kaw)

Baca Juga: DJP Putuskan Tambah Server PPS, Antisipasi Lonjakan Jumlah Wajib Pajak
Topik : PPh final, UMKM, PP 23/2018, wajib pajak badan, Ditjen Pajak, DJP

KOMENTAR

0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

Selasa, 28 Juni 2022 | 17:55 WIB
ADMINISTRASI PAJAK

NIK Jadi NPWP Mulai 2023, Siapa yang Wajib Bayar Pajak?

Selasa, 28 Juni 2022 | 17:30 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Perpanjang Lagi Waktu Lapor SPT Tahunan? DJP Ingatkan Aturan Ini

Selasa, 28 Juni 2022 | 16:30 WIB
KPP PRATAMA SINGKAWANG

Pakai Data Kepemilikan Tanah dan Kendaraan, Petugas Ajak WP Ikut PPS

Selasa, 28 Juni 2022 | 16:15 WIB
PROGRAM PENGUNGKAPAN SUKARELA

Temui Laman PPS Eror? Ikuti Saran DJP Berikut Ini

berita pilihan

Kamis, 30 Juni 2022 | 14:30 WIB
KP2KP BENTENG

One on One dengan Usahawan, Tim KP2KP Ungkap Cara Hitung Pajak UMKM

Kamis, 30 Juni 2022 | 14:02 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

DJP Sebut PPS Beri Kesempatan Bagi WP Masuk Sistem Secara Sukarela

Kamis, 30 Juni 2022 | 13:45 WIB
SIR THOMAS STAMFORD RAFFLES

'Monopoli Itu Seperti Perbudakan!'

Kamis, 30 Juni 2022 | 13:30 WIB
KP2KP SENDAWAR

Verifikasi Data Calon PKP, Pegawai Pajak Tinjau Lokasi WP Arsitektur

Kamis, 30 Juni 2022 | 13:00 WIB
INFOGRAFIS PAJAK

Implementasi Pajak Warisan dan Tarifnya di Negara-Negara Eropa

Kamis, 30 Juni 2022 | 12:35 WIB
SELEKSI HAKIM AGUNG

Tok! DPR Resmi Setujui Satu Nama Calon Hakim Agung TUN Khusus Pajak

Kamis, 30 Juni 2022 | 12:00 WIB
PROGRAM PENGUNGKAPAN SUKARELA

Tawarkan SUN Khusus PPS, Pemerintah Raup Rp659 Miliar dan US$5,8 Juta

Kamis, 30 Juni 2022 | 11:30 WIB
PROGRAM PENGUNGKAPAN SUKARELA

Ajak Wajib Pajak Ikut PPS, Hamish Daud: Jangan Tunda Lagi

Kamis, 30 Juni 2022 | 11:03 WIB
PROGRAM PENGUNGKAPAN SUKARELA

DJP Putuskan Tambah Server PPS, Antisipasi Lonjakan Jumlah Wajib Pajak