Review
Minggu, 24 Januari 2021 | 08:01 WIB
KEPALA BAPENDA DKI JAKARTA M. TSANI ANNAFARI:
Rabu, 20 Januari 2021 | 14:18 WIB
KONSULTASI PAJAK
Selasa, 19 Januari 2021 | 09:24 WIB
OPINI PAJAK
Rabu, 13 Januari 2021 | 15:23 WIB
KONSULTASI PAJAK
Fokus
Literasi
Senin, 25 Januari 2021 | 18:22 WIB
KAMUS HUKUM PAJAK
Senin, 25 Januari 2021 | 18:08 WIB
PAJAK BUMI DAN BANGUNAN (4)
Senin, 25 Januari 2021 | 15:45 WIB
TIPS PAJAK
Jum'at, 22 Januari 2021 | 18:27 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Data & Alat
Senin, 25 Januari 2021 | 17:51 WIB
STATISTIK IKLIM PAJAK
Rabu, 20 Januari 2021 | 16:43 WIB
STATISTIK PENGHINDARAN PAJAK
Rabu, 20 Januari 2021 | 09:45 WIB
KURS PAJAK 20 JANUARI - 26 JANUARI 2021
Senin, 18 Januari 2021 | 09:10 WIB
STATISTIK PAJAK KONSUMSI
Komunitas
Senin, 25 Januari 2021 | 16:41 WIB
SEKOLAH TINGGI PERPAJAKAN INDONESIA
Sabtu, 23 Januari 2021 | 07:00 WIB
KOMIK PAJAK
Rabu, 20 Januari 2021 | 14:35 WIB
DDTC PODTAX
Rabu, 20 Januari 2021 | 07:00 WIB
KOMIK PAJAK
Reportase
Perpajakan.id

Tarif PPN Naik Jadi 15%, Masyarakat Ubah Pola Konsumsi

A+
A-
5
A+
A-
5
Tarif PPN Naik Jadi 15%, Masyarakat Ubah Pola Konsumsi

Ilustrasi. Pemandangan pasar mobil saat sejumlah orang berkumpul untuk membeli kendaraan sebelum kenaikan PPN menjadi 15% di Riyadh, Arab Saudi, Sabtu (27/6/2020). Gambar diambil 27 Juni 2020. ANTARA FOTO/REUTERS/Mohammed bin Mansour/AWW/djo

RIYADH, DDTCNews – Kenaikan tarif pajak pertambahan nilai (PPN) dari 5% ke 15% diproyeksikan bakal mengubah pola konsumsi masyarakat Arab Saudi.

Berdasarkan laporan Arab News, banyak orang yang diwawancarai menyatakan akan mengubah gaya berbelanja setelah adanya kenaikan PPN mulai 1 Juli 2020. Mereka mengaku tidak akan berbelanja sebanyak sebelumnya.

"Kenaikan PPN hingga 3 kali lipat ini membuat saya kesal, kenaikannya terlalu tinggi. Dengan kenaikan tarif ini, saya akan memperhitungkan banyak hal sebelum berbelanja,” ujar Rahaf Meer, 26 tahun, salah satu warga Arab Saudi, dikutip pada Senin (6/7/2020).

Baca Juga: Begini Kriteria Rumah Sederhana yang Dapat Dibebaskan dari PPN

Abdullah Al-Jadaani, 25 tahun, juga mengatakan pola konsumsi sesungguhnya sudah berubah sejak diterapkannya pembatasan aktivitas ekonomi akibat pandemi Covid-19. Dia mengaku hanya membeli barang-barang yang benar-benar dibutuhkan sejak mulai berlakunya pembatasan.

“Saya kira kenaikan tarif PPN adalah kebijakan yang buruk. Dampaknya akan sangat besar bagi saya karena saya masih mahasiswa. Pengeluaran saya untuk bahan bakar minyak akan meningkat dan saya juga harus mulai-mulai menimbang-nimbang sebelum berbelanja," katanya.

Akibat kenaikan tarif PPN, Al-Jadaani mengaku akan mengurangi kunjungannya ke kafe ataupun pusat perbelanjaan. Oleh karena tarif PPN yang naik, dirinya lebih memilih untuk menghabiskan waktu bersama teman di rumah ketimbang harus ke kafe dan mengeluarkan uang yang besar.

Baca Juga: Keringanan Sanksi Bunga dan Denda Pajak Diberikan Hingga Juni 2021

Pelaku usaha dari berbagai sektor di Arab Saudi juga mengatakan kenaikan PPN bakal membuat konsumen untuk berhemat. Pemilik toko telepon seluler Humood Al-Shammari mengaku penjualan telepon seluler ditokonya mengalami penurunan setelah kenaikan tarif PPN resmi berlaku pada 1 Juli.

"Tampaknya pembeli akan cenderung menunggu diskon sebelum membelanjakan uangnya. Ke depan pelaku usaha akan semakin banyak memanfaatkan diskon untuk menarik pembeli dan meyakinkan pembeli untuk membeli produk yang dijual," katanya.

Asisten profesor dari Universitas Taibah Waquar Ahmad Khan mengatakan kenaikan PPN akan berdampak langsung pada pendapatan dan mengurangi disposable income. Menurutnya, orang-orang akan semakin mengurangi belanja-belanja yang tidak diperlukan.

Baca Juga: DJP Serahkan Berkas Pengemplang Pajak Rp2,5 Miliar kepada Kejaksaan

“Mereka hanya akan mengonsumsi barang-barang yang memang benar-benar diperlukan, yakni kebutuhan pokok,” ujarnya.

CEO Abdullah Al-Othaim Markets Abdul Aziz AL-Othaim memproyeksikan produk-produk yang ditawarkan kepada konsumen dengan harga yang lebih murah bakal lebih diminati oleh konsumen dibandingkan periode sebelumnya.

"Orang-orang bakal hanya membeli kebutuhan-kebutuhan esensial seperti makanan segar, yakni daging, sayuran, buah, susu, dan kebutuhan esensial lainnya," kata Al-Othaim. (kaw)

Baca Juga: Pemerintah Perjelas Ketentuan PPN Soal Konsinyasi, Begini Isi Drafnya

Topik : Arab Saudi, PPN, inflasi, konsumsi
Komentar
0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.
artikel terkait
Jum'at, 08 Januari 2021 | 09:54 WIB
PER-22/PJ/2020
Kamis, 07 Januari 2021 | 19:01 WIB
PMK 220/2020
Rabu, 06 Januari 2021 | 17:31 WIB
KINERJA FISKAL
berita pilihan
Senin, 25 Januari 2021 | 18:22 WIB
LEMBAGA PENGELOLA INVESTASI
Senin, 25 Januari 2021 | 18:22 WIB
KAMUS HUKUM PAJAK
Senin, 25 Januari 2021 | 18:08 WIB
PAJAK BUMI DAN BANGUNAN (4)
Senin, 25 Januari 2021 | 17:51 WIB
STATISTIK IKLIM PAJAK
Senin, 25 Januari 2021 | 17:45 WIB
KEBIJAKAN PAJAK
Senin, 25 Januari 2021 | 17:36 WIB
ADMINISTRASI PAJAK
Senin, 25 Januari 2021 | 17:30 WIB
KOTA MALANG
Senin, 25 Januari 2021 | 17:16 WIB
PELAYANAN PAJAK
Senin, 25 Januari 2021 | 17:00 WIB
KABUPATEN KUANTAN SINGINGI
Senin, 25 Januari 2021 | 16:41 WIB
SEKOLAH TINGGI PERPAJAKAN INDONESIA