Trusted Indonesian Tax News Portal
DDTC Indonesia
GET
x

Saling Pangkas Tarif Impor, Kesepakatan UE & Vietnam Ancam Thailand

2
2

Ilustrasi. 

JAKARTA, DDTCNews – Kesepakatan perdagangan bebas yang diteken pejabat Uni Eropa dan Vietnam berpotensi mengubah keseimbangan manufaktur di Kawasan tersebut. Kesepakatan itu memunculkan kekhawatiran di Thailand.

Perjanjian perdagangan bebas (The EU-Vietnam Free Trade Agreement) dan perjanjian perlindungan investasi (EU-Vietnam Investment Protection Agreement) akan mengurangi tarif dan memfasilitasi perdagangan kedua pihak.

“FTA ini adalah yang paling ambisius dan komprehensif yang dibuat UE dengan negara berkembang,” kata Pimchanok Vonkorpon, Direktur Jenderal Kebijakan dan Strategi Perdagangan Thailand, seperti dikutip pada Jumat (12/7/2019).

Baca Juga: Wah, Thailand Berencana Turunkan Tarif Pajak Orang Pribadi

Vietnam akan menurunkan tarif bea impor 65% dari UE akhir tahun ini. Penguranfan tarif mencakup 99% produk UE dalam 10 tahun. UE akan melakukan penurunan tarif bea impor 71% dari Vietnam, mencakup hampir semua produk Vietnam dalam 7 tahun.

Di sisi lain, kesepakatan itu berisiko memengaruhi ekspor mobil, komputer, dan sirkuit Thailand. Hal ini karena produsen pindah ke Vietnam untuk memanfaatkan perdagangan bebas dengan blok tersebut. Sektor garmen, beras, dan pengolah makanan laut juga bisa mengalami kerugian karena kesepakatan baru membuat produk Vietnam lebih kompetitif.

Menurutnya, pemasok otomotif di Thailand harus bersiap karena akan banyak perusahaan perakit mobil akan memindahkan fasilitas produksinya ke Vietnam. Industri lokal Thailand harus meningkatkan efisiensi dan mempercepat produksi kendaraan generasi terbaru agar kompetitif.

Baca Juga: Pelaku Usaha Minta Bea Masuk Impor Peralatan Medis Dinaikkan

Sampai saat ini, Thailand mengekspor sekitar 10% mobil dan 11% produksi suku cadang mobil ke UE. Thailand, sambung Vonkorpon, perlu mengembangkan tenaga kerja terampil dan mengadopsi teknologi dan inovasi yang lebih tinggi.

“Ini untuk menambah nilai pada produk dan mempertahankan daya saing,” imbuh Pimchanok.

Jika banyak fasilitas produksi UE berimigrasi ke Vietnam, Thailand dapat fokus meningkatkan ikatan manufaktur dengan mitra lain. Jepang tetap menjadi sumber investasi asing terbesar di Thailand yang dengan menghasilkan US $ 86,6 miliar pada 2018 atau 37% dari total investasi.

Baca Juga: Ditjen Pajak: Setoran PPN Masih Tertekan

Investasi dari China juga meningkat. Jumlah aplikasi dari bisnis China yang berharap untuk memindahkan fasilitas produksi ke Thailand meningkat tiga kali lipat. Hal ini terjadi karena kenaikan biaya di China.

Beberapa perusahaan teknologi termasuk Hewlett Packard (HP) dan Microsoft mempertimbangkan untuk memindahkan sebagian produksi mereka dari China ke Thailand di tengah perang dagang Negeri Tirai Bambu dan Amerika Serikat.

Seperti dilansir aseantoday.com, Aat Pisanwanich, Director of the Centre for International Trade Studies at the University of the Thai Chamber of Commerce mengatakan perdagangan UE--Thailand akan menurun dalam beberapa bulan tanpa kesepakatan perdagangan untuk bersaing dengan perjanjian UE—Vietnam.

Baca Juga: Atasi Perubahan Iklim, Prancis Pungut Pajak Tiket Pesawat Mulai 2020

Perjanjian serupa dengan UE—Thailand akan memudahkan akses produsen Thailand untuk mengekspor barang-barang elektronik, makanan olahan, dan otomotif ke UE. Hal tersebut juga akan membuat Thailand lebih menarik bagi investor di industri teknologi dan perusahaan manufaktur. (MG-dnl/kaw)

“FTA ini adalah yang paling ambisius dan komprehensif yang dibuat UE dengan negara berkembang,” kata Pimchanok Vonkorpon, Direktur Jenderal Kebijakan dan Strategi Perdagangan Thailand, seperti dikutip pada Jumat (12/7/2019).

Baca Juga: Wah, Thailand Berencana Turunkan Tarif Pajak Orang Pribadi

Vietnam akan menurunkan tarif bea impor 65% dari UE akhir tahun ini. Penguranfan tarif mencakup 99% produk UE dalam 10 tahun. UE akan melakukan penurunan tarif bea impor 71% dari Vietnam, mencakup hampir semua produk Vietnam dalam 7 tahun.

Di sisi lain, kesepakatan itu berisiko memengaruhi ekspor mobil, komputer, dan sirkuit Thailand. Hal ini karena produsen pindah ke Vietnam untuk memanfaatkan perdagangan bebas dengan blok tersebut. Sektor garmen, beras, dan pengolah makanan laut juga bisa mengalami kerugian karena kesepakatan baru membuat produk Vietnam lebih kompetitif.

Menurutnya, pemasok otomotif di Thailand harus bersiap karena akan banyak perusahaan perakit mobil akan memindahkan fasilitas produksinya ke Vietnam. Industri lokal Thailand harus meningkatkan efisiensi dan mempercepat produksi kendaraan generasi terbaru agar kompetitif.

Baca Juga: Pelaku Usaha Minta Bea Masuk Impor Peralatan Medis Dinaikkan

Sampai saat ini, Thailand mengekspor sekitar 10% mobil dan 11% produksi suku cadang mobil ke UE. Thailand, sambung Vonkorpon, perlu mengembangkan tenaga kerja terampil dan mengadopsi teknologi dan inovasi yang lebih tinggi.

“Ini untuk menambah nilai pada produk dan mempertahankan daya saing,” imbuh Pimchanok.

Jika banyak fasilitas produksi UE berimigrasi ke Vietnam, Thailand dapat fokus meningkatkan ikatan manufaktur dengan mitra lain. Jepang tetap menjadi sumber investasi asing terbesar di Thailand yang dengan menghasilkan US $ 86,6 miliar pada 2018 atau 37% dari total investasi.

Baca Juga: Ditjen Pajak: Setoran PPN Masih Tertekan

Investasi dari China juga meningkat. Jumlah aplikasi dari bisnis China yang berharap untuk memindahkan fasilitas produksi ke Thailand meningkat tiga kali lipat. Hal ini terjadi karena kenaikan biaya di China.

Beberapa perusahaan teknologi termasuk Hewlett Packard (HP) dan Microsoft mempertimbangkan untuk memindahkan sebagian produksi mereka dari China ke Thailand di tengah perang dagang Negeri Tirai Bambu dan Amerika Serikat.

Seperti dilansir aseantoday.com, Aat Pisanwanich, Director of the Centre for International Trade Studies at the University of the Thai Chamber of Commerce mengatakan perdagangan UE--Thailand akan menurun dalam beberapa bulan tanpa kesepakatan perdagangan untuk bersaing dengan perjanjian UE—Vietnam.

Baca Juga: Atasi Perubahan Iklim, Prancis Pungut Pajak Tiket Pesawat Mulai 2020

Perjanjian serupa dengan UE—Thailand akan memudahkan akses produsen Thailand untuk mengekspor barang-barang elektronik, makanan olahan, dan otomotif ke UE. Hal tersebut juga akan membuat Thailand lebih menarik bagi investor di industri teknologi dan perusahaan manufaktur. (MG-dnl/kaw)

Topik : Vietnam, Thailand, Uni Eropa, FTA, impor
artikel terkait
Senin, 31 Desember 2018 | 14:35 WIB
ZIMBABWE
Kamis, 28 Desember 2017 | 17:12 WIB
HONG KONG
Minggu, 30 September 2018 | 20:33 WIB
OECD INCLUSIVE FRAMEWORK ON BEPS
Jum'at, 28 September 2018 | 12:32 WIB
KASUS PENGHINDARAN PAJAK
berita pilihan
Sabtu, 10 September 2016 | 14:01 WIB
IRLANDIA
Selasa, 11 Juni 2019 | 16:24 WIB
AUSTRALIA
Rabu, 27 Desember 2017 | 11:18 WIB
INGGRIS
Rabu, 22 Mei 2019 | 14:40 WIB
ITALIA
Kamis, 28 Maret 2019 | 16:54 WIB
SELANDIA BARU
Sabtu, 08 Oktober 2016 | 14:30 WIB
AZERBAIJAN
Minggu, 18 September 2016 | 19:02 WIB
INDIA
Rabu, 06 Desember 2017 | 11:30 WIB
GHANA
Senin, 04 Juni 2018 | 16:38 WIB
YORDANIA
Kamis, 05 Juli 2018 | 10:45 WIB
NIKARAGUA