Berita
Sabtu, 27 Februari 2021 | 15:01 WIB
APEC 2021
Sabtu, 27 Februari 2021 | 14:01 WIB
KOTA MATARAM
Sabtu, 27 Februari 2021 | 13:01 WIB
INSENTIF PPnBM
Sabtu, 27 Februari 2021 | 12:01 WIB
INSENTIF KEPABEANAN
Fokus
Literasi
Jum'at, 26 Februari 2021 | 18:01 WIB
KAMUS KEPABEANAN
Jum'at, 26 Februari 2021 | 17:38 WIB
TIPS PAJAK
Jum'at, 26 Februari 2021 | 17:27 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Kamis, 25 Februari 2021 | 17:36 WIB
CUKAI (2)
Data & Alat
Rabu, 24 Februari 2021 | 09:05 WIB
KURS PAJAK 24 FEBRUARI - 2 MARET 2021
Minggu, 21 Februari 2021 | 09:00 WIB
STATISTIK MUTUAL AGREEMENT PROCEDURE
Rabu, 17 Februari 2021 | 09:00 WIB
KURS PAJAK 17 FEBRUARI - 23 FEBRUARI 2021
Senin, 15 Februari 2021 | 11:38 WIB
STATISTIK RASIO PAJAK
Komunitas
Sabtu, 27 Februari 2021 | 08:30 WIB
KOMIK PAJAK
Kamis, 25 Februari 2021 | 20:58 WIB
AGENDA PAJAK
Kamis, 25 Februari 2021 | 15:16 WIB
AGENDA PAJAK
Kamis, 25 Februari 2021 | 13:49 WIB
INSTITUT STIAMI
Reportase
Perpajakan.id

Politik, Sapi, dan Demokrasi Indonesia

A+
A-
1
A+
A-
1
Politik, Sapi, dan Demokrasi Indonesia

Ilustrasi. (agronews.com)

SEPULANGNYA dari kantor, seorang fiskus yang kalem ditanya oleh anaknya yang kebingungan menjawab PR sekolahnya tentang bentuk dan sistem ideologi politik di dunia. Setelah berpikir sejenak, fiskus itu pun mempersilakan anaknya bertanya.

+ Apa beda anarkisme, kapitalisme, environtalisme, totalitarianisme, diktatorianisme dan militerisme?

- Hah mudah sekali ini. Anarkisme: Kau punya dua sapi, entah kau jual murah atau mahal susunya, tetanggamu akan tetap mencoba membunuhmu dan merampas sapimu.

Baca Juga: Ada Pengawasan Berbasis Wilayah, Ini Alur Kerja Baru KPP Pratama

- Kapitalisme: Kau punya dua sapi, kau jual satu, dan paksa yang satunya memproduksi susu sebanyak yang diproduksi 4 sapi. Dan kau kaget ketika sapimu meninggal.

- Environmentalisme: Kau punya dua sapi, pemerintah melarangmu mengambil susu sekaligus dagingnya.

- Totalitarianisme: Kau punya dua sapi, pemerintah merampasnya dan membantah bahwa sapi-sapi itu ada, lalu menyatakan susu sebagai barang terlarang.

Baca Juga: Dua Ketentuan Tambahan yang Perlu Diketahui Fiskus Sebelum Kunjungi WP

- Diktatorianisme: Kau punya dua sapi, pemerintah merampas keduanya dan menembakmu tanpa bertanya..

- Militerisme: Kau punya dua sapi, pemerintah merampas keduanya dan kau harus ikut wajib militer

+ Waah... ayah cerdas sekali. Sekarang apa beda feodalisme, sosialisme, sosialisme murni, dan sosialisme birokratis?

Baca Juga: Apa Itu Fiskus?

- Ini bahkan lebih mudah lagi. Feodalisme: Kau punya dua sapi, kau rawat, dan seorang keluarga ningrat merampas semua susunya.

- Sosialisme murni: Kau punya dua sapi, pemerintah merampas dan memasukkannya ke kandang bersama sapi lainnya. Kau rawat semua sapi itu, dan pemerintah memberimu susu sebanyak yang kau butuhkan saja.

- Sosialisme: Kau punya dua sapi, pemerintah merampas satu sapi dan memberikannya ke tetanggamu. Kau lalu mengajari tetanggamu cara merawat sapinya.

Baca Juga: Masa WFH Fiskus Selesai Pekan Depan atau Diperpanjang? Ini Kata DJP

- Sosialisme birokratis: Kau punya dua sapi, pemerintah merampas dan memasukkannya ke kandang bersama sapi lainnya, lalu dirawat oleh peternak ayam. Kau sendiri merawat ayam yang ditinggalkan peternak tadi. Pemerintah memberimu susu dan telur sesuai peraturan yang berlaku.

+ Sungguh meyakinkan! Lalu apa beda fasisme, komunisme murni, komunisme Rusia, dan komunisme?

- Fasisme: Kau punya dua sapi, pemerintah merampas keduanya, lalu mempekerjakanmu untuk merawat sapi itu, dan mewajibkanmu membeli susunya.

Baca Juga: Ujian Terakhir

- Komunisme murni: Kau punya dua sapi, pemerintah mewajibkan tetanggamu untuk membantu merawat sapi itu, dan susunya kalian bagi dua.

- Komunisme Rusia: Kau punya dua sapi, kau rawat keduanya, tetapi pemerintah yang mengambil semua susunya.

- Komunisme: Kau punya dua sapi, pemerintah merampas dan merawatnya, lalu mempersilakanmu mengantre untuk mendapatkan susunya dalam antrean yang begitu panjang, sehingga begitu giliranmu tiba susunya sudah basi.

Baca Juga: Kembali ke Kantor

+ Hmm. Coba ini, apa beda demokrasi murni, demokrasi perwakilan, dan demokrasi Amerika?

- Demokrasi murni: Kau punya dua sapi, tetanggamu yang memutuskan siapa yang berhak mendapatkan susunya.

- Demokrasi perwakilan: Kau punya dua sapi, tetanggamu memilih sembarang orang untuk mengatakan kepadamu, siapa yang berhak mendapatkan susunya.

Baca Juga: DJP Minta Wajib Pajak Jangan Goda Fiskus Melanggar Aturan

- Demokrasi Amerika: Pemerintah berjanji akan memberimu dua sapi jika kau memilih. Setelah Pemilu, Presiden dimakzulkan akibat berspekulasi tentang masa depan sapi. Pers lalu menyebutnya ‘Sapi-gate’, dan sapi-sapi itu lalu dilepaskan.

+ Bagaimana dengan demokrasi ala Partai Demokrat dan demokrasi ala Partai Republik?

- Wah ini agak sulit. Demokrasi ala Partai Demokrat: Kau punya dua sapi, tetanggamu tidak punya. Kau lalu merasa bersalah, dan memilih politisi yang akan memajaki sapimu hingga memaksamu menjual sapimu itu untuk melunasi pajak. Politisi itu lalu menggunakan uang pajakmu untuk membeli sapi dan memberikannya kepada tetanggamu. Kau merasa lega, dan Barbra Streisand menyanyi untukmu.

Baca Juga: Terbaru, Ini Video Imbauan Integritas dari Dirjen Pajak

- Demokrasi ala Partai Republik: Kau punya dua sapi, tetanggamu tidak punya. Kau lalu pindah rumah mencari tetangga yang punya sapi.

+ Kalau demokrasi India, Inggris, Singapura dan Indonesia?

- Demokrasi India: Kau punya dua sapi, kau sembah mereka.

Baca Juga: Bila Akuntan Bertemu Jin Lampu

- Demokrasi Inggris: Kau punya dua sapi, kau beri makan otak kambing dan mereka jadi gila. Pemerintah lalu memberimu kompensasi untuk sapimu yang sakit, penghasilanmu yang hilang, dan hibah untuk tidak menggunakan lagi lahanmu, dan membuat konferensi pers bahwa semuanya baik-baik saja.

- Demokrasi Singapura: Kau punya dua sapi, dan pemerintah mendendamu karena menyimpan dua hewan ternak tak berizin di apartemen.

- Demokrasi Indonesia: Kau punya dua sapi, sapi yang satu kau jual untuk membeli pakan buat sapi yang lain. (Bsi)

Baca Juga: Korupsi, 21 Petugas Pajak Dipecat

Topik : anekdot pajak, humor pajak, cerita lucu, sapi, sosialisme, fiskus
Komentar
0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.
artikel terkait
Rabu, 12 Desember 2018 | 17:00 WIB
PERPAJAKAN INDONESIA
Jum'at, 19 Oktober 2018 | 18:05 WIB
ANEKDOT PAJAK
Senin, 04 Juni 2018 | 15:50 WIB
ANEKDOT PAJAK
Jum'at, 11 Agustus 2017 | 16:31 WIB
ANEKDOT PAJAK
berita pilihan
Sabtu, 27 Februari 2021 | 15:01 WIB
APEC 2021
Sabtu, 27 Februari 2021 | 14:01 WIB
KOTA MATARAM
Sabtu, 27 Februari 2021 | 13:01 WIB
INSENTIF PPnBM
Sabtu, 27 Februari 2021 | 12:01 WIB
INSENTIF KEPABEANAN
Sabtu, 27 Februari 2021 | 11:00 WIB
INFOGRAFIS PAJAK
Sabtu, 27 Februari 2021 | 09:01 WIB
KOTA PADANG
Sabtu, 27 Februari 2021 | 08:30 WIB
KOMIK PAJAK
Sabtu, 27 Februari 2021 | 08:01 WIB
BERITA PAJAK SEPEKAN
Sabtu, 27 Februari 2021 | 07:01 WIB
SIDANG WTO
Sabtu, 27 Februari 2021 | 06:01 WIB
PMK 20/2021