Trusted Indonesian Tax News Portal
DDTC Indonesia
GET
x

Pengamanan Target Penerimaan Makin Berat

1
1

Ilustrasi gedung DJP.

JAKARTA, DDTCNews – Pemangkasan tarif pajak penghasilan (PPh) badan berisiko membuat upaya pengamanan target penerimaan lebih berat dalam jangka pendek. Apalagi, pemungutan pajak pertambahan nilai (PPN) juga belum efektif.

Topik tersebut menjadi bahasan beberapa media nasional pada hari ini, Jumat (5/7/2019). Direktur Penyuluhan Pelayanan dan Hubungan Masyarakat Ditjen Pajak (DJP) Hestu Yoga Saksama mengatakan potensi berkurangnya penerimaan pajak karena pemangkasan tarif PPh badan menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam menyusun target APBN.

“Ini yang saat ini sedang dilakukan simulasi terus-menerus,” katanya.

Baca Juga: Menanti Aturan Teknis Insentif Pajak Kegiatan Riset

Penurunan tarif PPh badan dari 25% menjadi 20% diperkirakan memberi dampak berupa potential loss senilai Rp87 triliun. Sebelumnya, otoritas mengatakan penurunan tarif menjadi strategi yang dilakukan pemerintah untuk menggenjot investasi dan daya saing usaha di Tanah Air.

Selain risiko jangka pendek yang muncul dari pemangkasan tarif PPh badan, tantangan juga berasal dari belum efektifnya pemungutan PPN. Ada berbagai indikator untuk menghitung PPN, salah satunya melalui skema VAT gross collection ratio.

Dengan tarif PPN 10% dan konsumsi rumah tangga yang berada pada angka Rp8.269,8 triliun VAT gross collection ratio berada di level 65,08%. Artinya, pemungutan PPN yang dilakukan oleh DJP hanya bisa mencakup 65,08% dari total potensi penerimaan, lebih rendah dari rata-rata internasional 70%.

Baca Juga: Ketentuan PLB Bakal Diperketat, Bea Masuk Tambahan Tekstil Dikenakan

Selain itu, beberapa media juga masih menyoroti masalah revisi Undang-Undang (UU) Bea Meterai. Mereka menyoroti perluasan pengenaan bea meterai dalam dokumen digital. Langkah ini untuk merespons perkembangan industri digital di Tanah Air.

Berikut ulasan berita selengkapnya.

  • Dampak Jangka Panjang

Direktur Penyuluhan Pelayanan dan Hubungan Masyarakat DJP Hestu Yoga Saksama mengatakan pemangkasan tarif PPh badan tidak selalu cenderung berdampak negatif pada penerimaan pajak. Dalam jangka panjang, akan ada peningkatan daya saing dan perbaikan kinerja investasi.

Baca Juga: Shortfall Pajak Melebar, Tambah Utang atau Pangkas Belanja?

Perbaikan kinerja penanaman modal akan berdampak pada terbukanya lapangan usaha. Hal ini akan berdampak pada penerimaan pajak karyawan (PPh pasal 21), PPN, maupun penerimaan negara lainnya. Dengan demikian, meskipun ada risiko negatif jangka pendek, pemangkasan tarif PPh badan akan memiliki efek positif jangka panjang.

  • Efek Kebijakan

Direktur Potensi Kepatuhan dan Penerimaan Pajak DJP Yon Arsal mengatakan ada banyak parameter yang digunakan untuk mengukur efektivitas penerimaan PPN. Namun, tidak semua skema bisa diterapkan karena setiap negara memiliki kebijakan sendiri, seperti pengecualian atau pembebasan pajak.

Menurut dia, belum optimalnya pemungutan PPN disebabkan oleh dua hal yakni compliance gap dan policy gap. Dengan penerimaan PPN kurang lebih Rp540 triliun dan tax expenditure PPN senilai Rp125 triliun, total penerimaan PPN pada 2018 seharusnya ada pada kisaran Rp665 triliun.

Baca Juga: Arus Kas Masih Aman Meskipun Penerimaan Pajak Seret, Ini Rahasianya
  • Dokumen Digital

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan perluasan pengenaan bea meterai dalam dokumen digital mengikuti perkembangan teknologi digital yang makin marak. Apalagi, masyarakat sudah banyak melalukan transaksi secara digital.

“Banyak dokumen berbentuk digital dan belum dapat dikenakan bea meterai. Dalam RUU kami usulkan perluasan definisi dokumen jadi termasuk dokumen digital, selain kertas,” tuturnya.

  • Aset Pemerintah Naik

Sepanjang 2018, aset pemerintah tercatat naik sekitar Rp378 triliun menjadi Rp6.325,3 triliun dari tahun sebelumnya Rp5.947,3 triliun. Peningkatan total aset pemerintah tersebut sejalan dengan peningkatan total kewajiban yang harus ditanggung oleh pemerintah.

Baca Juga: Ini Penerimaan Negara yang Disetor Lewat Marketplace

LKPP 2018 mencatat total kewajiban pemerintah meningkat dari Rp4.407,05 triliun pada 2017 menjadi Rp4.917,47 per 31 Desember 2018. Sementara itu, ekuitas yang dimiliki oleh pemerintah tercatat turun dari yang awalnya mencapai Rp1.540,78 triliun per 31 Desember 2017 menjadi Rp1.407,8 triliun per 31 Desember 2018.

“Ini yang saat ini sedang dilakukan simulasi terus-menerus,” katanya.

Baca Juga: Menanti Aturan Teknis Insentif Pajak Kegiatan Riset

Penurunan tarif PPh badan dari 25% menjadi 20% diperkirakan memberi dampak berupa potential loss senilai Rp87 triliun. Sebelumnya, otoritas mengatakan penurunan tarif menjadi strategi yang dilakukan pemerintah untuk menggenjot investasi dan daya saing usaha di Tanah Air.

Selain risiko jangka pendek yang muncul dari pemangkasan tarif PPh badan, tantangan juga berasal dari belum efektifnya pemungutan PPN. Ada berbagai indikator untuk menghitung PPN, salah satunya melalui skema VAT gross collection ratio.

Dengan tarif PPN 10% dan konsumsi rumah tangga yang berada pada angka Rp8.269,8 triliun VAT gross collection ratio berada di level 65,08%. Artinya, pemungutan PPN yang dilakukan oleh DJP hanya bisa mencakup 65,08% dari total potensi penerimaan, lebih rendah dari rata-rata internasional 70%.

Baca Juga: Ketentuan PLB Bakal Diperketat, Bea Masuk Tambahan Tekstil Dikenakan

Selain itu, beberapa media juga masih menyoroti masalah revisi Undang-Undang (UU) Bea Meterai. Mereka menyoroti perluasan pengenaan bea meterai dalam dokumen digital. Langkah ini untuk merespons perkembangan industri digital di Tanah Air.

Berikut ulasan berita selengkapnya.

  • Dampak Jangka Panjang

Direktur Penyuluhan Pelayanan dan Hubungan Masyarakat DJP Hestu Yoga Saksama mengatakan pemangkasan tarif PPh badan tidak selalu cenderung berdampak negatif pada penerimaan pajak. Dalam jangka panjang, akan ada peningkatan daya saing dan perbaikan kinerja investasi.

Baca Juga: Shortfall Pajak Melebar, Tambah Utang atau Pangkas Belanja?

Perbaikan kinerja penanaman modal akan berdampak pada terbukanya lapangan usaha. Hal ini akan berdampak pada penerimaan pajak karyawan (PPh pasal 21), PPN, maupun penerimaan negara lainnya. Dengan demikian, meskipun ada risiko negatif jangka pendek, pemangkasan tarif PPh badan akan memiliki efek positif jangka panjang.

  • Efek Kebijakan

Direktur Potensi Kepatuhan dan Penerimaan Pajak DJP Yon Arsal mengatakan ada banyak parameter yang digunakan untuk mengukur efektivitas penerimaan PPN. Namun, tidak semua skema bisa diterapkan karena setiap negara memiliki kebijakan sendiri, seperti pengecualian atau pembebasan pajak.

Menurut dia, belum optimalnya pemungutan PPN disebabkan oleh dua hal yakni compliance gap dan policy gap. Dengan penerimaan PPN kurang lebih Rp540 triliun dan tax expenditure PPN senilai Rp125 triliun, total penerimaan PPN pada 2018 seharusnya ada pada kisaran Rp665 triliun.

Baca Juga: Arus Kas Masih Aman Meskipun Penerimaan Pajak Seret, Ini Rahasianya
  • Dokumen Digital

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan perluasan pengenaan bea meterai dalam dokumen digital mengikuti perkembangan teknologi digital yang makin marak. Apalagi, masyarakat sudah banyak melalukan transaksi secara digital.

“Banyak dokumen berbentuk digital dan belum dapat dikenakan bea meterai. Dalam RUU kami usulkan perluasan definisi dokumen jadi termasuk dokumen digital, selain kertas,” tuturnya.

  • Aset Pemerintah Naik

Sepanjang 2018, aset pemerintah tercatat naik sekitar Rp378 triliun menjadi Rp6.325,3 triliun dari tahun sebelumnya Rp5.947,3 triliun. Peningkatan total aset pemerintah tersebut sejalan dengan peningkatan total kewajiban yang harus ditanggung oleh pemerintah.

Baca Juga: Ini Penerimaan Negara yang Disetor Lewat Marketplace

LKPP 2018 mencatat total kewajiban pemerintah meningkat dari Rp4.407,05 triliun pada 2017 menjadi Rp4.917,47 per 31 Desember 2018. Sementara itu, ekuitas yang dimiliki oleh pemerintah tercatat turun dari yang awalnya mencapai Rp1.540,78 triliun per 31 Desember 2017 menjadi Rp1.407,8 triliun per 31 Desember 2018.

Topik : berita pajak hari ini, berita pajak, penerimaan pajak, PPh badan
Komentar
Dapatkan hadiah berupa smartphone yang diberikan kepada satu orang pemenang dengan komentar terbaik. Pemenang akan dipilih oleh redaksi setiap dua pekan sekali. Ayo, segera tuliskan komentar Anda pada artikel terbaru kanal debat DDTCNews! #MariBicara
*Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
1000 karakter tersisa
artikel terkait
Sabtu, 03 November 2018 | 13:40 WIB
WORLDWIDE TAX SYSTEM
Jum'at, 27 September 2019 | 09:54 WIB
WORLD TRANSFER PRICING
Kamis, 22 November 2018 | 16:19 WIB
WORLD TRANSFER PRICING
Jum'at, 25 Agustus 2017 | 12:05 WIB
WORKSHOP PAJAK INTERNASIONAL
berita pilihan
Senin, 08 April 2019 | 11:30 WIB
KEBIJAKAN PAJAK
Jum'at, 15 Juni 2018 | 18:05 WIB
KREDIT PAJAK
Rabu, 06 Maret 2019 | 11:54 WIB
PEREKONOMIAN INDONESIA
Kamis, 31 Januari 2019 | 17:33 WIB
INSENTIF FISKAL
Rabu, 13 Maret 2019 | 12:39 WIB
KEPATUHAN PAJAK
Rabu, 13 Maret 2019 | 11:29 WIB
KEPATUHAN PAJAK
Rabu, 04 September 2019 | 18:14 WIB
REFORMASI PERPAJAKAN
Selasa, 09 Oktober 2018 | 19:27 WIB
PERTEMUAN TAHUNAN IMF-BANK DUNIA
Kamis, 03 Oktober 2019 | 17:53 WIB
KEBIJAKAN FISKAL
Kamis, 03 Oktober 2019 | 17:03 WIB
TATA KELOLA PERKOTAAN LAYAK HUNI