Trusted Indonesian Tax News Portal
DDTC Indonesia
GET
x

Pendeta Sekarat & Pencuri

0
0

SEORANG pendeta tua tengah sekarat di rumahnya. Ia lalu mengirim pesan ke dua anggota jamaah gerejanya, seorang petugas pemeriksa pajak dan seorang pengacara, untuk menemani saat-saat terakhirnya.

Tak lama berselang, petugas pemeriksa pajak dan pengacara itu pun tiba di rumahnya, masuk ke dalam kamar sang pendeta, diantar oleh pembantu rumah tangganya.

“Kemari, masuk. Mendekatlah,” kata sang pendeta yang berbaring lemah di ranjangnya, begitu melihat petugas pemeriksa pajak dan pengacara itu memasuki kamar.

Baca Juga: Tersedak Koin

Sejurus kemudian ia meminta si pengacara duduk di sisi kiri ranjangnya, sementara si petugas pemeriksa pajak duduk di sisi kanannya.

Sembari berbaring, sang pendeta lalu memegang tangan mereka, memejamkan mata, menarik napas panjang, dan tersenyum sambil melihat ke atas. Suasana hening. Tak seorang pun bicara.

Baik si petugas pemeriksa pajak maupun pengacara sama-sama terharu demi menyaksikan sang pendeta memilih mereka untuk menemani saat-saat terakhirnya.

Baca Juga: Pangling

Tapi mereka juga penasaran, kenapa sang pendeta memilih mereka berdua, karena selama ini mereka toh tidak cukup dekat, bahkan tidak terlalu saling mengenal.

Akhirnya, si pengacara pun akhirnya bertanya, “Wahai pendeta, kenapa kamu meminta kami menemanimu?”

Sang pendeta tua lalu menggeliat mencoba mengumpulkan sisa tenaganya, dan berkata lirih, “Yesus meninggal di antara dua pencuri. Aku juga ingin pergi dengan cara begitu.” (Bsi)

Baca Juga: Memeriksa Penjudi

“Kemari, masuk. Mendekatlah,” kata sang pendeta yang berbaring lemah di ranjangnya, begitu melihat petugas pemeriksa pajak dan pengacara itu memasuki kamar.

Baca Juga: Tersedak Koin

Sejurus kemudian ia meminta si pengacara duduk di sisi kiri ranjangnya, sementara si petugas pemeriksa pajak duduk di sisi kanannya.

Sembari berbaring, sang pendeta lalu memegang tangan mereka, memejamkan mata, menarik napas panjang, dan tersenyum sambil melihat ke atas. Suasana hening. Tak seorang pun bicara.

Baik si petugas pemeriksa pajak maupun pengacara sama-sama terharu demi menyaksikan sang pendeta memilih mereka untuk menemani saat-saat terakhirnya.

Baca Juga: Pangling

Tapi mereka juga penasaran, kenapa sang pendeta memilih mereka berdua, karena selama ini mereka toh tidak cukup dekat, bahkan tidak terlalu saling mengenal.

Akhirnya, si pengacara pun akhirnya bertanya, “Wahai pendeta, kenapa kamu meminta kami menemanimu?”

Sang pendeta tua lalu menggeliat mencoba mengumpulkan sisa tenaganya, dan berkata lirih, “Yesus meninggal di antara dua pencuri. Aku juga ingin pergi dengan cara begitu.” (Bsi)

Baca Juga: Memeriksa Penjudi
Topik : kartun pajak, anekdot pajak, humor pajak
artikel terkait
Senin, 04 Juni 2018 | 15:50 WIB
ANEKDOT PAJAK
Selasa, 22 Januari 2019 | 16:15 WIB
ANEKDOT PAJAK
Senin, 09 Januari 2017 | 10:34 WIB
ANEKDOT PAJAK
Jum'at, 14 Juli 2017 | 18:38 WIB
ANEKDOT PAJAK
berita pilihan
Jum'at, 19 Oktober 2018 | 18:05 WIB
ANEKDOT PAJAK
Senin, 03 April 2017 | 14:08 WIB
KARTUN PAJAK
Senin, 09 Januari 2017 | 10:34 WIB
ANEKDOT PAJAK
Kamis, 01 Desember 2016 | 14:55 WIB
ANEKDOT PAJAK
Rabu, 02 November 2016 | 21:05 WIB
ANEKDOT PAJAK
Selasa, 22 Januari 2019 | 16:15 WIB
ANEKDOT PAJAK
Jum'at, 19 Juli 2019 | 11:53 WIB
ANEKDOT AKUNTAN
Selasa, 26 Februari 2019 | 16:00 WIB
ANEKDOT PAJAK
Jum'at, 14 Juli 2017 | 18:38 WIB
ANEKDOT PAJAK
Senin, 19 Juni 2017 | 15:34 WIB
ANEKDOT PAJAK
Terpopuler
1
ANEKDOT PAJAK
2
ANEKDOT AKUNTAN