Trusted Indonesian Tax News Portal
DDTC Indonesia
GET
x

Mobius: Brexit Akan Menguntungkan China

A+
A-
0
A+
A-
0

BEIJING, DDTCNews – Keinginan China untuk miliki pengaruh lebih besar di pasar keuangan global nampaknya akan segera tercapai. Sejalan dengan keputusan hengkangnya Inggris meninggalkan Uni Eropa, pasar investasi Asia dinilai lebih menarik ketimbang Eropa.

Penyataan tersebut diungkapkan oleh Mark Mobius Ketua Eksekutif Templeton Emerging Markets Group. Menurutnya hasil referendum Inggris pekan lalu sempat menggoncangkan pasar keuangan global. Akibatnya, Asia terlihat lebih diminati karena jauh dari pengaruh gejolak keuangan di Eropa.

“Lima tahun dari sekarang, orang-orang akan mengincar investasi di China ketimbang di London atau New York. Jika pusat gravitasi berpindah, maka akan berdampak luar biasa bagi komunitas perbankan dan investor. Brexit akan mempercepat hal ini terjadi,” tukas Mobius.

Baca Juga: China Sebut Pajak Batas Karbon Eropa Cederai Semangat Multilateral

Beberapa mitra dagang terbesar China adalah Amerika Serikat (AS), Jepang dan Korea Selatan, dan negara-negara ini menjadi jalan agar mata uang China mendunia. Mata uang China diperkirakan akan masuk ke Special Drawing Rights (SDR) yang ditetapkan oleh International Monetary Fund (IMF) pada Oktober mendatang, menyusul euro, dolar AS, yen, dan poundsterling.

Sementara itu, seperti dilansir Ejin Sight, pemerintah masih berusaha untuk menyatukan tarif yuan lokal dan tarif yuan offshore.

SDR merupakan aset cadangan devisa internasional yang ditetapkan oleh IMF pada 1969 untuk melengkapi cadangan devisa resmi yang diakui negara-negara anggotanya. SDR sendiri diciptakan IMF untuk mendukung sistem nilai tukar tetap pada masa Bretton Woods.

Baca Juga: Persiapan Olimpiade, Pemerintah Beri Pembebasan Pajak

Negara yang berpartisipasi dalam sistem ini membutuhkan cadangan devisa resmi. Contohnya seperti emas dan mata uang yang diterima secara luas yang dapat digunakan untuk membeli mata uang domestik di pasar valuta asing, guna mempertahankan nilai tukarnya.

Akan tetapi pasokan dari dua aset cadangan devisa resmi, yaitu emas dan dolar AS tidak mencukupi untuk mendukung ekspansi transaksi perdagangan internasional dan perkembangan pasar keuangan yang terjadi. Karenanya komunitas internasional memutuskan untuk menciptakan aset devisa baru di bawah pengawasan IMF.

Penentuan nilai ini diubah ke dalam sebuah indeks yang terdiri dari empat mata uang utama. Saat ini mata uang yang berpengaruh terhadap penentuan nilai SDR adalah euro, yen, poundsterling dan dolar AS. (Amu)

Baca Juga: Genjot PNBP, Kemenkeu Ingin Tiru China

“Lima tahun dari sekarang, orang-orang akan mengincar investasi di China ketimbang di London atau New York. Jika pusat gravitasi berpindah, maka akan berdampak luar biasa bagi komunitas perbankan dan investor. Brexit akan mempercepat hal ini terjadi,” tukas Mobius.

Baca Juga: China Sebut Pajak Batas Karbon Eropa Cederai Semangat Multilateral

Beberapa mitra dagang terbesar China adalah Amerika Serikat (AS), Jepang dan Korea Selatan, dan negara-negara ini menjadi jalan agar mata uang China mendunia. Mata uang China diperkirakan akan masuk ke Special Drawing Rights (SDR) yang ditetapkan oleh International Monetary Fund (IMF) pada Oktober mendatang, menyusul euro, dolar AS, yen, dan poundsterling.

Sementara itu, seperti dilansir Ejin Sight, pemerintah masih berusaha untuk menyatukan tarif yuan lokal dan tarif yuan offshore.

SDR merupakan aset cadangan devisa internasional yang ditetapkan oleh IMF pada 1969 untuk melengkapi cadangan devisa resmi yang diakui negara-negara anggotanya. SDR sendiri diciptakan IMF untuk mendukung sistem nilai tukar tetap pada masa Bretton Woods.

Baca Juga: Persiapan Olimpiade, Pemerintah Beri Pembebasan Pajak

Negara yang berpartisipasi dalam sistem ini membutuhkan cadangan devisa resmi. Contohnya seperti emas dan mata uang yang diterima secara luas yang dapat digunakan untuk membeli mata uang domestik di pasar valuta asing, guna mempertahankan nilai tukarnya.

Akan tetapi pasokan dari dua aset cadangan devisa resmi, yaitu emas dan dolar AS tidak mencukupi untuk mendukung ekspansi transaksi perdagangan internasional dan perkembangan pasar keuangan yang terjadi. Karenanya komunitas internasional memutuskan untuk menciptakan aset devisa baru di bawah pengawasan IMF.

Penentuan nilai ini diubah ke dalam sebuah indeks yang terdiri dari empat mata uang utama. Saat ini mata uang yang berpengaruh terhadap penentuan nilai SDR adalah euro, yen, poundsterling dan dolar AS. (Amu)

Baca Juga: Genjot PNBP, Kemenkeu Ingin Tiru China
Topik : mobius, brexit, china
Komentar
Dapatkan hadiah berupa smartphone yang diberikan kepada satu orang pemenang dengan komentar terbaik. Pemenang akan dipilih oleh redaksi setiap dua pekan sekali. Ayo, segera tuliskan komentar Anda pada artikel terbaru kanal debat DDTCNews! #MariBicara
*Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
1000 karakter tersisa
artikel terkait
Sabtu, 10 September 2016 | 14:01 WIB
IRLANDIA
Selasa, 11 Juni 2019 | 16:24 WIB
AUSTRALIA
Rabu, 27 Desember 2017 | 11:18 WIB
INGGRIS
Kamis, 08 September 2016 | 17:20 WIB
AMERIKA SERIKAT
berita pilihan
Selasa, 10 Desember 2019 | 11:22 WIB
SPANYOL
Jum'at, 06 Desember 2019 | 15:50 WIB
ITALIA
Jum'at, 06 Desember 2019 | 11:38 WIB
MALAYSIA
Kamis, 05 Desember 2019 | 19:59 WIB
INGGRIS
Rabu, 04 Desember 2019 | 16:37 WIB
AMERIKA SERIKAT
Rabu, 04 Desember 2019 | 16:26 WIB
PRANCIS
Selasa, 03 Desember 2019 | 10:54 WIB
AMERIKA SERIKAT