Review
Kamis, 02 April 2020 | 18:59 WIB
ANALISIS TRANSFER PRICING
Rabu, 01 April 2020 | 18:28 WIB
TAJUK PAJAK
Rabu, 01 April 2020 | 17:29 WIB
MEMO PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Rabu, 01 April 2020 | 16:53 WIB
RESPONS PAJAK PERANGI DAMPAK CORONA (4)
Fokus
Data & alat
Rabu, 01 April 2020 | 09:14 WIB
KURS PAJAK 1 APRIL-7 APRIL 2020
Rabu, 25 Maret 2020 | 07:34 WIB
KURS PAJAK 25 MARET-31 MARET 2020
Rabu, 18 Maret 2020 | 09:17 WIB
KURS PAJAK 18 MARET-24 MARET 2020
Rabu, 11 Maret 2020 | 09:00 WIB
KURS PAJAK 11 MARET-17 MARET 2020
Komunitas
Kamis, 02 April 2020 | 15:11 WIB
LEE JI-EUN:
Selasa, 31 Maret 2020 | 09:52 WIB
PROGRAM BEASISWA
Senin, 30 Maret 2020 | 17:29 WIB
UNIVERSITAS PANCASILA
Senin, 30 Maret 2020 | 16:19 WIB
UNIVERSITAS INDONESIA
Reportase

Membandingkan Ketentuan Restitusi

A+
A-
1
A+
A-
1
Membandingkan Ketentuan Restitusi

BUKU berjudul 'Restitution of Overpaid Tax' yang diterbitkan Hart Publishing Ltd pada 2013 ini menyuguhkan pandangan yang detail mengenai perkembangan dan percabangan dari restitusi pajak dan juga mengenai pengayaan yang tidak adil (unjust enrichment) dalam hukum di Inggris, Eropa dan sekitarnya.

Disunting oleh tiga praktisi perpajakan, yaitu Steven Elliot, Birke Hacker, dan Charles Mitchell, buku setebal 326 halaman ini merupakan kumpulan dari berbagai esai yang pernah dipresentasikan dalam konferensi di Merton College, Oxford pada tanggal 9 dan 10 Juli 2010, yang kemudian dikelompokkan dalam bab English Law, European Law, dan Comparative Law.

Bab English Law memberikan pembahasan terkait dengan hukum Inggris yang mengatur mengenai restitusi. Di dalam bab ini juga dipaparkan hal menarik yang pernah menjadi perdebatan dalam hukum pajak Inggris yaitu pengayaan (enrichment) dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pengayaan seperti faktor ketidakadilan (unjust), beban penuntut restitusi (claimant’s expense), dan pembelaan dalam hal klaim restitusi (defence).

Baca Juga: Hak Wajib Pajak di Tengah Meluasnya Pengenaan Sanksi

Unjust Enrichment merupakan sejumlah manfaat yang diterima oleh suatu pihak dan atas manfaat tersebut seharusnya dilakukan pengembalian (restitusi), namun pada kenyataannya pengembalian tersebut tidak dilakukan sehingga dapat memperkaya pihak tersebut.

Mengapa masalah pengayaan ini menjadi penting? Semuanya bersumber dari fakta bahwa uang tidak hanya mempunyai nilai tukar, tetapi juga mempunyai nilai guna (use value). Nilai guna sejumlah uang dapat berbeda-beda sesuai dengan siapa yang menjadi penerimanya.

Lalu mengapa kelebihan pembayaran pajak yang belum direstitusi dapat dikatakan sebagai unjust enrichment? Hal tersebut dapat terjadi karena kelebihan pembayaran pajak yang belum direstuitusi dapat dianalogikan dengan keadaan ketika pemerintah mendapatkan pinjaman (dari pembayar pajak) namun dengan bunga yang lebih kecil.

Baca Juga: Mengungkap ‘Gunung Es’ Politik Kebijakan Pajak Amerika Serikat

Padahal jika pemerintah meminjam uang ke lembaga lain, bunga yang didapatkan sudah pasti lebih tinggi. Selisih nilai bunga pinjaman itulah yang dapat dianggap sebagai penerimaan yang diperoleh pemerintah dalam rangka pengayaan.

Pada Bab European Law disajikan dua judul esai mengenai teknik yudisial dan efektivitas berkaitan dengan restitusi atas kelebihan pembayaran pajak melalui perspektif hukum Eropa. Secara keseluruhan, pembahasan dalam bab ini berfokus kepada dampak spesifik dari interpretasi dan penerapan hukum Inggris mengenai restitusi terhadap prinsip-prinsip hukum Eropa.

Bab terakhir dalam buku ini mengadaptasi perspektif komparasi dan melihat bagaimana berbagai yuridiksi mengatasi masalah yang muncul dari hukum Inggris mengenai restitusi atas kelebihan pembayaran pajak. Dalam bab ini, restitusi akan dibahas pula melalui berbagai perspektif yaitu melalui hukum Jerman, serta perspektif tipe klaim Woolwich di Irlandia, Kanada, dan Australia.

Baca Juga: DJP Beri Perpanjangan Waktu Pengajuan Keberatan Wajib Pajak

Kasus Woolwich

BUKU ini menjelaskan permasalahan restitusi pajak melalui beberapa contoh kasus di Inggris. Misalnya, pada tahun 1992, House of Lords membuat suatu terobosan baru dalam kasus Woolwich Equitable Building Society v IRC.

Dalam putusan tersebut pengadilan membenarkan bahwa pajak yang dibayar untuk memperoleh ultra vires legislation dapat dikembalikan tanp harus ada alasan seperti pemaksaan, kesalahan, atau kontrak pengembalian uang tersebut.

Baca Juga: Mencari Tahu Ketentuan Beban Pembuktian Pajak di Berbagai Negara

Woolwich menjadi bukti bahwa pengadilan mempunyai kekuatan untuk menentukan dasar yang baru dalam hal pengembalian pajak. Namun ternyata kasus Woolwich masih meninggalkan masalah-masalah penting yang belum bisa terjawab.

Masalah itu antara lain (1) Apakah prinsip yang ada dalam kasus tersebut berlaku apabila pajak dipungut atas dasar penyalahgunaan undang-undang yang berlaku?; (2) Apakah prinsip Woolwich hanya berlaku jika jumlah restitusi yang akan diberikan ditentukan oleh negara?;

Kemudian (3) Apakah ketentuan Woolwich juga berlaku untuk pajak yang lebih bayar?; (4) Apakah Woolwich cocok dengan struktur hukum Inggris yang mensyaratkan adanya dasar alasan yang positif untuk mendapatkan restitusi?

Baca Juga: Mempelajari Dampak Hukum Pajak Internasional terhadap Aturan Domestik

Pada 1999, House of Lords Inggris mengambil langkah yang lebih signifikan dengan menghapuskan kesalahan dari pengadilan dalam kasus Kleinwort Benson Ltd v Lincoln City Council. Pengadilan juga membenarkan bahwa restitusi dapat diberikan oleh pengadilan jika suatu putusan di masa lalu menyatakan seseorang harus membayar sejumlah uang, lalu di putusan pengadilan selanjutnya dinyatakan bahwa putusan tersebut tidak benar.

Akan tetapi, Lord-Browne-Wilkinson meramalkan bahwa penemuan seperti kasus Kleinwort Benson ini akan memberikan keleluasaan bagi penuntut restitusi untuk meminta pengembalian atas pembayaran sampai beberapa dekade sebelumnya.

Adanya kasus Woolwich dan kesalahan-kesalahan dalam hukum menjadi salah satu penyebab meledaknya jumlah proses peradilan yang berkaitan dengan restitusi pajak yang lebih bayar beberapa dekadeterakhir. Namun, faktor-faktor lain tidak dapat dipungkiri juga menjadi penyebab semakin meningkatnya jumlah proses litigasi atas restitusi pajak lebih bayar di ranah pengadilan Eropa.

Baca Juga: Ulasan Pajak dari Sang Peraih Nobel

Buku Restitution of Overpaid Tax memberikan gambaran yang komprehensif dan perspektif yang beragam mengenai bagaimana suatu ketentuan pajak di suatu negara dapat memberikan pengaruh dan dampak yang signifikan terhadap ketentuan pajak di negara-negara lainnya.

Sudah sepatutnya buku yang menjadi koleksi DDTC Library ini menjadi referensi untuk menambah khasanah pengetahuan di bidang perpajakan.* (Cindy Miranti)

Baca Juga: Restitusi PPN Dipercepat Efek Virus Corona untuk PKP Berisiko Rendah

Bab English Law memberikan pembahasan terkait dengan hukum Inggris yang mengatur mengenai restitusi. Di dalam bab ini juga dipaparkan hal menarik yang pernah menjadi perdebatan dalam hukum pajak Inggris yaitu pengayaan (enrichment) dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pengayaan seperti faktor ketidakadilan (unjust), beban penuntut restitusi (claimant’s expense), dan pembelaan dalam hal klaim restitusi (defence).

Baca Juga: Hak Wajib Pajak di Tengah Meluasnya Pengenaan Sanksi

Unjust Enrichment merupakan sejumlah manfaat yang diterima oleh suatu pihak dan atas manfaat tersebut seharusnya dilakukan pengembalian (restitusi), namun pada kenyataannya pengembalian tersebut tidak dilakukan sehingga dapat memperkaya pihak tersebut.

Mengapa masalah pengayaan ini menjadi penting? Semuanya bersumber dari fakta bahwa uang tidak hanya mempunyai nilai tukar, tetapi juga mempunyai nilai guna (use value). Nilai guna sejumlah uang dapat berbeda-beda sesuai dengan siapa yang menjadi penerimanya.

Lalu mengapa kelebihan pembayaran pajak yang belum direstitusi dapat dikatakan sebagai unjust enrichment? Hal tersebut dapat terjadi karena kelebihan pembayaran pajak yang belum direstuitusi dapat dianalogikan dengan keadaan ketika pemerintah mendapatkan pinjaman (dari pembayar pajak) namun dengan bunga yang lebih kecil.

Baca Juga: Mengungkap ‘Gunung Es’ Politik Kebijakan Pajak Amerika Serikat

Padahal jika pemerintah meminjam uang ke lembaga lain, bunga yang didapatkan sudah pasti lebih tinggi. Selisih nilai bunga pinjaman itulah yang dapat dianggap sebagai penerimaan yang diperoleh pemerintah dalam rangka pengayaan.

Pada Bab European Law disajikan dua judul esai mengenai teknik yudisial dan efektivitas berkaitan dengan restitusi atas kelebihan pembayaran pajak melalui perspektif hukum Eropa. Secara keseluruhan, pembahasan dalam bab ini berfokus kepada dampak spesifik dari interpretasi dan penerapan hukum Inggris mengenai restitusi terhadap prinsip-prinsip hukum Eropa.

Bab terakhir dalam buku ini mengadaptasi perspektif komparasi dan melihat bagaimana berbagai yuridiksi mengatasi masalah yang muncul dari hukum Inggris mengenai restitusi atas kelebihan pembayaran pajak. Dalam bab ini, restitusi akan dibahas pula melalui berbagai perspektif yaitu melalui hukum Jerman, serta perspektif tipe klaim Woolwich di Irlandia, Kanada, dan Australia.

Baca Juga: DJP Beri Perpanjangan Waktu Pengajuan Keberatan Wajib Pajak

Kasus Woolwich

BUKU ini menjelaskan permasalahan restitusi pajak melalui beberapa contoh kasus di Inggris. Misalnya, pada tahun 1992, House of Lords membuat suatu terobosan baru dalam kasus Woolwich Equitable Building Society v IRC.

Dalam putusan tersebut pengadilan membenarkan bahwa pajak yang dibayar untuk memperoleh ultra vires legislation dapat dikembalikan tanp harus ada alasan seperti pemaksaan, kesalahan, atau kontrak pengembalian uang tersebut.

Baca Juga: Mencari Tahu Ketentuan Beban Pembuktian Pajak di Berbagai Negara

Woolwich menjadi bukti bahwa pengadilan mempunyai kekuatan untuk menentukan dasar yang baru dalam hal pengembalian pajak. Namun ternyata kasus Woolwich masih meninggalkan masalah-masalah penting yang belum bisa terjawab.

Masalah itu antara lain (1) Apakah prinsip yang ada dalam kasus tersebut berlaku apabila pajak dipungut atas dasar penyalahgunaan undang-undang yang berlaku?; (2) Apakah prinsip Woolwich hanya berlaku jika jumlah restitusi yang akan diberikan ditentukan oleh negara?;

Kemudian (3) Apakah ketentuan Woolwich juga berlaku untuk pajak yang lebih bayar?; (4) Apakah Woolwich cocok dengan struktur hukum Inggris yang mensyaratkan adanya dasar alasan yang positif untuk mendapatkan restitusi?

Baca Juga: Mempelajari Dampak Hukum Pajak Internasional terhadap Aturan Domestik

Pada 1999, House of Lords Inggris mengambil langkah yang lebih signifikan dengan menghapuskan kesalahan dari pengadilan dalam kasus Kleinwort Benson Ltd v Lincoln City Council. Pengadilan juga membenarkan bahwa restitusi dapat diberikan oleh pengadilan jika suatu putusan di masa lalu menyatakan seseorang harus membayar sejumlah uang, lalu di putusan pengadilan selanjutnya dinyatakan bahwa putusan tersebut tidak benar.

Akan tetapi, Lord-Browne-Wilkinson meramalkan bahwa penemuan seperti kasus Kleinwort Benson ini akan memberikan keleluasaan bagi penuntut restitusi untuk meminta pengembalian atas pembayaran sampai beberapa dekade sebelumnya.

Adanya kasus Woolwich dan kesalahan-kesalahan dalam hukum menjadi salah satu penyebab meledaknya jumlah proses peradilan yang berkaitan dengan restitusi pajak yang lebih bayar beberapa dekadeterakhir. Namun, faktor-faktor lain tidak dapat dipungkiri juga menjadi penyebab semakin meningkatnya jumlah proses litigasi atas restitusi pajak lebih bayar di ranah pengadilan Eropa.

Baca Juga: Ulasan Pajak dari Sang Peraih Nobel

Buku Restitution of Overpaid Tax memberikan gambaran yang komprehensif dan perspektif yang beragam mengenai bagaimana suatu ketentuan pajak di suatu negara dapat memberikan pengaruh dan dampak yang signifikan terhadap ketentuan pajak di negara-negara lainnya.

Sudah sepatutnya buku yang menjadi koleksi DDTC Library ini menjadi referensi untuk menambah khasanah pengetahuan di bidang perpajakan.* (Cindy Miranti)

Baca Juga: Restitusi PPN Dipercepat Efek Virus Corona untuk PKP Berisiko Rendah
Topik : buku pajak, hukum pajak, restitusi
Komentar
Dapatkan hadiah berupa smartphone yang diberikan kepada satu orang pemenang dengan komentar terbaik. Pemenang akan dipilih oleh redaksi setiap dua pekan sekali. Ayo, segera tuliskan komentar Anda pada artikel terbaru kanal debat DDTCNews! #MariBicara
*Baca Syarat & Ketentuan di sini
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.
0/1000
artikel terkait
Kamis, 03 Januari 2019 | 14:59 WIB
PENERIMAAN PAJAK
Rabu, 31 Mei 2017 | 11:07 WIB
PAJAK PERTAMBANGAN
Rabu, 21 September 2016 | 17:10 WIB
SISTEM PAJAK
Senin, 17 Februari 2020 | 14:41 WIB
KINERJA INVESTASI
berita pilihan
Kamis, 02 April 2020 | 19:51 WIB
TRANSFER PRICING
Kamis, 02 April 2020 | 18:59 WIB
ANALISIS TRANSFER PRICING
Kamis, 02 April 2020 | 18:01 WIB
PAJAK DIGITAL
Kamis, 02 April 2020 | 17:53 WIB
KABUPATEN LANDAK
Kamis, 02 April 2020 | 16:59 WIB
DENIS HEALEY
Kamis, 02 April 2020 | 16:49 WIB
KABUPATEN TRENGGALEK
Kamis, 02 April 2020 | 16:41 WIB
PMK 23/2020
Kamis, 02 April 2020 | 16:39 WIB
PROVINSI BANTEN
Kamis, 02 April 2020 | 16:25 WIB
PAJAK TRANSAKSI ELEKTRONIK