Trusted Indonesian Tax News Portal
|
DDTC Indonesia
GET
x

'Ekonomi yang Dihambat Pajak Tak akan Hasilkan Pendapatan'

0
0

Presiden AS ke-35 John F. Kennedy

JOHN F. Kennedy (1917-1963) barangkali adalah perkecualian. Saat berpidato di Economic Club of New York, 14 Desember 1962, Presiden AS ke-35 ini mengungkapkan perlunya tarif pajak diturunkan—sesuatu yang ‘setengah diharamkan’ Partai Demokrat, tempatnya berasal.

Namun, berbeda dengan argumentasi pendukung Partai Republik yang biasa memakai slogan ‘Kami Tidak Bekerja untuk Membayar Pajak’, Kennedy mengungkapkan perlunya penurunan pajak untuk meningkatkan sisi penawaran (supply side tax policy).

Inti dari supply side tax policy adalah kebijakan penurunan tarif pajak yang ditujukan untuk meningkatkan kinerja pasar dengan menambah atau memperkuat kapasitas ekonomi guna memproduksi barang dan jasa. Dengan begitu, kurva penawaran pun akan naik.

Baca Juga: Dua Delegasi DDTC Ikuti Konferensi Kebijakan Pajak Global di Dublin

Pengurangan pajak secara umum menghasilkan dampak signifikan terhadap produktivitas dan pertumbuhan. Pemangkasan tarif pajak akan menurunkan marginal tax rate, sehingga memotivasi tenaga kerja bekerja lebih lama. Akibatnya, pendapatan mereka pun meningkat. 

Peningkatan pendapatan dengan sendirinya akan mendorong peningkatan tabungan sekaligus sumber-sumber pembiayaan investasi. Apabila peningkatan produksi terjadi secara massal, maka produksi nasional dan kapasitas ekonomi nasional pun akan meningkat.

Waktu itu, hampir persis setahun sebelum kematiannya yang tragis, Kennedy menyampaikan apa yang kemudian menjadi populer, tentang bagaimana supply side tax policy bekerja, terutama dalam kaitannya dengan defisit anggaran dan tarif pajak penghasilan.

Baca Juga: Kembangkan Mobil Listrik, Deretan Insentif Fiskal Siap Digelontorkan

“Pilihan yang nyata buat kita saat ini adalah bukan antara menurunkan tarif pajak di satu sisi, dan bagaimana menghindari defisit anggaran yang lebar di sisi lain,” kata Kennedy dalam pidatonya di pertengahan musim dingin itu.

“Selama kebutuhan kita terus bertambah, ekonomi yang dihambat oleh tarif pajak tak akan pernah bisa menghasilkan pendapatan yang cukup untuk menyeimbangkan anggaran, sebagaimana ia tak pernah cukup menghasilkan lapangan pekerjaan dan keuntungan,” sambungnya.

“Singkatnya, adalah paradoks bahwa ketika hari ini tarif pajak kita terlalu tinggi, penerimaan pajak kita masih terlalu rendah. Karena itu, cara paling masuk akal untuk meningkatkan penerimaan pajak dalam jangka panjang tidak lain adalah menurunkan tarif pajak sekarang.” (Bsi)

Baca Juga: Mau Pajaki Bank dan Asuransi, Perdana Menteri Ini Hadapi Dilema

Inti dari supply side tax policy adalah kebijakan penurunan tarif pajak yang ditujukan untuk meningkatkan kinerja pasar dengan menambah atau memperkuat kapasitas ekonomi guna memproduksi barang dan jasa. Dengan begitu, kurva penawaran pun akan naik.

Baca Juga: Dua Delegasi DDTC Ikuti Konferensi Kebijakan Pajak Global di Dublin

Pengurangan pajak secara umum menghasilkan dampak signifikan terhadap produktivitas dan pertumbuhan. Pemangkasan tarif pajak akan menurunkan marginal tax rate, sehingga memotivasi tenaga kerja bekerja lebih lama. Akibatnya, pendapatan mereka pun meningkat. 

Peningkatan pendapatan dengan sendirinya akan mendorong peningkatan tabungan sekaligus sumber-sumber pembiayaan investasi. Apabila peningkatan produksi terjadi secara massal, maka produksi nasional dan kapasitas ekonomi nasional pun akan meningkat.

Waktu itu, hampir persis setahun sebelum kematiannya yang tragis, Kennedy menyampaikan apa yang kemudian menjadi populer, tentang bagaimana supply side tax policy bekerja, terutama dalam kaitannya dengan defisit anggaran dan tarif pajak penghasilan.

Baca Juga: Kembangkan Mobil Listrik, Deretan Insentif Fiskal Siap Digelontorkan

“Pilihan yang nyata buat kita saat ini adalah bukan antara menurunkan tarif pajak di satu sisi, dan bagaimana menghindari defisit anggaran yang lebar di sisi lain,” kata Kennedy dalam pidatonya di pertengahan musim dingin itu.

“Selama kebutuhan kita terus bertambah, ekonomi yang dihambat oleh tarif pajak tak akan pernah bisa menghasilkan pendapatan yang cukup untuk menyeimbangkan anggaran, sebagaimana ia tak pernah cukup menghasilkan lapangan pekerjaan dan keuntungan,” sambungnya.

“Singkatnya, adalah paradoks bahwa ketika hari ini tarif pajak kita terlalu tinggi, penerimaan pajak kita masih terlalu rendah. Karena itu, cara paling masuk akal untuk meningkatkan penerimaan pajak dalam jangka panjang tidak lain adalah menurunkan tarif pajak sekarang.” (Bsi)

Baca Juga: Mau Pajaki Bank dan Asuransi, Perdana Menteri Ini Hadapi Dilema
Topik : john f. kennedy, supply side tax policy, kebijakan pajak
artikel terkait
Senin, 13 Mei 2019 | 16:57 WIB
WINSTON CHURCHILL:
Rabu, 02 November 2016 | 19:30 WIB
THE BEATLES:
Kamis, 13 Juni 2019 | 16:22 WIB
TAN MALAKA:
Jum'at, 24 Februari 2017 | 17:54 WIB
SUMITRO DJOJOHADIKUSUMO:
berita pilihan
Senin, 11 Desember 2017 | 06:05 WIB
GIFTY AGYEIWAA BADU
Senin, 13 Mei 2019 | 16:57 WIB
WINSTON CHURCHILL:
Kamis, 15 Februari 2018 | 21:57 WIB
ARTHUR LAFFER:
Selasa, 16 Oktober 2018 | 11:46 WIB
PANGERAN DIPONEGORO:
Selasa, 26 Maret 2019 | 15:07 WIB
JEAN-BAPTISTE COLBERT:
Selasa, 23 April 2019 | 17:51 WIB
SITI MANGGOPOH:
Rabu, 14 November 2018 | 19:13 WIB
PRESIDEN SOEKARNO:
Kamis, 20 Desember 2018 | 12:57 WIB
MAHATMA GANDHI:
Selasa, 12 Februari 2019 | 14:32 WIB
HAJI WASID:
Jum'at, 28 September 2018 | 20:15 WIB
EDUARD DOUWES DEKKER: