Trusted Indonesian Tax News Portal
DDTC Indonesia
GET
x

Belum Pulih, Tapi Lebih Optimistis

0
0

JAKARTA, DDTCNews — Meski belum sepenuhnya pulih, perekononmian nasional menunjukkan sentimen positif. Pasalnya dana inflow yang sudah masuk tahun ini mencapai Rp110 triliun, sementara belanja modal yang intensif akan mengakselerasi pembangunan .  

Wakil Ketua Kamar Dagang Indonesia Bidang Kebijakan Moneter, Fiskal dan Kebijakan Publik Raden Pardede menilai meski hanya di kisaran 5%, pertumbuhan ekonomi Indonesia itu tidak terlalu buruk. Pasalnya saat ini ekonomi global memang tengah melambat.

“Saat ini 4 mesin ekonomi dunia, yaitu Amerika, Eropa, Jepang dan Cina sedang dililit berbagai persoalan ekonomi. Bahkan beberapa negara telah memberlakukan kebijakan bunga negatif,” ujarnya Senin (27/7) dalam siaran pers Kementerian Koordinator Perekonomian.

Baca Juga: Meleset, Pertumbuhan Ekonomi 2019 Diperkirakan Capai 5,2%

Dia menambahkan kondisi ekstrem seperti itu terjadi di Jepang, Swiss dan Denmark di mana kebijakan perbankan di negaranya mengharuskan nasabah untuk membayar jika ingin menyimpan uangnya di bank.

Ketidakstabilan ekonomi global disinyalir telah berimbas pada turunnya harga komoditas.Menurut Raden, Indonesia harus sigap menghadapi situasi seperti saat ini, pasalnya tidak ada kepastian sampai kapan situasi ini akan berlangsung.

Dia menyarankan pemerintah untuk memberikan stimulasi melalui paket kebijakan ekonomi terhadap sektor potensial lainnya, seperti sektor non sumber daya alam, manufaktur, pariwisata, industri kreatif dan industri digital.

Baca Juga: BI: Pemangkasan Suku Bunga Acuan Saja Tidak Cukup

Di lain pihak Chief Economist Bank Mandiri Anton Gunawan menilai Indonesia masih membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang lebih besar. “Konsumsi masih relatif flat, di saat bunga bank tengah menurun,” tuturnya.

“Saat ini 4 mesin ekonomi dunia, yaitu Amerika, Eropa, Jepang dan Cina sedang dililit berbagai persoalan ekonomi. Bahkan beberapa negara telah memberlakukan kebijakan bunga negatif,” ujarnya Senin (27/7) dalam siaran pers Kementerian Koordinator Perekonomian.

Baca Juga: Meleset, Pertumbuhan Ekonomi 2019 Diperkirakan Capai 5,2%

Dia menambahkan kondisi ekstrem seperti itu terjadi di Jepang, Swiss dan Denmark di mana kebijakan perbankan di negaranya mengharuskan nasabah untuk membayar jika ingin menyimpan uangnya di bank.

Ketidakstabilan ekonomi global disinyalir telah berimbas pada turunnya harga komoditas.Menurut Raden, Indonesia harus sigap menghadapi situasi seperti saat ini, pasalnya tidak ada kepastian sampai kapan situasi ini akan berlangsung.

Dia menyarankan pemerintah untuk memberikan stimulasi melalui paket kebijakan ekonomi terhadap sektor potensial lainnya, seperti sektor non sumber daya alam, manufaktur, pariwisata, industri kreatif dan industri digital.

Baca Juga: BI: Pemangkasan Suku Bunga Acuan Saja Tidak Cukup

Di lain pihak Chief Economist Bank Mandiri Anton Gunawan menilai Indonesia masih membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang lebih besar. “Konsumsi masih relatif flat, di saat bunga bank tengah menurun,” tuturnya.

Topik : pertumbuhan ekonomi, ekonomi global, harga komoditas
Komentar
1000 karakter tersisa
artikel terkait
Selasa, 12 Desember 2017 | 09:17 WIB
BERITA PAJAK HARI INI
Rabu, 13 Desember 2017 | 09:21 WIB
BERITA PAJAK HARI INI
Jum'at, 03 November 2017 | 09:15 WIB
BERITA PAJAK HARI INI
Senin, 06 November 2017 | 09:19 WIB
BERITA PAJAK HARI INI
berita pilihan
Senin, 08 April 2019 | 11:30 WIB
KEBIJAKAN PAJAK
Senin, 08 Juli 2019 | 18:02 WIB
TRANSFER PRICING
Rabu, 13 Maret 2019 | 15:39 WIB
TATA PEMERINTAHAN
Sabtu, 24 September 2016 | 12:03 WIB
PENGAMPUNAN PAJAK
Jum'at, 23 Desember 2016 | 10:15 WIB
PENAGIHAN PAJAK
Senin, 29 Oktober 2018 | 09:54 WIB
BERITA PAJAK HARI INI
Senin, 09 Januari 2017 | 17:06 WIB
PENGAMPUNAN PAJAK
Kamis, 11 Agustus 2016 | 16:52 WIB
KANWIL DJP YOGYAKARTA
Kamis, 22 September 2016 | 12:01 WIB
PENGAMPUNAN PAJAK
Kamis, 16 Februari 2017 | 09:55 WIB
BERITA PAJAK HARI INI