Berita
Sabtu, 18 September 2021 | 10:30 WIB
INFOGRAFIS PAJAK
Sabtu, 18 September 2021 | 10:00 WIB
RUU HKPD
Sabtu, 18 September 2021 | 09:21 WIB
PAJAK DALAM BERITA
Sabtu, 18 September 2021 | 09:00 WIB
BELANDA
Review
Rabu, 15 September 2021 | 11:45 WIB
TAJUK
Rabu, 08 September 2021 | 18:19 WIB
KONSULTASI PAJAK
Rabu, 01 September 2021 | 17:06 WIB
KONSULTASI PAJAK
Rabu, 01 September 2021 | 12:00 WIB
TAJUK PAJAK
Fokus
Literasi
Jum'at, 17 September 2021 | 18:30 WIB
KAMUS PAJAK
Jum'at, 17 September 2021 | 17:58 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Jum'at, 17 September 2021 | 16:56 WIB
PROFIL PERPAJAKAN MAKAU
Jum'at, 17 September 2021 | 15:00 WIB
TIPS PAJAK
Data & Alat
Rabu, 15 September 2021 | 11:00 WIB
STATISTIK FISKAL DAERAH
Rabu, 15 September 2021 | 08:30 WIB
KURS PAJAK 15 - 21 SEPTEMBER 2021
Rabu, 08 September 2021 | 08:30 WIB
KURS PAJAK 8 - 14 SEPTEMBER 2021
Rabu, 01 September 2021 | 11:15 WIB
STATISTIK ADMINISTRASI PAJAK
Komunitas
Jum'at, 17 September 2021 | 21:39 WIB
UNIVERSITAS INDONESIA
Jum'at, 17 September 2021 | 14:00 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2021
Kamis, 16 September 2021 | 11:44 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2021
Kamis, 16 September 2021 | 09:30 WIB
AGENDA PAJAK
Reportase
Perpajakan.id

Begini Tren dan Dampak Alternative Minimum Tax Di Berbagai Negara

A+
A-
6
A+
A-
6
Begini Tren dan Dampak Alternative Minimum Tax Di Berbagai Negara

ALTERNATIVE Minimum Tax (AMT) tengah menjadi opsi yang dipertimbangkan dalam upaya melawan praktik penghindaran pajak dengan cara menihilkan laba usaha.

Di satu sisi, kerugian usaha pada dasarnya dapat dipengaruhi kesalahan proyeksi, extraordinary market condition, atau business life cycle perusahaan tersebut yang memang baru mendapatkan break event point dalam jangka waktu panjang (Wright, 2001). Akan tetapi, pada dasarnya, tidak ada perusahaan yang ingin rugi terus-menerus.

Oleh karena itu, terdapat indikasi bahwa kerugian terus-menerus didasari motif mencari keuntungan pajak (tidak membayar pajak) dengan cara mengalihkan labanya ke perusahaan afiliasi yang berada di luar negeri. Simak ‘Sri Mulyani: Jumlah Wajib Pajak yang Lapor Rugi Terus 5 Tahun Naik’.

Baca Juga: Sebagian Usulan Kenaikan Pajak Joe Biden Didukung Parlemen

Kerugian terus-menerus juga mencerminkan adanya suatu alokasi laba yang tidak adil antarperusahaan dalam satu grup. Tidak mengherankan jika kerugian secara terus-menerus merupakan salah satu indikasi kuat atas praktik pengalihan laba (United Nations, 2013).

Merespons kemungkinan tersebut, berbagai negara telah menerapkan AMT. Aslam dan Coelho (2021), dalam Working Paper yang berjudul A Firm Lower Bound: Characteristics and Impact of Corporate Minimum Taxation menyajikan tren hasil estimasi efektivitas kebijakan tersebut.

Publikasi terbitan International Monetary Fund (IMF) tersebut meneliti dampak AMT yang ternyata telah diterapkan sedikitnya di 50 negara seluruh dunia.

Baca Juga: Ada Ketentuan Bayar Pajak di Muka, Pengadilan Minta UU PPN Direvisi

Menariknya, Aslam dan Coelho menyebut AMT dapat saling melengkapi dengan Global Minimum Tax yang tengah menjadi bahasan konsensus global. AMT pada dasarnya “hanya” menyasar pada penghindaran pajak atas penghasilan yang berasal dari negara sumber penghasilan. Sementara itu, Global Minimum Tax dapat menargetkan penghindaran pajak atas penghasilan yang berasal dari luar negeri.

Terdapat tiga macam desain AMT yang diterapkan berbagai negara. Pertama, AMT yang menjadikan omzet sebagai basis pajak. Desain ini paling banyak diterapkan berbagai negara. Kedua, AMT yang menyasar pada nilai buku aset usaha sebagai basis pajak. Ketiga, restrukturisasi perhitungan penghasilan kena pajak (Modified-income Minimum Tax).

Secara umum, AMT diterapkan berbagai negara, baik berpenghasilan tinggi, menengah, maupun rendah. Adapun AMT yang berbasis pada omzet pada umumnya diterapkan negara berpenghasilan menengah ke bawah.

Baca Juga: Universitas Brawijaya Adakan Seminar Nasional Perpajakan, Tertarik?

Sementara itu, AMT dengan model Modified-income Minimum Tax lebih banyak digunakan negara berpenghasilan tinggi. Hal ini kemungkinan dikarenakan penerapan model ini lebih rumit secara administrasi sehingga tidak menjadi preferensi negara berpenghasilan menengah ke bawah yang umumnya belum memiliki sistem administrasi yang mapan.


Estimasi Dampak AMT
ASLAM dan Coelho menemukan penerapan AMT di 50 negara diikuti dengan peningkatan rata-rata tarif efektif wajib pajak badan sebesar 1,6%. Artinya, ada sinyal penurunan perencanaan pajak yang agresif setelah diterapkannya AMT.

Baca Juga: Perkembangan Kapasitas Fiskal Daerah di Indonesia 5 Tahun Terakhir

Peningkatan tarif efektif rata-rata tersebut ternyata 1% lebih tinggi pada negara-negara yang menggunakan desain Modified-income Minimum Tax dibandingkan dengan rata-rata sampel dengan desain lainnya. Namun, hal tersebut dapat dikarenakan adanya perbedaan karakteristik negara yang menerapkan mengingat desain tersebut umumnya diterapkan di negara-negara berpenghasilan tinggi atau lebih maju.

Kemudian, hasil estimasi juga menunjukkan keberhasilan AMT dalam mendorong peningkatan pelaporan laba usaha. Dengan kata lain, AMT mengurangi insentif wajib pajak badan untuk melakukan underreporting laba usaha untuk tujuan pajak.

Dengan demikian, penelitian yang terbilang pionir ini menguatkan argumentasi efektivitas penerapan AMT untuk meningkatkan tarif efektif yang akhirnya dibebankan kepada wajib pajak badan.

Baca Juga: Apa Itu Opsen Pajak?

Topik : narasi data, statistik penghindaran pajak, alternative minimum tax, AMT, kebijakan pajak

KOMENTAR

0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

Selasa, 07 September 2021 | 18:00 WIB
RUU HKPD

Pemungutan Pajak Daerah Bakal Diperkuat Lewat RUU Ini

Selasa, 07 September 2021 | 11:17 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2021

Menggagas Swasembada Vaksin Melalui Pandemic Tax Deduction

Senin, 06 September 2021 | 18:00 WIB
RUU KUP

Tunggu Raker Dengan Pemerintah, DIM RUU KUP Belum Diserahkan

Senin, 06 September 2021 | 17:00 WIB
AMERIKA SERIKAT

Senat Demokrat Mulai Sebarkan Draf Proposal Kebijakan Pajak Biden

berita pilihan

Sabtu, 18 September 2021 | 10:30 WIB
INFOGRAFIS PAJAK

Peta Kapasitas Fiskal Daerah Provinsi

Sabtu, 18 September 2021 | 10:00 WIB
RUU HKPD

DBH Perikanan Dihapus dalam RUU HKPD, Ini Alasannya

Sabtu, 18 September 2021 | 09:21 WIB
PAJAK DALAM BERITA

WP Tak Diaudit Lebih Berisiko dan NPWP Bendahara Dihapus, Cek Videonya

Sabtu, 18 September 2021 | 09:00 WIB
BELANDA

Kebijakan Baru PPN e-Commerce Eropa, Pelapak Online Perlu Tahu Ini

Sabtu, 18 September 2021 | 08:00 WIB
BERITA PAJAK SEPEKAN

Isu Terpopuler: DJP Kerahkan Pegawai ke Lapangan dan Tebar Email ke WP

Sabtu, 18 September 2021 | 06:00 WIB
KABUPATEN BANGLI

Tak Perlu Repot, Cek Tagihan Pajak PBB Bisa Lewat Aplikasi Ini

Jum'at, 17 September 2021 | 21:39 WIB
UNIVERSITAS INDONESIA

Multidisiplin Ilmu, Profesional Pajak Harus Tahu Ini

Jum'at, 17 September 2021 | 18:30 WIB
KAMUS PAJAK

Apa Itu PKP Kegiatan Usaha Tertentu?

Jum'at, 17 September 2021 | 17:58 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI

Sengketa Gugatan Diterbitkannya Surat Paksa