Trusted Indonesian Tax News Portal
DDTC Indonesia
GET
x

Setoran Pajak Wall Street Tembus Rp1.000 Triliun

0
0

NEW YORK, DDTCNews —Pajak atas transaksi finansial Wall Street, Amerika Serikat (AS) diprediksi mencapai USD105 miliar atau Rp1.375 triliun lebih setiap tahunnya berdasarkan laporan yang dirilis Center for Economic and Policy Research (CERP) yang merupakan golongan sayap kiri.

Co-Director CERP Dean Baker mengungkapkan dalam laporan tersebut bahwa penerapan financial transaction taxes (FTTs) atau pajak atas transaksi finansial akan menjadi cara yang efektif untuk meningkatkan penerimaan negara tanpa membahayakan aktivitas pasar keuangan.

“FTTs ini diusulkan karena bisa membuat pasar keuangan menjadi lebih efisien. FTTs mampu mengurangi hambatan jangka pendek, menjaga stabilitas pasar, dan memaksa industri keuangan untuk berfokus pada jangka panjang,” tutur Dean dalam laporan yang ditulisnya.

Baca Juga: Banyak Perusahaan Norwegia yang Hengkang ke New York, Ada Apa?

Dean menyarankan tarif FTTs sebaiknya dipatok sebesar 0,2% dari nilai nominalnya untuk perdagangan saham dan 0,0002% untuk perdagangan derivatif.  

Usulan pengenaan FTTs semakin menguat lantaran Hillary Clinton yang merupakan salah satu calon Presiden AS gencar menyuarakannya. Menurut kabar yang beredar, Partai Demokrat membutuhkan banyak dana untuk menyukseskan berbagai program mereka.

Penerimaan FTTs ini diyakini mampu menopang program pendidikan kuliah gratis yang digaungkan Bernie Sanders. Diprediksi penerimaan FTTs bisa menutupi biaya kuliah sebesar USD75 miliar atau sekitar Rp982 triliun setiap tahunnya.

Baca Juga: Pajak Orang Kaya Diusulkan untuk Danai Pendidikan Anak

Namun, Baker mengingatkan penerapan FTTs tidak akan ada artinya jika biaya pendidikan di perguruan tinggi terus meningkat lebih cepat dibandingkan dengan laju inflasi. Di sisi lain kebijakan pendidikan kuliah gratis akan mengakibatkan permintaan pendaftaran di perguruan tinggi membludak.

“FTTs ini diusulkan karena bisa membuat pasar keuangan menjadi lebih efisien. FTTs mampu mengurangi hambatan jangka pendek, menjaga stabilitas pasar, dan memaksa industri keuangan untuk berfokus pada jangka panjang,” tutur Dean dalam laporan yang ditulisnya.

Baca Juga: Banyak Perusahaan Norwegia yang Hengkang ke New York, Ada Apa?

Dean menyarankan tarif FTTs sebaiknya dipatok sebesar 0,2% dari nilai nominalnya untuk perdagangan saham dan 0,0002% untuk perdagangan derivatif.  

Usulan pengenaan FTTs semakin menguat lantaran Hillary Clinton yang merupakan salah satu calon Presiden AS gencar menyuarakannya. Menurut kabar yang beredar, Partai Demokrat membutuhkan banyak dana untuk menyukseskan berbagai program mereka.

Penerimaan FTTs ini diyakini mampu menopang program pendidikan kuliah gratis yang digaungkan Bernie Sanders. Diprediksi penerimaan FTTs bisa menutupi biaya kuliah sebesar USD75 miliar atau sekitar Rp982 triliun setiap tahunnya.

Baca Juga: Pajak Orang Kaya Diusulkan untuk Danai Pendidikan Anak

Namun, Baker mengingatkan penerapan FTTs tidak akan ada artinya jika biaya pendidikan di perguruan tinggi terus meningkat lebih cepat dibandingkan dengan laju inflasi. Di sisi lain kebijakan pendidikan kuliah gratis akan mengakibatkan permintaan pendaftaran di perguruan tinggi membludak.

Topik : pajak internasional, Amerika Serikat, wall street
Komentar
1000 karakter tersisa
artikel terkait
Sabtu, 10 September 2016 | 14:01 WIB
IRLANDIA
Selasa, 11 Juni 2019 | 16:24 WIB
AUSTRALIA
Rabu, 27 Desember 2017 | 11:18 WIB
INGGRIS
Kamis, 08 September 2016 | 17:20 WIB
AMERIKA SERIKAT
berita pilihan
Sabtu, 10 September 2016 | 14:01 WIB
IRLANDIA
Selasa, 11 Juni 2019 | 16:24 WIB
AUSTRALIA
Rabu, 27 Desember 2017 | 11:18 WIB
INGGRIS
Rabu, 22 Mei 2019 | 14:40 WIB
ITALIA
Kamis, 28 Maret 2019 | 16:54 WIB
SELANDIA BARU
Sabtu, 08 Oktober 2016 | 14:30 WIB
AZERBAIJAN
Minggu, 18 September 2016 | 19:02 WIB
INDIA
Rabu, 06 Desember 2017 | 11:30 WIB
GHANA
Senin, 04 Juni 2018 | 16:38 WIB
YORDANIA
Kamis, 05 Juli 2018 | 10:45 WIB
NIKARAGUA