Fokus
Literasi
Senin, 06 Desember 2021 | 18:30 WIB
KAMUS PAJAK
Senin, 06 Desember 2021 | 17:00 WIB
TIPS CUKAI
Jum'at, 03 Desember 2021 | 19:00 WIB
KAMUS PERPAJAKAN
Jum'at, 03 Desember 2021 | 16:00 WIB
TIPS PAJAK
Data & Alat
Rabu, 01 Desember 2021 | 08:17 WIB
KURS PAJAK 1 DESEMBER - 7 DESEMBER 2021
Rabu, 24 November 2021 | 08:45 WIB
KURS PAJAK 24 NOVEMBER - 30 NOVEMBER 2021
Rabu, 17 November 2021 | 08:51 WIB
KURS PAJAK 17 NOVEMBER - 23 NOVEMBER 2021
Rabu, 10 November 2021 | 07:33 WIB
KURS PAJAK 10-16 NOVEMBER 2021
Reportase
Perpajakan.id

Perlakuan Biaya Entertainment di Beberapa Negara, Bagaimana Indonesia?

A+
A-
7
A+
A-
7
Perlakuan Biaya Entertainment di Beberapa Negara, Bagaimana Indonesia?

ENTERTAINMENT atau hiburan yang disediakan dalam konteks kegiatan usaha sangat rentan terhadap penyalahgunaan sehingga tidak mengherankan jika pengurangan biaya ini tunduk pada batasan khusus di semua negara. Batasan ini biasanya berupa penetapan persyaratan tambahan, terutama pembuktian untuk pengurangan dan batasan persentase atas pengeluaran yang memenuhi syarat.

Di Amerika Serikat, biaya entertainment harus “terkait langsung dengan” atau “terkait dengan” perdagangan atau kegiatan usaha wajib pajak (Ault dan Arnold, 2010). Namun, iuran klub tidak diperbolehkan untuk menjadi pengurang (Internal Revenue Services, 2020).

Di Jerman, biaya entertainment yang diperbolehkan sebagai pengurang penghasilan bruto umumnya dibatasi sesuai dengan “kewajaran” dari biaya yang dikeluarkan (Avi-Yonah, Satori, dan Maria, 2014). Beberapa jenis biaya tidak dapat menjadi pengurang, misal biaya yang dikeluarkan untuk berburu, memancing, atau berpesiar (Ault dan Arnold, 2010).

Baca Juga: Sengketa Biaya Entertainment Sebagai Pengurang Penghasilan Bruto

Dalam kasus makanan yang diberikan kepada mitra bisnis, 70% dari jumlah “wajar” yang dibayarkan untuk makanan dan minuman dapat menjadi pengurang. Untuk menilai “kewajaran” biaya, harus dilakukan analisis berdasarkan UU PPh Jerman. Yaitu, ada tidaknya hubungan pengeluaran terhadap transaksi bisnis tertentu, ukuran dan profitabilitas bisnis, dan jumlah yang dihabiskan oleh perusahaan yang sebanding dalam bidang ini. Wajib pajak juga harus memberikan bukti tempat, tanggal, peserta, dan alasan untuk setiap pengeluaran yang dilakukan (Ault dan Arnold, 2010).

Pola di Swedia juga serupa. Selain memenuhi tes yang melibatkan hubungan biaya dengan aktivitas usaha, biaya entertainment yang dikeluarkan pun harus semata-mata bertujuan utuk membangun atau mempertahankan hubungan bisnis. Pembatasan ini akan mencegah, misalnya pemotongan biaya kapal pesiar yang digunakan untuk menghibur pelanggan, tetapi juga digunakan secara pribadi (Ault dan Arnold, 2010).

Lebih lanjut, di Kanada, 50% dari biaya entertainment yang terhubung langsung dengan aktivitas usaha dapat menjadi pengurang. Namun, pengurangan ini tidak berlaku atas biaya hiburan yang dikeluarkan oleh karyawan, kecuali staf penjualan sepanjang memenuhi syarat. Penggantian biaya hiburan oleh pemberi kerja tidak dimasukkan dalam penghasilan bagi karyawan. Namun, biaya entertainment yang dikeluarkan untuk iuran klub dan biaya untuk penggunaan kapal pesiar, kamp, pondok, dan lapangan golf tidak diperbolehkan menjadi pengurang penghasilan bruto (Avi-Yonah, Satori, dan Maria, 2014).

Baca Juga: Memahami Konsep Rekonsiliasi Fiskal

Bagaimana dengan Indonesia? Terkait dengan biaya entertainment diatur oleh peraturan yang sebenarnya sudah sangat lama, yaitu Surat Edaran Nomor SE-27/PJ.22/1986. Dalam SE tersebut, dinyatakan bahwa biaya entertainment, representasi, jamuan tamu, dan sejenisnya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan pada dasarnya dapat dikurangkan dari penghasilan bruto sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) huruf a UU Pajak Penghasilan (PPh).

Syaratnya, wajib pajak harus dapat memenuhi persyaratan formal, yaitu membuktikan bahwa biaya entertainment telah benar-benar dikeluarkan. Serta memenuhi syarat material, yaitu terdapat hubungan dengan kegiatan perusahaan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang merupakan objek pajak.

Oleh karena itu, wajib pajak yang mengurangkan biaya-biaya tersebut dari penghasilan brutonya sejak tahun pajak 1986 diharuskan melampirkannya melalui daftar nominatif. Mengingat daftar nominatif sudah diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 02/PMK.03/2010 maka daftar nominatif yang dimaksud dalam SE-27/PJ.22/1986 seharusnya mengacu kepada PMK-02/PMK.03/2010.

Baca Juga: Persiapan Pengisian SPT PPh Badan 2016

Topik : Biaya Entertainment, Biaya Jamuan, SPT PPh Badan

KOMENTAR

0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

berita pilihan

Senin, 06 Desember 2021 | 19:00 WIB
MALAYSIA

Pacu Industri Pariwisata 2022, Berbagai Insentif Pajak Disiapkan

Senin, 06 Desember 2021 | 18:30 WIB
KAMUS PAJAK

Apa Itu Tempat Lelang Berikat?

Senin, 06 Desember 2021 | 18:00 WIB
PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI

Jangan Gampang Tergiur Penawaran Aset Kripto, Investor Perlu Tahu Ini

Senin, 06 Desember 2021 | 17:21 WIB
PRESIDENSI G-20 INDONESIA

Target Presidensi G-20 Indonesia: Proposal Pilar 1 Diteken Juli 2022

Senin, 06 Desember 2021 | 17:00 WIB
TIPS CUKAI

Cara Mengajukan Pemesanan Pita Cukai Rokok

Senin, 06 Desember 2021 | 16:37 WIB
KPP PRATAMA KUBU RAYA

Telusuri Aset WP yang Tunggak Pajak, DJP Gandeng Pemda

Senin, 06 Desember 2021 | 16:30 WIB
KINERJA FISKAL

Dana Pemda yang Mengendap di Bank Segera Susut, Ini Alasan Pemerintah

Senin, 06 Desember 2021 | 16:13 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Curhat Komunitas Difabel ke DJP: Literasi Pajak Masih Minim