Review
Senin, 30 Januari 2023 | 12:00 WIB
TAJUK PERPAJAKAN
Senin, 30 Januari 2023 | 10:15 WIB
Dir. Komunikasi dan Bimbingan Pengguna Jasa DJBC Nirwala Dwi Heryanto:
Jum'at, 27 Januari 2023 | 08:00 WIB
MENDESAIN PAJAK NATURA DAN KENIKMATAN (2)
Kamis, 26 Januari 2023 | 15:53 WIB
MENDESAIN PAJAK NATURA DAN KENIKMATAN (1)
Fokus
Literasi
Senin, 30 Januari 2023 | 14:24 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Senin, 30 Januari 2023 | 12:00 WIB
TIPS PAJAK
Senin, 30 Januari 2023 | 10:45 WIB
KAMUS KEPABEANAN
Jum'at, 27 Januari 2023 | 17:30 WIB
KAMUS KEPABEANAN
Data & Alat
Rabu, 25 Januari 2023 | 08:45 WIB
KURS PAJAK 25 JANUARI - 31 JANUARI 2023
Rabu, 18 Januari 2023 | 09:03 WIB
KURS PAJAK 18 JANUARI - 24 JANUARI 2023
Rabu, 11 Januari 2023 | 09:15 WIB
KURS PAJAK 11 JANUARI - 17 JANUARI 2022
Rabu, 04 Januari 2023 | 09:11 WIB
KURS PAJAK 04 JANUARI - 10 JANUARI 2023
Reportase

Pakai PPh Final UMKM, Perhatikan Status Perpajakan Suami Istri PH-MT

A+
A-
21
A+
A-
21
Pakai PPh Final UMKM, Perhatikan Status Perpajakan Suami Istri PH-MT

Ilustrasi.

JAKARTA, DDTCNews - Wajib pajak yang dapat memanfaatkan tarif pajak penghasilan (PPh) final sesuai PP 23/2018 adalah yang peredaran bruto atau omzet nya tidak melebihi Rp4,8 miliar dalam satu tahun pajak.

Namun, perlu diperhatikan adanya ketentuan yang diatur dalam menentukan besarnya omzet apabila wajib pajak merupakan orang pribadi suami istri yang menghendaki perjanjian pisah harta atau yang istrinya memilih menjalankan kewajiban pajak sendiri.

“Besarnya peredaran bruto sebagaimana dimaksud … ditentukan berdasarkan penggabungan peredaran bruto usaha dari suami dan istri,” bunyi penggalan Pasal 4 ayat (2) PP 23/2018, dikutip Senin (21/11/2022).

Baca Juga: Penawaran Perdana SUN Khusus PPS Tahun Ini, Begini Hasilnya

Untuk lebih jelasnya, terdapat contoh kasus yang dipaparkan dalam penjelasan pasal tersebut. Berikut adalah contoh kasusnya:

Terdapat kondisi, yakni Tuan G dan Nyonya H adalah suami istri yang menghendaki perjanjian pisah harta dan penghasilan secara tertulis. Pada 2019, Tuan G memiliki usaha toko kelontong dengan omzet Rp4 miliar.

Kemudian, pada tahun tersebut Nyonya H juga memiliki usaha salon dengan omzet Rp1 miliar. Karenanya, sesuai dengan ketentuan yang diatur, penentuan omzetnya jika ingin menggunakan PPh final UMKM dihitung berdasarkan penggabungan omzet Tuan G dan Nyonya H.

Baca Juga: SPT Tahunan Badan Tak Bisa Pakai e-SPT, e-Form Belum Tampung PTKP UMKM

Meskipun peredaran bruto masing-masing kurang dari Rp4,8 miliar, jumlah penggabungan dari omzet dari usaha Tuan G ditambah omzet dari usaha Nyonya H pada tahun pajak 2019 adalah Rp5 miliar. Dengan begitu, penghasilan dari usaha Tuan G dan Nyonya H tidak dapat dikenai PPh final UMKM.

Sebagai tambahan informasi, besarnya tarif PPh final yang dikenakan pada wajib pajak yang memenuhi ketentuan peredaran bruto dan memilih menggunakan adalah sebesar 0,5% dari omzet sebagai dasar pengenaan pajak nya.

Adapun yang dimaksud peredaran bruto atau omzet yang dijadikan dasar pengenaan pajak merupakan imbalan atau nilai pengganti berupa uang atau nilai uang yang diperoleh dari usaha, sebelum dikurangi potongan penjualan, potongan tunai, atau potongan sejenis. (Fauzara Pawa Pambika/sap)

Baca Juga: Dirjen Pajak Ingatkan WP Lapor SPT Tahunan, Jangan Mepet Deadline

Cek berita dan artikel yang lain di Google News.

Topik : UMKM, PP 23/2018, PPh final, kepatuhan pajak, M-Pajak, status perpajakan, pisah harta, memilih terpisah

KOMENTAR

0/1000
Pastikan anda login dalam platform dan berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

Jum'at, 20 Januari 2023 | 14:00 WIB
MALAYSIA

Asosiasi Pengusaha Ini Minta Insentif Pajak untuk UMKM Dilanjutkan

Jum'at, 20 Januari 2023 | 11:45 WIB
PELAPORAN SPT

Omzet Rp500 Juta WP OP UMKM Tak Kena Pajak Belum Diakomodasi di e-Form

Jum'at, 20 Januari 2023 | 10:45 WIB
PP 55/2022

PP 55/2022, Omzet Lampaui Rp4,8 M Pakai PPh Final Sampai Akhir Tahun

Jum'at, 20 Januari 2023 | 09:00 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

PP 1/2019 Direvisi, Ada Opsi untuk Relaksasi Tarif PPh Deposito DHE

berita pilihan

Senin, 30 Januari 2023 | 21:02 WIB
SELEKSI HAKIM AGUNG

Wawancara 2 Calon Hakim Agung TUN Khusus Pajak Digelar Rabu Pekan Ini

Senin, 30 Januari 2023 | 17:30 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Barang di Batam Lebih Murah karena Bebas Pajak? Ternyata Ini Faktanya

Senin, 30 Januari 2023 | 17:00 WIB
KEBIJAKAN PEMERINTAH

Agar Tak Hambat Investasi, Peraturan Soal Perizinan Ini Bakal Direvisi

Senin, 30 Januari 2023 | 16:30 WIB
PMK 112/2022

Tak Cuma Pajak, Perizinan Sampai Ekspor-Impor Juga Wajib Pakai NIK

Senin, 30 Januari 2023 | 16:00 WIB
ADMINISTRASI PAJAK

Ingat, Pembetulan SPT Tidak Bisa Cuma Copy Paste Data PDF dari e-Form

Senin, 30 Januari 2023 | 15:45 WIB
ADA APA DENGAN PAJAK?

Apa itu Advance Pricing Agreement dan Aturan Terbarunya di PP 55/2022?

Senin, 30 Januari 2023 | 15:30 WIB
KEBIJAKAN BEA DAN CUKAI

Kanwil DJBC Jakarta Ambil Alih Kantor Bea Cukai Bekasi dan Cikarang

Senin, 30 Januari 2023 | 15:19 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Soal PPh Ditanggung Pemberi Kerja, DJP: PER-16/PJ/2016 Masih Berlaku

Senin, 30 Januari 2023 | 15:00 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Hati-Hati Modus Baru Penipuan, Ancam Potong Pajak Autodebet Rekening

Senin, 30 Januari 2023 | 14:24 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI

Sengketa PPh Pasal 21 atas Biaya Gaji Pemegang Saham