Berita
Minggu, 25 Oktober 2020 | 16:01 WIB
KABUPATEN TABANAN
Minggu, 25 Oktober 2020 | 15:01 WIB
FILIPINA
Minggu, 25 Oktober 2020 | 13:01 WIB
KEBIJAKAN PAJAK DAERAH
Minggu, 25 Oktober 2020 | 12:01 WIB
RUMANIA
Review
Rabu, 21 Oktober 2020 | 14:14 WIB
KONSULTASI PAJAK
Jum'at, 16 Oktober 2020 | 17:13 WIB
ANALISIS PAJAK
Rabu, 14 Oktober 2020 | 14:17 WIB
KONSULTASI PAJAK
Rabu, 07 Oktober 2020 | 14:17 WIB
KONSULTASI PAJAK
Fokus
Data & alat
Rabu, 21 Oktober 2020 | 17:02 WIB
STATISTIK SISTEM PAJAK
Rabu, 21 Oktober 2020 | 09:24 WIB
KURS PAJAK 21 OKTOBER - 27 OKTOBER 2020
Jum'at, 16 Oktober 2020 | 15:24 WIB
MATRIKS AREA KEBIJAKAN
Rabu, 14 Oktober 2020 | 09:25 WIB
KURS PAJAK 14 OKTOBER - 20 OKTOBER 2020
Komunitas
Minggu, 25 Oktober 2020 | 14:01 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2020
Minggu, 25 Oktober 2020 | 09:01 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2020
Minggu, 25 Oktober 2020 | 08:01 WIB
ALPHONZUS WIDJAJA:
Sabtu, 24 Oktober 2020 | 14:47 WIB
TASYA KAMILA:
Kolaborasi
Selasa, 20 Oktober 2020 | 14:10 WIB
KONSULTASI
Selasa, 20 Oktober 2020 | 09:45 WIB
KONSULTASI
Selasa, 13 Oktober 2020 | 14:13 WIB
KONSULTASI
Selasa, 13 Oktober 2020 | 11:54 WIB
KONSULTASI
Reportase

'Pajak Membantu Membentuk Negara'

A+
A-
1
A+
A-
1
'Pajak Membantu Membentuk Negara'

Joseph Alois Schumpeter (1883-1950). (Foto: famouseconomists.net)

ADAKAH hubungan antara pajak dan pembentukan sebuah negara? Pertanyaan ini belum selesai dijawab sampai 1883, ketika di Eropa Tengah, di Moravia, Kerajaan Austria Hongaria, persisnya di Triesch, kota kecil di tengah-tengah Praha dan Vienna, ia dilahirkan.

Ia anak tunggal. Ayahnya seorang Katolik Jerman yang memiliki pabrik tekstil, tetapi meninggal saat ia berusia 4 tahun. Saat 10 tahun, ibunya menikah lagi dengan seorang perwira tinggi Austria-Hongaria. Ibunya kemudian mengajaknya pindah ke Vienna berkumpul bersama ayahnya.

Ia lalu disekolahkan di Theresianum, sekolah elit yang didirikan penguasa terakhir Dinasti Habsburg Maria Theresa. Lulus dari Theresianum, ia belajar ekonomi dan hukum di Universitas Vienna, di bawah bimbingan ekonom Eugen von Böhm-Bawerk dan Friedrich von Wieser.

Baca Juga: 'Tidak Ada Uang Negara, yang Ada Uang Pembayar Pajak'

Dasar otaknya encer, pada 23 tahun ia sudah meraih PhD, lalu jadi profesor pada 26 tahun, dan mengajar di Universitas Czernowitz, Ukraina. Dua tahun kemudian ia pindah ke Universitas Graz, Austria. Pada usia 30, ia dianugerahi gelar kehormatan oleh Universitas Columbia Amerika Serikat.

Namun, ia tak lama menikmati masa tenang itu. Pada 28 Juni 1914, sekelompok nasionalis Slavia Selatan membunuh putra mahkota Kerajaan Austria Hongaria Franz Ferdinand dan istri ketika sedang jalan-jalan di Sarajevo, wilayah Austria Hongaria. Maka, pecahlah perang dunia pertama.

Hanya dalam 2 pekan, dunia pun seketika terbagi menjadi dua blok besar yang saling berperang memperebutkkan wilayah. Blok pertama beranggotakan Kekaisaran Jerman, Kerajaan Austria-Hongaria, Kesultanan Utsmaniyah, Bulgaria, dan Jabal Shammar.

Baca Juga: 'Kalau Saya Nakal, Boleh Dihukum'

Blok tersebut berdiri melawan blok lain di ujung sana, yaitu blok Sekutu yang terdiri atas Prancis, Kekaisaran Britania, Kekaisaran Rusia, Italia, AS, Rumania, Jepang, Serbia, Belgia, Yunani, Kerajaan Hijaz, Emirat Nejd dan Hasa.

Setelah perang yang mengubah wajah dunia itulah, Joseph Alois Schumpeter (1883-1950) menemukan jawaban dari pertanyaan tadi. Jawaban yang sampai sekarang masih sering dikutip oleh para sejarahwan dunia.

“Pajak tidak hanya membantu menciptakan negara. Pajak membantu membentuk negara. Sistem perpajakan adalah organ yang perkembangannya mensyaratkan organ lain. Saat tagihan pajak di tangan, negara telah merambah swasta dan meningkatkan dominasinya,” katanya pada 1918.

Baca Juga: 'Saya Minta Maaf atas Ketidakadilan Pajak'

Ia berargumen, setelah perang dunia I berakhir, ketika banyak monarki lama tergusur dan negara baru bermunculan, sistem perpajakan tidak hanya digunakan untuk mengumpulkan pendapatan, tetapi memperkuat kendali negara atas rakyat, guna mempertahankan teritori dan legitimasi.

“Pajak membawa uang dan semangat menghitung ke berbagai sudut, dan menjadi faktor pembentuk organisme itu sendiri. Jenis dan tarif pajak ditentukan struktur sosial, tetapi begitu ada, mereka menjadi pegangan, sebagai kekuatan yang dapat mengubah struktur sosial,” katanya.

Pada 1919, seusai perang dunia I yang melahirkan Republik Jerman-Austria dan menghapuskan Kerajaan Austria-Hongaria dari peta dunia, Kanselir Republik Jerman-Austria Karl Renner menunjuknya sebagai Menteri Keuangan. Saat itu usianya 36 tahun.

Baca Juga: 'Setiap Beringin Besar akan Tumbang'

Sayang, ia cuma bertahan 7 bulan, lalu ia menjadi direktur bank yang bangkrut, hingga kembali ke dunia akademik di Universitas Bonn, Jerman. Di kota itulah ibu dan istrinya meninggal. Ditikam kesedihan yang teramat sangat, Schumpeter pun pindah mengajar ke Harvard, Amerika Serikat (AS).

Saat itu, Nazisme mulai menggusur Eropa Tengah. Pada 1939, ia menjadi warga negara AS. Setahun sebelum pensiun dari Harvard, pada 1948, ia diangkat sebagai Presiden Asosiasi Ekonomi Amerika, orang Eropa pertama yang memegang jabatan tersebut.

Schumpeter menentang sosialisme dan kapitalisme. Ia memprotes kendali pemerintah atas ekonomi. Ia juga mengaitkan ekonomi dengan sosiologi. Namun, karyanya cenderung diabaikan karena semua perhatian terpusat ke John Maynard Keynes, raksasa pemikir ekonomi waktu itu.

Baca Juga: 'Uang Pajak Judi Ini untuk Pendidikan'

Teorinya tentang kesehatan ekonomi berbeda dengan Keynes. Ia menentang proses berulang dari daur ulang yang lama menjadi yang baru, dan menyebutnya sebagai penghancuran kreatif. “Perekonomian itu seperti makhluk hidup yang terus tumbuh dan beradaptasi,” katanya. (Bsi)

Topik : kutipan pajak, joseph schumpeter, pembentukan negara
Komentar
0/1000
Sampaikan komentar Anda dengan bijaksana. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab Anda, sesuai UU ITE.
artikel terkait
Selasa, 16 Oktober 2018 | 11:46 WIB
PANGERAN DIPONEGORO:
Jum'at, 28 September 2018 | 20:15 WIB
EDUARD DOUWES DEKKER:
Senin, 03 September 2018 | 15:16 WIB
IBNU KHALDUN:
Rabu, 01 Agustus 2018 | 19:37 WIB
ALI WARDHANA:
berita pilihan
Minggu, 25 Oktober 2020 | 16:01 WIB
KABUPATEN TABANAN
Minggu, 25 Oktober 2020 | 15:01 WIB
FILIPINA
Minggu, 25 Oktober 2020 | 14:01 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2020
Minggu, 25 Oktober 2020 | 13:01 WIB
KEBIJAKAN PAJAK DAERAH
Minggu, 25 Oktober 2020 | 12:01 WIB
RUMANIA
Minggu, 25 Oktober 2020 | 11:00 WIB
INFOGRAFIS PAJAK
Minggu, 25 Oktober 2020 | 10:01 WIB
PENERIMAAN PPN
Minggu, 25 Oktober 2020 | 09:01 WIB
LOMBA MENULIS DDTCNEWS 2020
Minggu, 25 Oktober 2020 | 08:01 WIB
ALPHONZUS WIDJAJA:
Minggu, 25 Oktober 2020 | 07:01 WIB
MAROKO