Fokus
Literasi
Rabu, 17 Agustus 2022 | 12:00 WIB
KAMUS KEPABEANAN
Selasa, 16 Agustus 2022 | 17:27 WIB
RESUME PUTUSAN PENINJAUAN KEMBALI
Senin, 15 Agustus 2022 | 19:00 WIB
KAMUS KEPABEANAN
Senin, 15 Agustus 2022 | 12:45 WIB
TIPS PAJAK
Data & Alat
Rabu, 17 Agustus 2022 | 09:00 WIB
KURS PAJAK 17 AGUSTUS - 23 AGUSTUS 2022
Rabu, 10 Agustus 2022 | 09:07 WIB
KURS PAJAK 10 AGUSTUS - 16 AGUSTUS 2022
Rabu, 03 Agustus 2022 | 09:25 WIB
KURS PAJAK 3 AGUSTUS - 9 AGUSTUS 2022
Senin, 01 Agustus 2022 | 16:00 WIB
KMK 39/2022
Reportase

Menko Darmin Sebut Tren Defisit Perdagangan Masih Berlanjut

A+
A-
1
A+
A-
1
Menko Darmin Sebut Tren Defisit Perdagangan Masih Berlanjut

Menko Perekonomian Darmin Nasution

JAKARTA, DDTCNews—Kinerja perdagangan RI mencatat rapor merah sepanjang tahun 2018. Situasi serupa kemungkinan besar akan berlanjut di tahun ini.

Hal tersebut diungkapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution saat ditanya soal prospek perdagangan Indonesia di 2019. Menurutnya neraca dagang tetap akan berada di zona merah seperti halnya tahun lalu.

“Tahun ini belum [surplus]. Neraca perdagangan kita berat di migasnya,” katanya di Kantor Kemenko Perekonomian, Jumat (11/1/2019).

Baca Juga: Kinerja Ekspor 'Sangat Baik', Mendag: Topang Pertumbuhan Ekonomi

Mantan Dirjen Pajak itu memaparkan aspek migas masih akan menjadi penghalang untuk mencapai surplus neraca perdagangan. Untuk urusan membalikkan neraca migas manjadi positif bukan perkara yang bisa dilakukan dalam jangka pendek.

Penerapan kebijakan mandatori penggunaan minyak kelapa sawit untuk bahan bakar solar melalui B20 menjadi senjata pemerintah menekan besarnya impor migas. Namun, butuh waktu dalam transisi penggunaan B20 secara penuh.

“Kalau nonmigas kita bisa surplus, tapi defisit di migasnya terlalu besar sehingga berpengaruh ke total neraca perdagangan,” imbuhnya.

Baca Juga: Kinerja Ekspor Tumbuh 25,31% di Januari 2022, Simak Analisis BKF

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), hingga November 2018, neraca perdagangan mencatat defisit US$7,52 miliar. Defisit sektor migas sebesar US$12,1 miliar terlalu besar untuk ditambal oleh surplus perdagangan nonmigas yang hanya US$4,6 miliar.

Berkaca pada data bulanan di tahun lalu juga tidak terlalu menggembirakan. Tercatat hingga November 2018, hanya pada bulan Maret, Juni dan September neraca perdagangan meraih hasil positif. Sedangkan sisanya berakhir dengan defisit. (Bsi)

Baca Juga: BPS: Neraca Perdagangan Surplus US$930 Juta pada Januari 2022
Topik : menko darmin, defisit perdagangan, kinerja ekspor

KOMENTAR

0/1000
Pastikan anda login dalam platform dan berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.

ARTIKEL TERKAIT

Rabu, 21 Maret 2018 | 08:48 WIB
UTANG NEGARA

Darmin: Utang Ini untuk Bangun Infrastruktur

Senin, 15 Agustus 2016 | 15:21 WIB
EKONOMI MAKRO

Neraca Pembayaran Torehkan Surplus US$2,2 Miliar

berita pilihan

Rabu, 17 Agustus 2022 | 15:30 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Sri Mulyani Sebut Ada Insentif Perpajakan Rp41,5 Triliun pada 2023

Rabu, 17 Agustus 2022 | 14:30 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Tahun Depan, Pemerintah Minta Dividen Rp44 Triliun dari BUMN

Rabu, 17 Agustus 2022 | 14:00 WIB
RAPBN 2023 DAN NOTA KEUANGAN

Tidak Ada Lagi Alokasi PEN di APBN 2023, Begini Kata Sri Mulyani

Rabu, 17 Agustus 2022 | 13:30 WIB
PENERIMAAN PAJAK

Begini Optimisme Sri Mulyani Soal Pertumbuhan Penerimaan PPh Nonmigas

Rabu, 17 Agustus 2022 | 13:00 WIB
HUT KE-15 DDTC

Membangun SDM Pajak Unggul, DDTC Tawarkan Akses Pendidikan yang Setara

Rabu, 17 Agustus 2022 | 13:00 WIB
KEBIJAKAN PAJAK

Pajak Minimum Global Ternyata Bisa Pengaruhi Penerimaan Pajak 2023

Rabu, 17 Agustus 2022 | 12:30 WIB
PENERIMAAN PAJAK

Pemerintah Targetkan Setoran PPh Rp935 Triliun Pada Tahun Depan

Rabu, 17 Agustus 2022 | 12:00 WIB
KAMUS KEPABEANAN

Apa Itu Costums Declaration?

Rabu, 17 Agustus 2022 | 11:30 WIB
KANWIL DJP BALI

Tak Perlu ke KPP Bawa Berkas Tebal, Urus Ini Bisa Lewat DJP Online

Rabu, 17 Agustus 2022 | 11:00 WIB
INFOGRAFIS KEPABEANAN DAN CUKAI

Mengenal Barang Lartas dalam Kegiatan Ekspor Impor